Wednesday, 22 April 2015

TRUST


Ketika seseorang memiliki masalah, ia akan cenderung untuk menceritakan masalahnya kepada orang lain terutama yang dekat dan dikenalnya. Manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk saling memberi, saling menerima termasuk juga dalam berbagi suka dan duka. Pertanyannya, masih banyakkah orang yang bisa dipercaya ?

Di jaman sekarang ini, sangat sulit mendapatkan orang yang tulus dan bisa dipercaya. Banyak orang melakukan sesuatu karena adanya kepentingan, terutama kepentingan pribadi alias memikirkan dirinya sendiri. Apalagi kalau itu menyangkut soal duit, UUD … ujung-ujungnya duit … LoL. Kalau tidak mendatangkan keuntungan untuk dirinya sendiri, say goodbye gitu loh. Tapi rasanya kok tidak etis ya, apabila seseorang hanya menginginkan senangnya saja dan tanpa mau memandang kesusahan orang lain. Golek penaké dhewe alias mencari enaknya sendiri. Setelah mendapat apa yang diinginkan, begitu ada sesuatu malah ngacir. Seperti kata pepatah Jawa, “ Tinggal glanggang, colong playu “. Orang yang benar-benar baik, tidak akan punya sikap seperti itu. 

Semestinya bisa dibedakan ya, mana yang benar-benar tulus, mana yang modus alias hanya memanfaatkan situasi. Mempercayai seseorang adalah sama dengan sikap hati yang “ setuju dengan sesuatu dan menerima ”. Percaya lebih beroperasi di dalam diri kita karena percaya adalah suatu sikap hati alias yakin. Maksudnya, keyakinan itu adalah sesuatu yang menyangkut masalah hati sedangkan percaya itu merupakan sesuatu yang menyangkut pikiran dalam otak kita. Tidak percaya sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, setelah itu baru lah timbul keyakinan dalam hati. Sepandai-pandainya manusia, tidak akan ada manfaatnya jika dia tak punya hati tapi sebodoh-bodohnya manusia tetap ada manfaatnya jika dia punya hati. Betul nggak nih … he he he. 

Dan jujur adalah sebuah kata yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikannya dalam keseharian. Tidak berlebihan bila ada yang mengatakan kejujuran itu semakin langka, bahkan ada yang mengatakan, wong jujur kuwi malah kojur alias sengsara. Sengsara membawa nikmat .... LoL. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya. Yang lebih berbahaya lagi kalau ada orang yang merasa selalu bersikap jujur, tapi tindakan mereka tidak sepenuhnya termasuk dalam kategori jujur. Meskipun di sering bersumpah dengan mengatas namakan Allah, SWT dan ayat-ayat Qur’an. Jenengé menungso opo iki … he he he.

Saya selalu mendengar kata “ iyalah, percaya …”, sebenarnya, jujur aja nih, jarang sekali kita mengerti, apa sih sebenarnya artinya percaya itu ? Percaya beneran, apa nggak nih ? Saya sendiri juga sering mengucapkannya … LoL. Maksudnya sih, hanya tidak ingin memperpanjang topik aja, tidak punya niatan apa-apa, gitu loh. Seringkali, salah mempercayai seseorang akan membuat manusia dengan pendidikan paling tinggi sekalipun jadi terlihat seperti si Oneng, kasian banget ya ... he he he. Saking bingungnya, kadang argumen mereka terdengar seperti di luar logika. Mereka menutup mata dan lebih mendengarkan perkataan secara sepihak dari orang yang menurutnya terpercaya. Ada orang yang maniak banget dalam hal percaya, apapun yang dikatakannya selalu benar dan saat dia tidak mempercayai seseorang, apapun yang dikatakannya selalu salah. Pikiran dan penilaiannya subyektif banget yaa …

Sebenarnya simpel aja, kepercayaan kita pada seseorang tidak hanya dibuktikan dengan kata-katanya saja, tetapi juga dari sikap, perkataan dan perilakunya. Kita dapat melihat apakah seseorang itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak. Sinkron apa nggak, antara kata-kata yang diucapkan dan perbuatannya. Apalagi kalau track record-nya di lingkungan sosial kurang baik. Kalau dipikir lebih jauh lagi, sebenarnya reputasi itu adalah sebuah tanda, trade mark bagi diri seseorang.

Memang sih, mana ada orang yang tidak pernah berbohong ? Semua orang pasti pernah berbohong, termasuk saya …. he he he. Tapi bukan bohong yang merugikan orang lain lho ya, juga bukan untuk kepentingan diri sendiri dan tidak berakibat fatal, apalagi kalau untuk menipu orang lain. Biasalah, manusia kadang kan suka iseng, apalagi kalau lagi ngumpul sama teman-temannya dan pasti ada jahil-jahilnya juga, tapi yang paling penting nggak bermaksud jahat aja. 

Jujur, ada perasaan tidak enak saat orang lain mengira kita berbohong saat kita berkata apa adanya, rasanya gimana gitu, atiku nelongso … he he he. Kalau dihadapkan dengan orang yang menuduh seperti itu, biasanya cuma saya biarkan saja. Mau percaya yaa syukur, kalau tidak percaya ya monggo kerso. Yang penting, saya hanya berusaha bicara apa adanya. Saya tidak akan dan tidak perlu meyakinkan atau menjelaskan ini-itu secara mendetail agar mereka percaya, menggunakan berbagai cara, apalagi kalau memakai sumpah-sumpah segala, nggak banget daah. Kalau mereka mengira saya berbohong, ya terserahlah, itu opini mereka.  Nrimo ing pandum mawon, saya mah orangnya begitu ... he he he. Namanya juga manusia, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka sama kita. Berpendapat itu kan hak setiap orang, iya nggak ? 

