Monday, 15 February 2016

TABAYYUN


Tabayyun …
Kata yang kurang familiar bagi kebanyakan orang, tapi bagi seorang muslim tentunya harus tahu yaa. Meskipun kalau dihitung banyak yang tidak tahu juga. Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu sehingga benar-benar jelas apa adanya, kata kekiniannya adalah cross-check. Di jaman yang serba instan dan canggih ini, setiap insan seperti dihadapkan pada kompetisi dan pencitraan. Biar dikira tidak ketinggalan jaman, kekinian, sehingga siapapun boleh membangun opini, boleh mengkritik, memfitnah, menghakimi, berhak mengeluarkan ide walaupun tidak sesuai dengan fakta dan tidak tahu ilmu.

Berita yang kita dengar dan kita baca setiap waktu, entah itu dimasa lalu ataupun masa sekarang, pasti tidak semuanya benar. Apalagi bila kita mendengarnya dari orang lain, istilahnya MLM alias dari mulut ke mulut … LoL. Awalnya yang hanya sepatah kata bisa menjadi satu baris kalimat, lama kelamaan bisa menjadi satu paragraf, besoknya bahkan sudah menjadi satu jilid komik. Terlebih lagi saat ini kita hidup pada zaman yang banyak terjadi fitnah, hasad, hasut, baik itu dilakukan di dunia nyata ataupun didunia maya. Terinspirasi dari obrolan beberapa waktu yang lalu, meskipun saya sudah terbiasa mendengar kata-kata dusta, difitnah, disindir sana-sini, sedikit tertohok juga nih kalau ada sesuatu yang kurang bener. Dan yang lebih jelek lagi, saya kadang juga suka berprasangka, pengakuan dosa yang lama terpendam … he he he. 

Fenomena yang terjadi di masyarakat entah itu dijaman dulu atau sekarang sepertinya masih sama, cepat meng-understatement terhadap opini atau perilaku seseorang. Suka menilai sesuatu atau seseorang melalui kacamatanya sendiri alias pendapatnya sendiri dan kemudian menyebarkannya ke khalayak. Sehingga yang terjadi adalah mudahnya seseorang men-cap sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Jika seseorang atau siapapun cepat percaya dengan informasi disampaikan dari mulut kemulut maka terjadi kesalahan mengambil keputusan, kesalahan mengkritik dan lebih parahnya lagi terjadi lah fitnah. 

Jika kita tidak tahu fakta dan tak memiliki ilmu dengan sesuatu permasalahan sebaiknya tidak perlu memperkeruh suasana, ikut mengkritik, menyindir, mencela dan memfitnah, apalagi bila hal itu menyangkut kehidupan orang lain. Entah itu pada teman, saudara, tetangga, teman lama, apalagi dengan orang yang tidak kita kenal. Kalau orang itu publik figur, pejabat atau artis, mungkin masih dimaklumi ya. Resikonya jadi orang beken … LoL. Tapi kalau seseorang itu adalah orang yang jarang sekali atau bahkan tidak pernah bersinggungan dengan kita, ini nih yang parah. Kredibilitas yang ada pada diri kita tentunya patut dipertanyakan. Pasti tidak akan ada yang mau kalau diberi julukan si penabur kebencian, si tukang fitnah, tukang bohong atau si tukang sindir. Iya nggak ? 

Seringkali telinga seseorang itu lebih suka mendengarkan kata-kata manis dan pada akhirnya tertipu. Padahal itu hanyalah bunga-bunga kata si pembawa berita, tujuannya agar si penerima kabar senang. Istilah kunonya ABS, Asal Bapak Senang. Terlebih bila ada iming-iming uang, berita yang disampaikan bakalan lebih seru meski tidak ada benarnya. Mungkin juga si pemberi kabar hanya memanfaatkan si penerima kabar untuk tujuan tertentu, sehingga si penerima kabar lalai dan tidak tabayyun. Biar duitnya moprol, mengalir terus ke kantong si pembawa berita. Mengkritik dan mencela habis-habisan orang yang dikabarkan padahal belum tentunya orang dikritik dan dicela itu salah. Apalagi kalau kabar itu adalah cerita yang sudah usang, yang mungkin saja orang yang dikabarkan sudah lupa. Jadi, misalnya diberitakan heboh saat ini pun tidak bakalan menaikkan rating …. He he he.

Rasa percaya yang tinggi ataupun rasa curiga terhadap seseorang yang berlebihan bisa menyebabkan mata dan hati menjadi buta sehingga menghalangi seseorang melihat kenyataan yang sebenarnya. Biasanya orang yang terlalu kaku dan ekstrem seperti itu, tidak mau menerima alasan orang lain, tidak mau mendengar pandangan atau pikiran orang lain dan kurang melakukan pengamatan, karena sudah sangat percaya dengan si pembawa kabar. 

Jika diamati dari sudut ilmu sistem informasi manajemen, informasi yang disampaikan oleh komunikator alias si pembawa berita tidak jelas, tidak professional, tidak kredibilitas maka si penerima informasi akan mendapat informasi error dan tentunya feed back atau responnya juga pasti salah. Dan jelas pihak yang mengalami kerugian adalah si penerima kabar. Dampak dari keterbukaan informasi atau pengaruh dari Declaration of Human Right kali, ya, sehingga semua merasa berhak mengkritik dan memfitnah. Padahal tabayyun ini sangatlah penting dalam kehidupan kita, terutama dalam Islam. Karena segala sesuatu yang diucapkan, di dengar dan disampaikan harus kita pertanggungjawabkan nantinya di hadapan Allah, SWT. Kalau mau hitung-hitungan, pastilah rugi secara material dan spiritual.

Jujur, saya kurang suka dengan orang yang suka melebih-lebihkan cerita, suka menyindir ataupun menghakimi kehidupan dan perilaku seseorang. Apalagi kalau kabar itu tidak rasional, males banget dengernya. Sebagai tukang ketik, semua informasi yang saya tulis selalu harus akurat, jelas, apa adanya, tidak saya tambah-tambahi dan juga tidak saya kurangi. Tapi kalau fiksi lain lah yaa, perlu imajinasi dikit … LoL. Meskipun pendekatannya saya lebih suka mengangkat cerita dari kehidupan nyata. Yang penting kita harus tetap berpikir obyektif, tidak terpancing, tidak terburu-buru dalam menanggapi sesuatu dan tetap perlu tabayyun. 

Kalaupun ada yang memfitnah, mengada-ada atau su’udzon sama saya, ya silahkan, monggo kerso panjenengan. Itu masalah anda dengan diri anda sendiri. Saya mah nyantai aja atuh kalau ada orang yang ngomong ini itu, begini begitu dan begono … LoL. Nggak ngaruh kok, dan saya juga paling cengar-cengir kalau mendengar kabar miring, cuma kabar lurus aja yang bakal saya tanggapin. Kalaupun saya perlu informasi atau mendengar sesuatu, pasti akan langsung saya cari sendiri atau saya datangi sumbernya untuk meng-cross check. Kalau mendengarnya dari orang lain ntar sudah beda lagi ceritanya. 

Tabayyun yang berhasil apabila kita mampu mengungkapkan fakta yang bisa dijamin akurasinya dengan analisis yang jernih. Obyektifitas dalam berpikir dan menghadapi suatu fakta akan membangun kearifan, lebih hati-hati dan tidak sembrono alias gegabah dalam bertindak. Kebenaran-kebenaran informasi yang dihasilkan melalui proses yang obyektif, diharapkan juga akan membangun sikap toleran terhadap orang lain, yang sama-sama menjunjung tinggi obyektivitas. Lebih berhati-hati agar kita tidak menuduh seseorang dengan kebodohan kita sendiri dan pada akhirnya akan menjadi penyesalan bagi kita kelak.

Dengan bertabayyun kita tidak akan mudah menerima informasi atau berita yang palsu. Juga bukan berarti kalau kita su’udzon terhadap orang lain. Ketika berita atau informasi telah disampaikan lebih baik kalau kita mem-verifikasi kebenaran berita tersebut melalui beberapa orang yang sekiranya dapat dipercaya dan dapat mempertanggung jawabkan apa yang dikatakannya atau dari sumbernya sendiri secara langsung. Daripada kita mengira-ira terus, iya nggak ? 

Begitulah arti tabayyun bagi saya. Kalau Pak Ustadz yang menjelaskan, pasti lebih mendetail lagi. Ilmu agama saya masih dangkal bin cethék. Dan saya juga masih terus dan harus belajar. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda semua, terutama untuk si pembuat artikel ini … LoL. Lebih baik pintar merasa, daripada merasa pintar. Dan semoga lebih baik lagi untuk kedepannya … Aamiin. 