Berkata jujur bukan berarti kita mengatakan segala sesuatu pada orang lain secara rinci. Bicara apa adanya kan ada tempatnya juga dan bukan berarti kita sedang berbohong. Misalnya nih, kalau ada yang bertanya saya mau pergi kemana, bila saya jawab mau ke supermarket, saya tidak perlu mengatakan mau beli ini-itu, apa saja dan berapa habisnya. Kita tidak berkewajiban untuk mengatakan segala sesuatunya secara detil pada orang lain. 

Kalau pendapat saya pribadi nih, ada batas-batas tertentu dalam hal mempercayai ataupun tidak mempercayai kata-kata seseorang. Ada saat kita percaya dan ada saat kita tidak harus percaya. Terutama kalau segala sesuatunya di luar logika alias nggak masuk akal. Terutama saat menghadapi manusia-manusia yang suka membual dan punya sifat hasad alias dengki. Jangan sampai kita terhasut, terlarut dan ikut-ikutan membenci seseorang, padahal mereka tidak ada urusan dengan kita. Apalagi kalau sampai mencampuri urusan orang lain dengan sedalam-dalamnya. Entah itu teman atau saudara dekat, walau bagaimana pun semua orang juga punya kehidupan pribadi yang wajib kita hormati.

Berhati-hati dalam mempercayai seseorang itu lebih baik asalkan pikiran kita tetap terbuka. Jadi bisa membedakan mana yang benar-benar bisa dipercaya dan mana yang tidak. Yang terlihat baik, belum tentu benar-benar baik dan yang terlihat buruk, belum tentu buruk. So, don’t judge the book by it’s cover. 

Semoga ALLAH, SWT melindungi kita semua …. ﺁﻣِﻴْﻦُ ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦ


Saturday, 11 April 2015

A JOURNEY FROM THE HEART


Dulu, saat masih kecil, banyak orang tua sering berucap “ Ayo, Le … Nduk, gek podho leren sik, ojo dolanan terus”. Sepintas, kalimat itu memang sederhana. Tapi di tengah hiruk pikuk kehidupan, kalimat itu menjadi penting untuk direnungi. Ya, “ berhenti sejenak ”, kita meluangkan waktu untuk merefleksi diri atau istilah kerennya, self reflection. Entah itu sedikit merenung tentang apa yang sudah kita jalani selama ini dan semua kejadian yang kita alami. Momentum yang tidak hanya terjadi di akhir tahun saja, tapi bisa datang setiap waktu, saat kita membutuhkan. Biasanya sih, setelah kita mengalami hal-hal yang menyedihkan. Jadi, tidak perlu menunggu satu tahun, baru merenungkan nasib kita …. LoL.

Refleksi diri tidak hanya untuk mengevaluasi apa yang telah kita kerjakan, tapi menjadi bagian untuk menjadikan “ hidup kita lebih hidup ”, ibaratnya, mengidentifikasi dan meng-install ulang software di kepala kita yang incompatible alias tidak sinkron. Hidup di sisa usia kita yang seharusnya makin berkualitas dan bermakna. Seiring dengan berjalannya waktu, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun berarti bertambahnya umur dan sudah semestinya sadar akan diri kita sendiri.

Hidup itu dinamis, bergerak seiring dinamika perkembangan jaman. Kalau kita sepakat hidup adalah perjalanan, maka setelah “ berhenti sejenak ” kita harus kembali bergerak ….. move on, beibeh …. he he he. Kita tetap fokus ke depan dan menjalani kehidupan, di samping tetap melakukan koreksi atas apa yang sudah kita lewati, dengan sesekali melihat sejenak apa yang ada di belakang kita agar semuanya terkendali dengan baik. Jujur, saya lebih suka menghitung kesalahan yang telah saya perbuat daripada menghitung kesalahan orang lain. Bukan berarti kejam terhadap diri sendiri lho, not like that … sekedar membuka pikiran aja karena sebagai manusia kita tidak akan pernah luput dari kekhilafan.

Tapi seringnya sih, malah diketawain dan di katain yang sensi-lah … inilah, itulah. Padahal nih, DR. Aidh Al-Qarni dalam bukunya Laa Tahzan, menuliskan, banyak tawa itu mematikan hati. Trus, bagaimana dengan orang yang suka menertawakan kehidupan orang lain ? Mungkin hatinya sudah raib kali yaa, tinggal empedu aja …. LoL. Jangan salah, saya sendiri juga sering ketawa-ketiwi, apalagi kalau lagi bercanda dengan teman-teman. Yang penting tahu diri-lah, jangan sampai kebablasan, ntar dikira pasien RSJ lagi …. He he he. 

Kebanyakan orang tidak mau melihat pada dirinya sendiri dengan apa yang telah dilakukannya. Biasanya sih, apa yang menimpa kita adalah refleksi perbuatan kita pada orang lain. Tuduhan seseorang kepada orang lain sebenarnya merefleksikan perbuatannya sendiri. What you think, that's what you get. Tergantung pada kepribadian masing-masing juga sih, mereka mau sadar atau tidak. Bagi yang tidak menyadari, kesenggol dikit aja pasti sudah ngamuk-ngamuk dan merasa diperlakukan tidak adil, berkoar-koar pada semua orang kalau sudah didzalimi. Padahal mereka sendiri juga suka mendzalimi orang. Simpel aja, kalau suka bohong, suka mengejek, menertawakan atau menjahili orang lain, pasti ada orang lain berbuat hal yang sama. Kalau mereka mau ber-muhasabah, pasti akan menyadari dan menerima perlakuan balik itu sebagai pelajaran untuk kedepannya agar lebih baik lagi. Kalau sadar nih, kalau nggak ya, Wassalam dah … LoL.