Thursday, 11 February 2016

JANJI

 

Ntar aku kasih hadiah, tunggu aja …
Besok aku pasti datang ke rumahmu, jam 2 siang, … 
Nanti malam aku telpon lagi, beneran deh ! Sumpah !
Datang aja kesini, nanti kita jalan-jalan
Besok aku traktir kamu makan-makan sepuasnya …

Banyak sekali contoh di sekitar kita akan hal ini, mereka yang dengan gampang berjanji lalu dengan gampang pula mengingkarinya, sehingga janji tidak lagi mempunyai makna apa-apa. Kalimat demi kalimat mengalir seperti air, lalu menghilang tak berbekas. Teman, saudara, pacar, tua, muda, pejabat, anggota dewan, politikus dan termasuk yang nulis artikel ini nih … he he he. Semua pasti pernah mengingkari janji, entah itu sekali, dua kali dan ada juga yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Yang paling menjengkelkan yang ini nih, kebiasaan ingkar janji.

Dari sudut pandang sosial, apabila seseorang berjanji dan pada implementasinya sering tidak menepati janji, maka hal ini dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan orang lain terhadap diri seseorang. Sehingga dapat dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Bahasa kerennya nih, Pemberi Harapan Palsu alias PHP. Kayak nomor IP Address aja yaa. Dan si tukang PHP ini biasanya enteng banget ngomongnya. Pun ketika dikonfirmasi pasti dia punya sejuta alasan untuk ngelés, sibuk lah, cuaca tidak mendukung, nggak ada duit-lah, inilah, itulah, pokoknya segala macam tampang memelas dan jurus silat lidah keluar semua … LoL. Biasanya nih, janji-janji dilontarkan karena mereka ada maunya alias maksud terselubung. Ada udang dibalik bakwan … He he he.

Yang lebih parah lagi kalau mereka juga menambahkan kata Inshaallah. Ini sering terjadi ketika si tukang PHP ini tidak serius atau hanya sekedar main-main. Sebagai cara untuk pembenaran diri dan mempertahankan argumen. Segala macam sumpah pun tertumpahkan, tidak tanggung-tanggung, kalimat “ Wallahi ” pun ikut terlontar. Di kesempatan ini, mumpung saya masih punya banyak waktu luang, lagi mood menulis dan juga sambil mengingat janji-janji pada keponakan-keponakan saya … he he he. Me-review filosofi Jawa yang sangat terkenal Ajining diri ana ing kedhaling lathi, ajining sarira ana ing busana.

Ajining diri ana ing kedhaling lathi ini diartikan bahwa setiap orang itu dihargai dan dihormati karena lidahnya dalam arti yang lebih luas, bisa menjaga tutur kata, senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan. Tentunya kita tidak bakal mudah percaya dengan omongan orang yang baru kita kenal, apalagi omongan orang yang kita tahu kalau mereka terbiasa bohong alias tukang kibul. Lain ceritanya ketika kita mendengar perkataan orang yang jujur dan setiap tutur katanya baik, maka pastilah kita langsung percaya. Meskipun, sekarang lagi ngetrend kalo orang lebih percaya sama si tukang bohong. Nggak salah sih, karena si tukang bohong dan PHP ini biasanya pandai bermain kata dan memutar balikkan fakta. Lidahnya licin banget, suka minum Oli kali yaa. Pengalaman pribadi nih, sering di PHP-in …

Ada korelasi yang positif antara filosofi Jawa dengan agama. Jika kita tidak bisa berkata baik dan memberi manfaat maka jauh lebih baik bagi kita untuk diam, bukannya malah berbicara yang menghasilkan dosa seperti bergunjing dan mengobral janji. Sesungguhnya yang paling utama bagi kita adalah agar senatiasa mengingat bahwa segala hal dalam diri kita akan dimintai pertanggung jawaban, tak terkecuali lidah, mata, kuping, hati dan yang lainnya. Dan setiap perbuatan itu pasti ada ganjarannya. Lucu aja kalau melihat ada tukang bohong yang sakit hati karena merasa dibohongi. Makanya, ngibul itu jangan dijadikan kebiasaan Cong, bakalan kena batunya dah.

Berbeda dengan Ajining sarira ana ing busana, kalimat ini memiliki perspektif yang berbeda. Dimana untuk filosofi yang kedua ini jauh lebih menonjol pencitraan diri yang bersifat fisik dan duniawi. Ajining sarira ana ing busana diartikan bahwa setiap orang dihargai dan dihormati dari penampilan atau atributnya. Busana disini bisa diartikan secara harfiah maupun turunannya. Secara harfiah diartikan baju atau pakaian dan secara turunan dapat diartikan juga sebagai atribut atau pangkat jabatannya. Itu kan dulu, iya nggak ?

Kalau kita melihat dari perspektif duniawi, sudah sangat jelas-lah. Di belahan dunia manapun orang yang berpakain necis, trendy, elegan dan berkelas langsung pertama kali dilihat orang meskipun sebenarnya dia hanyalah seorang penipu. Selayaknya pejabat yang sangat disegani padahal dia hanyalah seorang tukang obral janji. Jadi cenderung membuat kita tertipu dengan penampilan, tanpa melihat ke isinya yang lebih dalam. Hal ini tentu saja terbalik dengan kenyataan bahwa harga manusia di mata ALLAH, SWT adalah dilihat dari kualitas ketaqwaannya. Harkat dan derajat penerimaan terhadap diri kita yang sebenarnya bukanlah karena atribut, baju ataupun kedudukan kita, melainkan apa yang ada didalam diri kita yaitu, perilaku, jiwa dan hati kita.

Seringkali kita mendengar pepatah janji adalah hutang atau dengan kata lain ketika kita sedang membuat janji dengan seseorang maka sebisa mungkin harus bisa ditepati. Asal bukan janji untuk berbuat maksiat aja yaakk seperti nyuri mangga tetangga … he he he. Karena hutang memang harus dibayar. Jika kita sering mengingkari janji akan membuat kita tidak akan dipercayai orang lain. Tapi bila memang benar-benar tidak bisa menepati janji sebaiknya sesegera mungkin berterus terang dan meminta maaf kepada orang yang sudah janjian dengan kita. Jangan sampai membuat orang lain menunggu karena bisa saja mereka menyempatkan waktu untuk kita, sementara kita mengingkarinya begitu saja tanpa pemberitahuan. Menunggu sampai bertahun-tahun … pilu, Hiks. Memang berat sih, karena tidak semua orang bisa menerima alasan kita. Atau justru malah kita yang dianggap tidak menepati janji dan suka PHP-in orang. Janjimu palsu, gombal mukidi …

Mudah-mudahan kita bukan termasuk seseorang yang suka mengobral janji, karena janji yang tidak ditepati adalah sebuah hutang yang harus dipertanggung jawabkan di hari akhir nanti. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Menjaga lisan dan hati kita, jangan sampai kita terjebak dengan gemerlapnya di dunia karena kemeriahan dunia hanyalah semu. Tidak ada manusia yang bisa menjadi super hero, yang bisa melakukan apapun. Tidak perlu memiliki ribuan janji, cukup satu janji tapi berusaha mewujudkannya dengan sempurna. 

Mohon ma’af bila ada yang tersinggung atau tersakiti dengan tulisan saya yang apa adanya ini. Hanya orang yang suka mengemukakan opini dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia masih terus memperbaiki kualitas diri. Kalau saya punya janji dengan Anda, tagih aja yaak. Tapi kalau Anda yang berjanji, nggak usah takut, saya bukan debt collector janji kok … LoL. 

Semoga ALLAH melimpahkan hidayah-NYA pada kita semua … Aamiin.



Wednesday, 10 February 2016

PUPUS


Kalau mendengar kata pupus, pasti semua pada berpikir, patah hati atau putus cinta. Nggak salah sih karena mencakup soal itu juga … he he he. Tapi sebenarnya definisi kata pupus itu banyak dan tidak melulu soal cinta. Pupus juga bukan berarti putus asa. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, pupus itu berarti apa yang habis sama sekali, hilang lenyap, punah ( harapan). Memupuskan berarti menghilangkan, menghapuskan atau memusnahkan. Nah, dari arti kata tersebut pupus adalah hilangnya atau musnahnya harapan kita terhadap sesuatu karena ada satu hal. Sesuatu yang sudah sangat sulit untuk diperjuangkan atau jalannya sudah buntu. Biar kita jungkir balik, koprol, hasilnya tetap nihil.

Kata pupus sendiri berasal dari Bahasa Jawa, memiliki pengertian, definisi, maksud atau makna menyerah kepada nasib alias mengikhlaskan. Agak sedikit berbeda dengan Kamus Bahasa Indonesia, pupus juga berarti daun muda yang sedang tumbuh atau pucuk daun. Dan kata pupus dalam bahasa Jawa ini hanya gunakan dalam arti positif atau tidak berkonotasi negatif. Jadi ada perbedaan besar antara pupus harapan dan putus asa, meskipun sepintas kata-kata itu bermakna sama, pupus harapan idem ditto dengan pupus asa atau sama dengan putus asa. Kalau menurut saya nih, putus asa itu sudah hilang harapan, apapun yang dilakukan sia-sia aja dan tidak ada gunanya. Biasanya orang kalau sudah putus asa, mereka tidak mau lagi berusaha atau berjuang karena ibarat dido’akan pun juga sudah tidak mempan. Dalam arti kata singkatnya, putus asa juga berarti hilangnya batas kesabaran alias menyerah kalah.