Hmm …. memikirkan dan mengejar dunia, sungguh tak akan pernah berakhir. Banyak sekali yang mengukur segala sesuatunya dengan nominal. Uang bisa sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan kita, sebagai sumber daya utama. Dengan uang kita bisa melakukan apa saja dan banyak juga orang yang melakukan sesuatu karena adanya uang, dikit-dikit duit … dikit-dikit duit. Bahune aji banget, awak prahu. Karena keseringan berpikiran begitu makanya sekalinya bertemu dengan orang yang benar-benar baik dan tulus, malah dikira punya pamrih, mau nguras duit. Memang betul sih, mana ada manusia yang nggak demen ama duit, iya nggak ? So am I … LoL. Uang bisa membeli segalanya, termasuk cinta. Itu berlaku bagi para pembeli dan penjual cinta, lho yaa …. Ente jual, ane beli … jiiiaaahhh kayak pasar aja, amit-amit dah … he he he. Tapi kalau mau berpikir lebih jauh, uang tidak akan pernah bisa membeli ketulusan, tidak bisa membeli waktu yang terus berjalan dan juga kebahagiaan.

Tidak ada bagian dari kehidupan yang tidak mengandung peluang untuk belajar, tapi bagaimana anda membuat hidup anda adalah terserah anda. Punya banyak uang, kekuasaan, apa yang anda lakukan dalam kehidupan semuanya terserah anda. Pilihannya ada di tangan anda. Monggo kerso panjenengan. 

Hanya sedikit dari kita yang mau berpaling sejenak pada diri sendiri, menjadikan pengalaman hidup sebagai bagian dari perjalanan agar kedepannya lebih baik lagi. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah, SWT. 

Life is a journey, not a destination …. sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri kita sebagai makhluk-Nya, karena hidup kita pasti juga akan ada akhirnya, Wallahu a’lam bisshawab.


Friday, 3 April 2015

RELATIONSHIP


Biasanya kalau cewek atau cowok pada ngumpul, hal menarik yang menjadi bahan rumpian adalah relationship. Entah itu tetangga, teman, pacar atau kolega sampai dengan gosip-gosip terbaru. Banyak yang suka memposting status, In Relationship atau Open Relationship, entah itu di FB maupun di situs perjodohan. Kalau saya sih, hanya mengenal dua status, single atau married, yes or not … He he he.

Dulu saya mengira arti dari status “ Open Relationship “ adalah kondisi dimana seseorang belum memutuskan apakah dia masih single atau sudah ada yang punya, nggak jelas dan hubungannya terbuka. Terbuka dengan pengertian bahwa orang itu boleh jadi sedang kencan dengan seseorang atau beberapa orang sekaligus tapi masih belum ada yang sah jadi pacarnya. Jadi arti “ open “ di sini saya terjemahkan masih ada lowongan, ada kesempatan dan belum tertutup peluangnya. Bego banget yaa, keliatan kalau bukan pakar hubungan percintaan … LoL.

Saat saya bertanya pada sepupu saya dan beberapa teman, sekaligus dibumbui dengan debat kusir ngaco dikit, mereka malah ngatain saya soto ayam … sotoy alias sok tahu. Ternyata arti dari open relationship adalah kondisi dimana suatu pasangan kekasih yang butuh bantuan amunisi semacam makanan afrodisiak dari orang ketiga karena pasangan tersebut sudah tidak bergairah lagi satu sama lain. Open relationship …  pasangan kurang bergairah yang butuh doping dari orang ketiga … weeleeehhh.

Bagi orang-orang yang mudah jatuh cinta kepada orang lain meskipun sudah punya pasangan, ada satu cara yang lebih terhormat dibandingkan menduakan pasangan. Dua orang yang berkomitmen, namun keduanya masih boleh flirt atau “ jalan “ dengan orang lain. Dengan kata lain, itulah open relationship. By the way, dimana letak terhormatnya coba … ada-ada aja tuh.

Yang pasti, open relationship menurut saya, sesuatu yang kontroversial, definitely not for everyone. Tidak semua orang bisa menerima bahwa pasangannya  “ jalan “ dengan orang lain, meskipun dirinya sendiri juga boleh melakukan hal serupa. Opsi yang telah diambil oleh pasangan manusia yang sudah dewasa, dengan catatan, keduanya memahami  konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil. Nota kesepahaman aneh, MoU … Memorandum of Understanding antar dua insan yang berlainan jenis …. ngelus dada dan geleng-geleng kepala… Jiiaaahhh. Gimana nggak gédég-gédég, itu kan sama aja menduakan tapi dengan ijin. Logikanya, mana ada orang yang mau membagi orang yang dicintainya dengan orang lain, hanya manusia tidak punya perasaan dan maunya having fun aja. Hmmm, kiamat benar-benar sudah dekat nih kayaknya …

Kata “ relationship ” sendiri kalau diartikan kurang lebih adalah ikatan. Banyak yang mendefinisikan relationship ini adalah hubungan percintaan antara dua insan. Padahal, relationship itu bukan melulu soal cinta aja, tapi maknanya luas dan memiliki banyak penafsiran, tergantung dalam konteks apa yang mau diuraikan secara lebih mendalam. Sebagai mahkluk sosial, manusia tentu tidak akan terlepas dari hal sifat alami  tersebut. Membina hubungan dengan orang lain, baik dalam konteks berkelompok maupun secara individu.

Relationship merupakan suatu proses dimana terjadi adanya saling melengkapi antar satu sama lain. Dua orang lebih baik daripada sendirian, apalagi kalau lewat tempat yang menyeramkan …he he he. Jika dilihat dari sisi tersebut, ikatan dan perasaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Tidak bisa dipungkiri kalau kelangsungan hidup kita sehari-hari tidak mungkin akan terlepas dari campur tangan orang lain, dan berhubungan dengan mereka. Meskipun tidak dalam segala hal. Tetap saja, sebagai makhluk sosial kita akan selalu membutuhkan orang lain.

Saya sendiri, meskipun lahir di keluarga yang selalu menanamkan sifat mandiri sejak kecil, tapi yang namanya manusia, tetap saja tidak bisa terlepas dari campur tangan orang lain dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Saya juga menyadari kapasitas dan batasan saya. Seperti contohnya, saat mendapat order, saya akan berusaha untuk mengerjakan sendiri, namun jika saya sudah benar-benar kewalahan, saya akan berbagi dengan mitra saya. Intinya tetap membutuhkan bantuan dari orang lain.