Lain halnya dengan kata pupus. Dalam filosofi Jawa, memupus berarti mengikhlaskan sesuatu yang hilang tanpa kehilangan kesabaran dan harapan. Kehilangan disini bisa berarti harta, benda, keluarga yang meninggal, merasakan sakit atau menghadapi sesuatu yang tidak berkesudahan. Yo wis lah, dipupus wae. Intinya, memupus tanpa rasa dendam dan tetap ber-khusnudzon pada Sang Pencipta dengan apa yang menimpa kita. Merelakan kenyataan dan mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Menurut pak Ustadz nih, tetap sabar dan tawakal.

Sebenarnya ketika kita memupus apa yang telah kita alami dan kita rasakan, kita telah di berikan ilmu untuk meraih sesuatu itu kembali alias ada gantinya. Meskipun, jujur nih, memupus itu sakit juga lho … LoL. Wajarlah karena melibatkan perasaan, from the deep of the heart … hiks. Apalagi bila seseorang itu sudah terlalu banyak mengalami ujian dalam hidupnya, sudah badannya sakit, hatinya disakiti pula. Kalau Allah, SWT yang menguji, mungkin kita akan memperbanyak do’a dan semakin tekun beribadah. Tapi kalau manusia yang menguji, pasti nya tidak bakalan ada yang mau, mendingan ngacir dahh, kayak anak sekolah aja pakai ujian … He he he. 

Hayo ngaku … pasti nih semuanya pada pernah menguji atau istilah gaulnya nge-test. Apalagi anak remaja jaman sekarang nih, kekanak-kanakan tapi gayanya sok bijak. Kalau sedang mencari karyawan mah sudah sewajarnya atuh, memang perlu dites ini itu. Yang agak aneh kalau orang tersebut sedang mencari teman, partner kerja, pacar, suami atau istri. Dan yang biasanya diuji itu kesabaran, kesetiaan, kejujuran dan ketulusan. Bener nggak nih ? Layak nggak ? Pantas nggak ? Hmm, kalau masih dalam batas kewajaran, mungkin bisa diterima ya. Tapi kalau sudah sangat keterlaluan, ini nih yang jadi masalah. Ibaratnya, hari ini menginjak kerikil tajam, besok menginjak kulit durian dan besoknya lagi menginjak paku berkarat ... mana tahaaaan. Manusia dengan kesabaran extra tinggi pun sudah pasti berpikir balik dan memupus. Ya, sudahlah, mungkin memang benar kita tidak layak, tidak pantas dan ada manusia lain yang lebih pantas buat mereka. Jadi ya, ikhlaskan aja.

Jujur, sebagai manusia kita tidak punya hak untuk menguji seseorang, apalagi dalam hal reputasinya. Tidak perlu melakukan ini itu, mesti begini atau begitu. Dengan sendirinya alam-lah yang akan menguji sejauh mana kebenarannya. Kalau kita pada akhirnya tahu kalau orang itu benar-benar tidak baik, kan tinggal dipupus aja, iya nggak ? Anggap saja semua kejadian yang menimpa kita adalah peringatan dari ALLAH, SWT.

Memang sih, memupus perasaan itu tidak semudah apa yang dikatakan para motivator … he he he. Kalau mereka sendiri tidak mengalaminya, pasti mereka tidak bisa merasakan bagaimana rasanya. Bicara mah gampang, yang menjalani tuh yang susah. Tapi banyak hikmah yang kita petik di dunia yang ramai dan penuh warna ini. Yang baik-baik tetap diingat dan yang jelek-jelek, dipupus aja yaa. Karena yang namanya pupus itu lama kelamaan akan menjadi daun, berkembang, menguning, layu dan kemudian rontok. Tapi pupus akan terus tumbuh, sama seperti harapan kita selama kita masih bernapas.

A note to remember, just for my self. Mohon ma’af bila ada kata-kata dan tulisan yang kurang berkenan. Hanya manusia biasa yang masih terus belajar di universitas kehidupan. Diambil yang baik-baik aja menurut panjenengan … Sumonggo.


Friday, 5 February 2016

SOLO, THE SPIRIT OF JAVA

 

Kali ini saya akan menulis sedikit tentang Solo karena saya lahir di Solo dan leluhur saya asli dari sini. Memang sih masa kecil dan masa remaja saya tinggal di beberapa kota di Jawa, ngikutin orangtua on duties. Nikmat dan karunia ALLAH, SWT yang selalu saya syukuri karena bisa mengenal budaya, bahasa, adat dan makanannya. Makanya saya familiar banget dengan kota Jogja, Blora, Semarang, Pemalang, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Tidak bakalan kesasar deh kalau pergi kesana, blusak-blusuk dan semua sudut sudah saya jelajahi. Yang setiap kota itu ada cerita dan kenangan tersendiri, kenangan konyol masa kecil maksudnya … he he he.

Meskipun Solo ada di dalam buku panduan kota yang harus dikunjungi oleh wisatawan, tidak sedikit yang “ gagal paham “ tentang Solo. Karena kota kecil, banyak yang mengira kalau Solo itu kuno, tidak punya fasilitas canggih dan tidak ada Mall. Soalnya, ada yang nulis kayak gitu tuh. Mungkin tidak pernah googling dan nonton TV kali yaa … he he he. Mentang-mentang ada pelarangan mendirikan Mall, dikiranya Solo tidak punya Mall. Cerdas dikit dong, yang bikin aturan siapa, yang melanggar juga siapa. Ada yang bilang ini itu, ngeluh ini itu, mahal banget dan lain-lain. Biasanya sih yang kayak gitu bermasalahnya sama si Abang-abang becak. Ada juga yang bilang, di Solo apa-apa mahal. Itu berarti anda adalah backpackers kikir yang gagal sebagai turis lokal … LoL. Karena biaya hidup di Solo itu paling murah bila dibandingkan dengan Jakarta ataupun kota besar lainnya. Di Solo bawa uang Rp.5000 bisa mendapatkan sepiring nasi dengan lauk plus teh manis hangat. Cuma nasib yang kurang beruntung aja kali yaa, kesasar di tempat mahal. Malu bertanya, ya jangan bertanya ... eh, sesat dijalan.

Solo adalah wilayah otonomi dengan status kotamadya di bawah provinsi Jawa Tengah. Dengan letak geografis diantara tiga gunung, Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Ditambah Sungai Bengawan Solo yang mengalir di tepi kota membuat Solo menjadi menjadi pusat perdagangan dengan tanah yang subur. Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri dan Sragen termasuk wilayah eks Karesidenan Surakarta ( Residentie Soerakarta ). Jumlah penduduk kota Solo perbandingannya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Ada sisa 4 bagi yang ingin mendua … he he he. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/ km₂ ( angka kepadatan penduduk Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km₂ ). Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia. 

Surakarta Hadiningrat, kendati aslinya bernama Sala ( memakai huruf a ) namun dalam perkembangannya berubah dan lebih akrab disebut Solo ( pakai huruf o ). Ini terjadi terjadi karena kesalahan orang Belanda dalam menyebut nama kota ini karena memang lidah mereka tidak seluwes lidah orang Indonesia. Kata mbah Putri saya, ilaté ora iso bengkong alias lidahnya tidak bisa bengkok … LoL. Sejak saat itu tidak hanya orang asing saja, akan tetapi masyarakat Indonesia pun menyebut dengan Solo. Penyebutan ini terasa lebih mudah dilafalkan, dicerna dan memiliki makna yang khas dibanding nama resminya. 

Nama Surakarta Hadiningrat menjadi seperti kalah pamor dibanding Solo karena sikap sang pemberi nama, Sri Susuhunan Paku Buwono II. Surakarta Hadiningrat dianggap mencerminkan watak kekuasaan, kapitalis-kolonial, sementara Solo mencerminkan semangat kerakyatan ( mengakar sebagaimana asal namanya dari pohon Sala ) dan memberi keteduhan, ngayomi pada rakyat. Bagi orang Solo, persoalan nama tersebut bukanlah suatu masalah yang berarti. Persoalan itu hanya muncul dikalangan intelektual akademis saja. Biarin aja dah, mereka pada berdebat sendiri. Faktanya, di dunia usaha nama Solo lebih menjual dan lebih disukai. Selain itu, Solo juga memiliki beberapa julukan diantaranya Kota Batik, Kota Perdagangan, Kota Budaya, Kota Kuliner dan kota yang tak pernah tidur, The city never sleep alias Texas-nya Indonesia. 