Begitu juga dalam hal pertemanan, sebisa mungkin saya menjaga hubungan silaturrahmi, meskipun jarang bertemu atau berkomunikasi, sebuah ikatan tanpa harus mengikat. Apalagi dengan teman-teman saya yang sudah menikah, yaa tahu diri gitu loh … he he he. Bisa menempatkan diri sesuai dengan porsinya. Saya sering melihat banyak kejadian yang menurut pandangan saya sudah melewati batas. Mentang-mentang dulunya berteman baik lalu seenaknya saja mencampuri urusan pribadi mereka. Biasanya nih, dalih yang digunakan adalah nostalgia, kangen-kangenan sama teman lama, setelah itu mengajak hang out, menawarkan antar jemput kesana kemari, curhat keluarga, menawarkan bantuan lalu ujung-ujungnya mengatur harus begini dan begitu.

Memang sih, sekilas terlihat seperti tidak ada yang salah malahan positif banget. Tapi yang tidak disadari intervensinya itu lho, terlalu dalam. Kalau masih single mungkin tidak jadi masalah, ada yang nraktir, nganter kesana kemari, oke-oke aja dan sering-sering aja yaa …. LoL. Tapi bagi yang sudah berkeluarga, tentunya harus dipikirkan juga kepentingan si suami, si istri, si anak dan juga keluarga mereka. Membantu orang sih, boleh-boleh aja, tapi tetap pada porsinya dong, hargai privacy orang lain. Saling menjaga hati dan perasaan satu sama lain, tahu bagaimana harus menempatkan diri.

Jujur, saya tidak selalu menikmati berkomunikasi atau berhubungan dengan orang sekitar. Entah itu dikarenakan saya saat itu sedang lelah, tidak enak badan atau sedang ingin sendiri atau juga karena keseringan menulis yaa. Tapi bukan berarti saya anti bersosialisasi lho. Saya memang lebih suka menulis daripada berbicara, lebih suka bertindak daripada ngoceh terus-terusan, tapi kalau untuk urusan yang lebih pribadi atau penting, saya lebih suka bertatap muka alias berbicara secara langsung. Face to face, heart to heart and touch … He he he.

Apapun yang terjadi disekitar kita adalah suatu pembelajaran, karena dunia adalah universitas kehidupan bagi manusia yang mau berpikir … tapi nggak perlu dibikin stress lho yaa, enjoy ajjaahh … LoL.

HAVE A NICE LONG WEEKEND …



Tuesday, 24 March 2015

ENJOY SMALL THINGS


Pernah merasa bosan ? Kalau saya yang ditanya, pasti jawaban saya, bukan hanya pernah, tapi sering .... LoL. Banyak orang melalui account Facebook-nya berkali-kali mengunggah foto sedang melakukan berbagai aktivitas. Tentu, semua terlihat ceria ... narsis abis ... he he he. Dan seringkali memposting foto-fotonya yang sedang berada di tempat-tempat yang " wah ". Karena rata-rata saya tidak kenal secara mendalam dan real, saya percaya daah. Mana tahu, kenyataan yang sebenarnya, ya nggak ?

Kata-kata mengagumkan dan ribuan pujian mungkin akan terlontar terhadap para motivator ataupun trainer-trainer yang nampaknya memiliki kehidupan sempurna. Sehingga dari kesempurnaan hidup mereka, mereka akhirnya bisa memotivasi orang lain yang mempunyai hidup yang penuh keterbatasan bahkan penuh penderitaan. Tapi apakah benar seperti itu ? Benarkah mereka adalah orang-orang yang " mengagumkan " dan tanpa cacat alias sempurna dalam setiap sisi kehidupannya ? Nobodys perfect, Guys ...

Hhmm ... lalu, sebenarnya apa sih arti “ menikmati hidup ” itu ? Hidup itu memang cuma sekali, terkadang ada senang dan sedih, susah dan gembira, baik dan buruk, hingga hidup dan mati. Di media sosial, saat ada artis berpose norak, alay dalam foto dan video, ada yang berkomentar,  senorak dan se-alay apa pun dia, dia menikmati hidup. Tasnya seharga ratusan juta, belanja di mal super mewah, rumahnya kayak istana, tiap hari kesana kemari keliling dunia. Daripada ente, duit pas-pasan, rumah petak, makan mie instan, kemana-mana naik angkot mlulu ..... ( gue kesindir neh ........ LoL ) 

Really ? Benarkah " menikmati hidup " selalu terkait dengan materi ? Kalau hanya ngublek uthek di rumah dan di tempat kerja, mungkin akan merasakan benar hal itu. Apalagi saya, rumah jadi tempat kerja juga. Ngeliatnya yang itu-itu aja, emak, bapak, adik, kucing , kompor, oven .... lu lagi ... lu lagi .... he he he. 

Memang sih terkadang semua permasalahan manusia seperti tidak ada hentinya. Satu selesai, besoknya lagi timbul yang baru .... Hhhh, capek deh ... LoL. Tapi walaupun begitu, masih banyak cara untuk mengakalinya. Banyak yang berpikir kalau menikmati hidup itu identik dengan melimpahnya materi, having fun, pesta kesana-kemari, clubbing, dikerubutin orang, templok sana-sini, padahal yang seperti itu nikmatnya cuma sesaat aja. Atau mungkin malah menambah masalah baru kali, yaa ...

Sebenarnya bukan itu inti dari hidup lebih indah, hidup lebih indah itu jika bersyukur atas semua nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Nikmat itu bukan hanya materi, tapi jasmani dan rohani juga. Panas, dingin, banjir, hujan, sehat, sakit, banyak duit, duit pas-pasan .... nikmati aja. Seringkali kita lupa, sibuk membayangkan hidup orang lain seperti apa, jadinya malah tidak menikmati hidup kita sendiri. Taman tetangga memang lebih indah dari taman kita sendiri. 