Penduduk Surakarta biasa disebut Wong Solo dan istilah Putri Solo adalah sebutan khas bagi para gadis. Sejak dulu terkenal lemah lembut perangainya, bertutur kata halus dan menjunjung tinggi tata krama. Karena pengaruh dari Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan, penduduk Solo rata-rata ramah dan bersikap layaknya priyayi, Tapi, jangan salah sangka, bertutur kata halus bukan berarti tidak galak dan tidak bisa teriak lho yaa … LoL. Karena itulah, tidak sedikit yang mengaku berasal dari Solo, padahal tidak. Maksudnya biar dikira keturunan bangsawan gitu loh. Biasanya nih, dari tutur kata dan perbuatannya sudah bisa ditebak, mana yang benar-benar priyayi dan mana yang abal-abal. Dengan adanya pengaruh dari dua kerajaan itu Kota Solo budaya Jawa-nya masih kental dan terjaga. Meskipun, sayangnya nih, sekarang sudah mulai tergerus kemajuan jaman. 

Selain dihuni oleh Suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Solo. Perkampungan Arab menempati tiga wilayah yaitu Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu. Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah di wilayah itu. Karena semakin padat, banyak juga keturunan Arab dan Tionghoa yang menempati perkampungan lain. Selain Arab dan Tionghoa, ada juga keturunan India-Pakistan, juga warga asing dari Eropa. Tidak heran kalau di Solo banyak keturunan campuran Arab-Jawa, Cina-Jawa, Eropa-Jawa. Bahasa yang digunakan pun ada tiga, bahasa ibu ( asal ), bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Yang terakhir ini nih, yang sering bikin wisatawan lokal pada bengong karena bahasa Jawa mereka medok dan halus banget.

Kebanyakan warga Solo adalah pelaku bisnis di bidang kuliner, batik, barang antik, tehnologi informasi dan furnitur. Pusat bisnis kota Solo terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini. Khusus pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi ditutup bagi kendaraan bermotor karena digunakan sebagai ajang Solo Car Free Day dan juga ajang kuliner. Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik ada di Laweyan dan Kauman. Pasar Klewer menjadi salah satu pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia. Pusat batik lainnya ada di Beteng Trade Center ( BTC ) dan Pusat Grosir Solo ( PGS ). Bagi yang suka nge-Mall, dan hobi nonton di XXI, ada beberapa Mall modern seperti Solo Square, Solo Grand Mall ( SGM ), Solo Paragon dan Singosaren Plasa. Kalau ingin yang agak jauh ke pinggir kota, ada Hartono Mall dan The Park Mall. Dan satu lagi swalayan, yang menurut saya nih, harganya paling murah se-Indonesia, Luwes group ( Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur ). 

Kalau soal kuliner, makanan 24 jam tersaji nonstop. Mulai dari makanan tradisional, western, fast food, sea food, Chinese food, middle-east food, semua ada. Tidak seperti di Jogja yang rata-rata taste-nya manis atau daerah Jawa Timur yang rata-rata asin, di Solo makanannya berada ditengah-tengah, tidak manis, tidak asin dan juga tidak pedas. Asal tahu aja, makanan di Solo itu mengenal pakem alias jam saji. Makanan yang keluar di siang atau pagi hari, tidak bakalan Anda temui di malam hari. Makanan yang biasa ditemui di pagi hari biasanya nasi liwet, soto kuali, bubur lemu, pecel ndeso, cabuk rambak, ketan bubuk juruh, lenjongan. Yang tersaji di tengah hari biasanya bakmi thoprak, selat solo, timlo, bakso, sup matahari, thenkleng, sate buntel, tongseng, sate kambing dan es puter tradisional. Kalau malam hari ada soto kuali dan nasi liwet juga, gudeg ceker, bakmi jawa, wedang dongo, wedang asle, wedang ronde, wedang kacang dan yang paling beken nih, HIK alias hidangan istimewa kampung. Kalau di daerah lain, HIK biasanya disebut angkringan. Dijaman Ibu saya, dulu HIK itu dipikul dan penjualnya keliling kampung, tapi sekarang tidak. Kebanyakan HIK sudah menetap di suatu tempat. Dan di Solo, disetiap sudut ada warung HIK. Tinggal pilih aja, mau yang dipinggir jalan atau HIK yang sudah bersolek seperti resto. Umumnya menyajikan berbagai makanan kampung seperti nasi kucing, nasi oseng, aneka sate tusuk, wedang jahe gepuk, wedang uwuh, teh oplosan, wedang susu jahe, kopi tubruk. Yang jelas jumlah makanan yang tersaji biasanya lebih dari 20 jenis.