Kalau menurut saya sih, menikmati hidup itu asalnya adalah keikhlasan. Mau susah, mau senang, sehat, sakit, kalau kita ikhlas menerima, hal-hal seperti itu tidak akan memberatkan kita. Semua dibikin enjoy aja. Kalau terlalu banyak mengeluh, kepala malah semakin bertambah puyeng kliyeng-kliyeng. 

Dulu, saat masih kuliah, saya sering keluyuran sama teman-teman saya. Bukan ke dugem atau ketempat yang " wah ", hanya ke pergi tempat wisata dan resto dengan cara yang sederhana ... patungan bin ngebolang gitu loh ... LoL. Hal-hal kecil yang sampai saat ini masih membekas dalam ingatan dan ternyata teman-teman saya juga merindukan saat-saat seperti di waktu lalu ...saat-saat bersamamu ... jiiaaahhh ....nostalgila.

Karena bukan tipe manusia yang punya banyak keinginan alias muluk-muluk, saat merasa bosan, biasanya saya hanya melakukan sesuatu yang sederhana, misalnya jalan-jalan ke mal walapun cuma sight seeing aja, ke toko buku atau mojok di pojok alun - alun. Tapi, jangan salah sangka yaa, di pojok alun-alun Surakarta Hadiningrat itu ada penjual buku, mulai dari buku langka, jadul sampai buku baru ada. Saya demen banget nongkrong disana, baca buku di bawah pohon sambil liat-liat orang juga ..... LoL. Sesuatu yang beberapa tahun ini jarang saya lakukan. Really miss it .... 

Ketika orang pernah merasakan sakit, mereka akan lebih mengerti makna sehat. Bagaimana rasanya saat diketawain orang, dipermainkan .... sakitnya tuh disini, di dalam hatiku .... he he he. Dari merasakan sesuatu itu, tentunya kita akan lebih menghargai hidup kita sendiri dan juga kehidupan orang lain. Bahwa dalam kehidupan ini lebih menyenangkan jika kita nrimo ing pandum, menerima kenyataan yang ada. Terkadang sesuatu yang baik tidak selalu diberikan dalam packaging yang cantik. 

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Dan lakukan yang terbaik ....


Sunday, 15 March 2015

FEVER


Tentu sudah banyak yang tahu arti kata fever alias demam ini. Satu kata, beribu makna. Dari demam beneran, demam berdarah, demam panggung, demam bola, demam artis, demam dangdut, demam telenovela, demam Korea, dan yang saat ini lagi tersebar di Indonesia, demam India …. LoL.

Nama besar dan popularitas seorang artis atau atlet tidak akan ada artinya tanpa penggemar. Atas dasar itu sejumlah orang beken menganggap fans menjadi bagian tak terpisahkan. Di antara mereka pun berusaha memanjakan penggemarnya dengan cara yang unik. Jauh-jauh datang ke negara lain untuk menyapa para penggemarnya. Indonesia adalah negara yang cukup ramah, sangat “ welcome “ terhadap orang asing, tidak ada kata-kata rasis karena sudah terbiasa dengan perbedaan suku, bahasa dan agama. Jadi, oke –oke aja gitu loh …..

Dulu saat masih kuliah, saya juga terjangkit demam telenovela, demam sinetron Korea dan yang paling lama menjangkiti adalah demam bola liga Italia. Ngefans banget ama Paolo Maldini dan si ganteng berwajah sensual, Alessandro Nesta. Lama kelamaan demam-demam itu menghilang dengan sendirinya, misalnya nggak liat tayangannya juga ora popo, karena nyadar kalau sudah semakin tua kali yaa …  He he he. Saya lebih suka melihat acara memasak dan menonton film. Atau tayangan yang bisa menambah isi otak saya. Tapi gara-gara Ibu saya nih, saya jadi ikut-ikutan terkena virus demam India juga. Kalau dulu sih cuma denger selintas aja, nggak merhatiin banget. Soalnya dimana-mana yang diceritain serial Mahabharata, nggak cuma ibu, tante dan sepupu saya, tetangga juga sering ngomongin serial itu.

Pastilah, semua orang di Indonesia juga sudah mengenal cerita Mahabharata, Ramayana, Bharatayudha dan cerita-cerita perwayangan lainnya, karena memang ada dalam pelajaran sejarah dari SD sampai SMU. Disini juga banyak candi dan situs Hindu peninggalan kerajaan jaman dulu. Saat masih SMP ( kalau tidak salah ) saya juga pernah ngikutin serialnya di TV, tapi yang versi jaman dulu, juga dengan komiknya. Jadi, saat booming lagi versi barunya, saya nggak begitu antusias, karena sudah tahu jalan ceritanya.

Saya baru ngeh saat melihat tayangan acara Eat Bulaga Indonesia, karena diantara para presenternya ada yang dari India alias para pemain serial Mahabharat. Dari situlah, saya akhirnya tahu, kenapa pagi-pagi tiap hari dari Senin sampai Sabtu, ibu-ibu pada betah nongkrong didepan TV, juga waktu tayangan Bollyvaganza. Denger-denger nih artis-artis itu bayarannya lebih tinggi disini daripada di India sana, plus dengan fasilitas dan pengawalan yang top markotop ….. wuuiihhh. Tapi emang pantes kalau dibayar mahal, cakep-cakep sih, lumayan bikin mata melek. Ganteng dan pandai bergoyang, made in India ….. he he he.

Film India sendiri sejak jaman baheula sudah ada di bioskop-bioskop Indonesia. Adik-adik nenek saya juga sering cerita tentang film India. Dulu saya tahunya cuma artis yang jadul macam Amitabh Bachan, Salman Khan, Aamir Khan, Shahrukh Khan, Kareena Kapoor, Aishwarya Rai, Juhi Cawla. Jujur, saya salut sama artis-artis Mahabharat saat ini, mereka sangat antusias datang ke Indonesia dan mempelajari budaya negara kita. Apalagi bahasa yang digunakan para presenter bukan hanya bahasa Indonesia dan Inggris saja. Ada dialek Betawi, Sunda, Jawa dan juga bahasa gaul. Lucu – lucu, juga sekaligus terlihat apa adanya, ketularan gila ama presenter Indonesia, kali yaa. Kesannya beda ama Shahrukh Khan, keliatan ekseklusif dan jaga image banget. Nggak heranlah kalau demam India kali ini mewabah dari Sabang sampai Merauke …. LoL. Fans-nya banyak banget.

Soal mas-mas ganteng nih, di Solo juga banyak, selain Arab disini juga ada keturunan India-Pakistan. Yang jaga parkir di depan Mac Mohan juga namanya Shahrukh …. He he he. Tapi beda sih, nggak kayak mas- mas ganteng berperawakan bodyguard di Eat Bulaga …. Shaheer Sheikh, Vin Rana, Rohit Bhardwaj, Lavanya Bhardwaj dan Saurav Gurjar. Ibu saya ngefans banget ama Shaheer, kalau Saurav, mengingatkan pada almarhum adik saya karena badannya yang sama-sama gede kayak giant. Almarhum adik saya juga demen banget ama film-film India. Makanya ibu saya sampai termehek-mehek melihat Saurav. Bapak saya diam-diam juga menyimak, tahu banget jalan cerita Jodha Akbar …. He he he. Kalau saya sih, lebih suka sama Lavanya dan Rohit Mulyono …. LoL. Saat saya bilang gitu, eh malah dikeroyok massa neh …... pada protes soalnya Shaheer-lah yang paling ganteng. Weeww, suka-suka gue lah yaww …. boleh dong beda pendapat, lagian kan cuma ngefans doang, kagak bakalan jatuh cinta ama mereka, gitu aja kok repot …..wkwkwkwkwk.

Untuk saya pribadi, kalau ngefans nggak bakalan tergila-gila banget, misalnya pasang foto, menjerit-jerit histeris, ngejar-ngejar biar dapet tandatangan ataupun berdesak-desakan untuk melihat. Biasa, lempeng-lempeng mawon dan ora ngloro awak alias tidak perlu menyengsarakan diri. Simpel aja sih, karena mereka nggak bakalan jadi milik saya …. He he he. Ngefans tapi masih menggunakan akal sehat, gitu loh.

Sekian dulu ya, soalnya saya lagi terkena demam, bukan demam Lavanya tapi emang demam beneran alias flu. Nulisnya juga pake semendhe alias nahan kepala …. greges-greges, cenat-cenut, mampet sana-sini …. Hhhh, payah dah. Ngomong-ngomong, satu hal lagi yang saya salut tentang film India, mau sedih, mau seneng, mau jatuh cinta, jatuh bangun, mau sakit, semuanya diiringi dengan nyanyian dan tarian. Kayaknya perlu di contoh tuh …  aseek … aseek …. LoL.


Sunday, 1 March 2015

PERSEPSI DAN OPINI


Dua kata ini bisa dikatakan memiliki kemiripan istilah. Beda arti tapi saling berkaitan, tanggapan dan pendapat.  Setiap hal punya ribuan persepsi yang bisa muncul. Misalnya dress warna hitam yang dipajang di etalase departemen store, persepsi kita, baju itu elegan tapi persepsi orang lain baju itu biasa-biasa aja, dan persepsi orang yang lain lagi, baju itu kusam karena warnanya gelap.  Bisa dibayangkan sebegitu banyaknya persepsi yang muncul dari sebuah baju.

Persepsi memiliki hubungan erat dengan opini, persepsi merupakan salah satu unsur pembentuk opini seseorang. Secara sederhana, persepsi adalah hasil analisa pemikiran atau penilaian kita mengenai suatu atau seseorang, tapi belum dikemukakan alias masih ada di dalam hati. Apabila menyebut pikiran, sudah pasti ada pikiran baik dan ada pikiran buruk. Persepsi bisa timbul dari hati kita sendiri atau dicetuskan oleh pihak lain. Sedangkan opini adalah pendapat, apa yang diungkapkan oleh seseorang. Dengan kata lain, opini dapat menimbulkan kontroversi. Opini akan memunculkan citra personal seseorang melalui suatu interpretasi yang akan menghasilkan opini pribadi, istilah kerennya jaman sekarang pencitraan.

Bagi saya, persepsi adalah sebuah pilihan untuk berpikir positf atau berpikir negatif. Karena sebuah persepsi tidaklah selalu sama dengan kenyataan yang ada. Ada kemungkinan persepsi kita benar dan ada juga kemungkinan persepsi kita salah. Untuk mengetahui kebenarannya hanyalah dengan cara mencoba untuk berkomunikasi dengannya secara intensif. Sangat tidak adil jika kita menilai seseorang secara parsial, yaitu dengan melihat fotonya dan hanya pernah sesekali berbicara. Apalagi kalau kita mengetahui seseorang itu dari hasil penilaian orang lain. Hmm …… Who are you ? Judges ? … LoL.

Dan media sosial adalah salah satu ajangnya karena masyarakat cenderung lebih mudah terperdaya dengan persepsi yang tercetus, yang mungkin awalnya cuma persepsi individu tetapi secara spontan bisa meluas. Jaman yang serba serba canggih ini membantu sebuah informasi disebarkan dengan cepat ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Ada yang menggunakan media sosial untuk tujuan baik dan ada juga pihak yang sengaja menimbulkan persepsi buruk mengenai sesuatu untuk mempengaruhi pengguna-pengguna media sosial misalnya lewat update status, pesan, gambar dan video yang tersebar luas di Facebook, Twitter, Instagram, Blog, Youtube dan sebagainya. Terpengaruh dengan persepsi orang lain, kalau mereka suka, ikut-ikutan suka, kalau orang lain benci, juga ikut-ikutan benci. Mau-maunya jadi jongoswan atau jongoswati, disuruh-suruh melulu ….. he he he. Padahal cuma persepsi sepihak, belum tentu benar. Kalau sudah begini, ceritanya malah jadi berkepanjangan dan menjurus ke arah fitnah ….

Ketika sebuah persepsi menempel di otak kita, itulah pilihan yang sudah kita ambil. Repotnya, tidak selamanya keputusan kita ini berdasarkan kenyataan yang ada. Apalagi jika ditambah dengan pengalaman kita sebelumnya dalam berhubungan dengan orang tersebut. Sekali berbohong, selamanya jadi pembohong, sekali jahat, selamanya jadi penjahat. Begitulah jalannya otak kita. Parahnya, tindakan negatif terhadap pribadi kita ternyata lebih dalam pengaruhnya terhadap persepsi yang sudah kita bangun. Karena persepsi juga identik dengan kepercayaan.

Pendapat saya pribadi, mendingan jujur deh terutama dalam ber-opini. Kalau ada status atau sesuatu hal yang saya suka dan sesuai dengan hati urani saya, pasti saya apresiasi dengan tanda jempol. Yang penting ikhlas-nya, Cuyy. Saya juga termasuk orang yang suka membiarkan orang lain dengan persepsi mereka. Membiarkan mereka menebak-nebak sendiri padahal tidak pernah berinteraksi dan tidak sedikit yang punya persepsi negatif tentang saya. Menghadapi manusia-manusia seperti itu, kalau saya sih nyantai ajjaahh, tidak perlu penjelasan ini - itu karena itu bukan urusan mereka, nggak penting banget. Ada yang suka, Alhamdulillah, nggak ada yang suka ya udah, gitu aja kok repot. Toh, misalnya ada yang bohong, biarlah mereka terperangkap sendiri dengan kebohongan yang telah mereka buat. Kalau persepsi dan opini mereka tidak benar kan fitnah namanya. Lumayan, ngurang-ngurangi dosa ane …. He he he.

Memang sih, berbicara itu mudah dibandingkan dengan bertindak. Suporter itu lebih lihai daripada pemain bola. Dan tidak mudah untuk merubah persepsi kita mengenai seseorang. Lebih susah lagi merubah persepsi seseorang tentang diri kita. Saya sendiri kadang juga punya persepsi negatif ( ngaku nih … ), terutama dengan orang yang baru kenal tapi bertingkah aneh-aneh. Inilah kelemahan sebuah persepsi. Memang persepsi itu lemah karena tidak berdasarkan kenyataan. Ada seseorang yang bisa merubah persepsinya secara mendadak dan ada juga yang memerlukan pembuktian lebih lanjut untuk merubah persepsinya. Kadang kita sering menyerah karena tidak ada perubahan yang signifikan sehingga persepsi kita tetap sama. Ngomong-ngomong, persepsi saya sering jadi kenyataan tuh, intuisi yang menajam kali ya … Jiiiaaahhhh, kayak paranormal aja.

Berhati-hati dengan persepsi dan opini mungkin lebih baik karena dua hal itu dahyat dampaknya. Mungkin jika satu-dua orang bicara hal yang sama, kita tak terlalu peduli. Tapi saat beberapa, apalagi banyak orang mulai bicara yang sama, opini mulai terbentuk. Apalagi kalau informasi itu terus menerus diulang, tak peduli apakah informasi itu kenyataan, abal-abal alias bohongan atau justru hanya ulah seseorang untuk ngejahilin orang lain. Hati-hati bermain dengan persepsi dan opini, karena jika itu sudah menguasai diri, kadang akal tidak bisa bekerja dengan normal lagi. Tak tahu lagi mana benar mana salah, tidak bisa membedakan yang mana realita dan mana yang bukan. Sehingga fakta seringkali diingkari. Tapi kalau ujung-ujungnya menjadi fitnah, dosa ditanggung sendiri lho …… LoL.
  

Tuesday, 20 January 2015

PASSION, HOBBY & TALENT

 

Apa bedanya sih antara passion, hobby dan talent ? Passion itu secara umum diartikan sebagai gairah dan hobby adalah kesukaan. Sedangkan talent atau bakat adalah suatu kondisi dimana menunjukkan potensi seseorang untuk mengembangkan kecakapan dalam suatu bidang tertentu. Talent ada yang timbul tanpa dilatih alias dapat berkembang dengan sendirinya dan ada yang terpendam. Bakat itu pun ada yang berasal dari warisan genetik, ada juga yang diperoleh dari proses belajar.

Biasanya bakat cenderung diturunkan oleh orangtua kepada anak-anaknya bukan hanya lewat DNA saja tapi juga lewat penanaman alam bawah sadar. Yang kedua ini lebih banyak terjadi ketika sang anak melihat bagaimana orang tuanya bersikap, bekerja, bertutur, dan bertindak. Tanpa mengajarkan kepada sang anak secara eksplisit, mereka telah menanamkan bukan hanya nilai-nilai tertentu namun juga kecakapan-kecakapan tertentu lewat kegiatan sehari-hari.

Kalau ditanya apa saja yang saya bisa, jawabannya buanyaak, dari kegiatan cewek sampai kegiatan cowok. Entah karena faktor genetik atau gimana, dari kecil ( waktu duduk di SD ), saya suka sekali membaca dan menulis, terutama diary, cerpen, apalagi puisi. Padahal, saya nggak pernah punya tulisan rapi, eker-eker persis kayak cakar ayam …. He he he. Donald Bebek, Majalah Bobo, Buku Serial Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Jack dan Kacang Ajaib, Cinderella, Heidi Si Anak Gunung, pokoknya semua buku bacaan, termasuk resep masakan, saya sikat abis. Semuanya seperti terdorong begitu saja, tanpa ada yang menyuruh. Dan kalau membaca juga nggak tanggung-tanggung, sepuluh buku cerita nggak sampai sehari juga udah kelar. Bobo dan Donald Bebek nggak sampai setengah jam udah saya operkan ke adik saya. Semakin bertambah umur, kesukaan saya itu semakin merajalela. Bakat ini mungkin, diturunkan Bapak dan Mbah Kakung saya ( dari Ibu ) yang suka membaca dan mengoleksi buku. Tapi kalau soal balapan membaca, Bapak saya kalah tuh, ibarat saya kereta express, bapak sepur kluthuk …. LoL. DNA Mbah Kakung mungkin lebih mendominasi dalam diri saya, sama-sama demen banget dengan seni. Beliau suka main biola dan menulis puisi dalam bahasa Belanda. Salah satunya yang pernah saya baca, kalau nggak salah judulnya “ De Blumen “.

Nah, kalau soal memasak, ini sih lebih melebar lagi genetisnya. Percaya atau tidak, kebanyakan Chef di negara manapun pada umumnya punya DNA tukang masak. Mulai dari kakek, nenek, atau orangtua mereka. Tanya aja George Calombaris, Buddy Valastro, Marco Pierre White dan Chef beken lainnya. Kebanyakan mereka-mereka yang mewarisi DNA ini lebih piawai dan lihai dalam hal masakan. Saya sendiri mewarisi bakat ini mulai dari Mbah Buyut, Mbah Putri dan Ibu saya. Mungkin cuma Ibu yang punya pendidikan culinary, kalau saya sih hanya pewaris resep, pemirsa, pendengar dan pelaku bisnis kuliner aja …. LoL. Banyak yang mengira kalau saya kursus diam-diam … he he he. Padahal nggak pernah tuh kursus memasak ini itu, hanya diajari Nenek saya menggunakan feelings , dasar-dasar pastry, memasak, menakar yang tepat dan membuat masakan “ well done “. Termasuk juga resep rahasia turun temurun. Selebihnya, saya sendiri yang harus mengembangkannya. 

Dan ajaran yang diberikan nenek saya itu ternyata dasar-dasar memasak Classic French. Dulu nggak ngeh, tapi setelah melihat peragaan Chef yang lain, baru deh nyadar …. ternyata kok sama yaa. Tapi jangan dikira gampang lho ya, banyak suka dukanya juga terutama dalam menjalankan bisnis makanan ini. Semuanya nggak serba instan alias melewati berbagai proses, terutama trial and error. Banyak hal yang terkait kalau kita sedang memasak, dari pemilihan bahan, takaran, proses memasak, penyajian, pengemasan. Jadi, bukan cuma tangan aja yang bekerja, tapi otak juga ikut berputar. Dan satu lagi, hati alias perasaan. Memasak kalau setengah hati, nggak bakalan ada enak-enaknya tuh. Ada juga anggapan kalau jam terbang menunjukkan keahlian … wah, salah besar tuh. Chef yang sudah berpengalaman puluhan tahun aja bisa mengacau dan sudah pasti hasil masakannya tidak maksimal. Apa yang sering dilihat di TV tuh banyak editannya dan banyak Chef yang nggak mau mengakui … biasalah, karena udah nge-top … he he he. 

Bakat tiap orang itu berbeda-beda, yang penting kita jangan memaksakan diri, apalagi kalau untuk dijadikan profesi. Karena melihat orang lain menjadi expert dan sukses, lantas kita latah pengen ikut-ikutan. Mengikuti jalan kesuksesan orang memang baik, tapi ya semua itu harus mengalami proses. Setiap manusia punya jalan hidup yang berbeda-beda, sesuai dengan takdir masing-masing. Meskipun secara natural memiliki bakat namun bukan berarti otomatis jadi jago seperti para pendahulunya. Talent juga perlu diasah secara kontinyu. Saya sendiri tidak mengira kalau akan menyelami dunia kuliner. Saya memulai semuanya dari awal, satu mixer dan satu open tangkring ….. he he he. Jadi saya tahu benar susah senangnya. Dari satu label, berkembang menjadi dua label dan saat ini sudah mendapatkan tiga nomor sertifikasi dari Depkes. Meskipun sudah ada keturunan, saya juga masih terus belajar, belajar, belajar, karena dunia masak-memasak itu luas dan tidak ada batasnya.

Mungkin, menulis memang satu-satunya hobi sekaligus passion yang bisa bikin saya punya energi lebih, menjadi terapi efektif ketika saya sedang bersedih. Biarpun honor cuma 15 ribu saat pertama kali nampang di koran sore, rasanya happy banget … era 95-an, 15 ribu gitu loh. Pun ketika novelette saya masuk nominasi meski nggak menang, yang penting dibaca sama Andrea Hirata dan Pipiet Senja …. Hehehe. Menulis bisa membuat saya betah berjam-jam melihat deretan kata-kata, membuat hobi membaca saya lebih meningkat dari sebelumnya. Dan menulis bisa bikin hidup saya jadi lebih bermakna tapi juga membuat saya kadang malah merasa aneh, karena keseringan menulis dan mulut lebih banyak diam. Mungkin juga karena karakter saya yang memang terkadang bisa menjadi agak pendiam. Seperti gamelan, kalau tidak ditabuh, nggak bakalan bersuara …. LoL. 

So far, menjadi tukang masak dan penulis adalah hal terkuat yang selalu bisa menyuplai energi dalam jumlah besar kepada diri saya, tanpa kenal waktu, tanpa kenal kondisi apapun. Tidak peduli badan pegel linu, dapet honor atau tidak, masuk nominasi atau tidak, order besar atau kecil, untung banyak atau sedikit, menulis dan memasak tetap menjadi " vitamin " utama bagi saya. Sesuatu yang selalu saya syukuri …. الحمد لله وا سيوكوريلة