Bagi yang doyan ngemil, banyak toko-toko kue yang menyajikan snack khas Solo dan tentunya tidak bakalan ditemui di daerah lain seperti roti kecik, roti pongge, serabi notosuman, intip goreng, pia balong, serundeng, brem dan ampyang. Umumnya took-toko kue di Solo adalah pemain lama alias sudah ada sejak jaman Kolonial Belanda dan masih tetap exist sampai sekarang. Sebut saja toko roti Orion yang terkenal dengan kue Mandarijn-nya, Roti Ganeps dengan roti kecik-nya, Primadona dengan kue bangket-nya, Merani dengan roti semir-nya. 

Mengenai transportasi dan penginapan di Solo, ada Internatioanal Airport, Stasiun Kereta Api dan Terminal Bis. Angkot, Batik Solo Trans ( BST ) dan Taksi juga banyak yang beroperasi. Untuk taksi, lebih cepat datang kalau kita tahu nomor panggilannya. Bukan karena armadanya sedikit, tapi banyak yang menggunakannya alias full booking. Hotel mulai dari bintang lima sampai homestay dengan tarif yang murah pada bertaburan, soal harganya, saya tidak tahu pasti karena saya bukan petugas pariwisata … he he he. Bisa di klik di internet dengan mudah dan tinggal pesan aja.

Begitulah sekelumit kisah tentang Solo. Masih banyak yang belum saya tulis, terutama tentang tradisi. Lain kali aja ya, capek nih tangannya … he he he. Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi Mas, Mbak dan Adik-adik yang hobi travelling dan doyan makan. Bagi yang belum pernah datang ke Solo, monggo katuran pinarak … 




Thursday, 4 February 2016

FREAK & OVERACT


John, kau bagai gelombang
Kudiam kau datang
Kukejar kau hilang

John, kejamnya hatimu
Kudiam kau benci
Kusapa kau benci

Engkau seganas gelombang bila kuabaikan dirimu
Engkau menyakitkan hati bila kuharapkan dirimu

Penggalan lirik lagu jadul yang dinyanyikan Arie Koesmiran ini pasti tidak familiar ditelinga anak-anak jaman sekarang. Kalau di jaman ABG … Angkatan Babe Gue, ngetop banget tuh. Perilaku aneh bagi orang yang sedang dimabuk cinta. Gimana nggak aneh, katanya suka kok mengingkari, cinta tapi kok malah menghindar. Bahasa gaul-nya lebay … lebay … lebay, maunya opo seh … he he he. Tapi bisa dimaklumi juga karena biasanya orang yang sedang kasmaran tuh sering bertingkah aneh alias konyol, termasuk saya …. LoL.

Tapi kali ini, topik yang saya tulis bukan kisah saling kejar antara dua insan yang sedang dilanda cinta lho yaa, melainkan tingkah laku manusia yang saya anggap aneh dan berlebihan. Mungkin bukan saya aja, tapi juga bagi Anda semua. Seringkali kita menjumpai orang di sekitar kita entah itu teman, saudara, tetangga, pacar dan lain-lain, tiba-tiba bersikap aneh di depan kita. Kita mungkin merasakan situasi aneh tersebut tapi tidak mengerti kenapa ? Tiba-tiba marah, menghindar dan mendiamkan kita berabad-abad tanpa sebab. Sikap mereka terlihat berlebihan dan dramatis banget. Sekarang begini, besoknya begitu, besoknya lagi begono. Orang yang tuna wicara aja kepengen bisa ngomong, yang bisa ngomong malah membisu. Kalau ada sebabnya, misalnya pernah tersakiti atau tersinggung, mungkin orang lain menganggapnya wajar. Tapi kalau tidak, itu perilaku aneh atau ada gangguan kepribadian ?

Apa yang terlintas dalam pikiran anda jika mendengar kata “ gangguan kepribadian ” ? Mungkin sebagian dari anda menganggap bahwa gangguan kepribadian sama dengan gangguan jiwa alias gila. Nggak sama kok, tapi kalau sakit jiwa sih, kayaknya iya. Oops, just kidding … he he he. Gangguan kepribadian itu perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain dengan kaku. Kekakuan itu-lah yang menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri, mempersulit orang lain yang ingin berinteraksi dengan mereka. Terlalu berlebihan dalam bertindak dan mengambil sikap, terutama dalam mengatasi masalah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Yang namanya makhluk hidup, pasti saling membutuhkan satu sama lainnya. Simbiosis mutualisme antara manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai makhluk sosial, manusia harus ada keseimbangan antara Hablumminallah dan Hablumminannas. Sifat dan perilaku seseorang biasanya dipengaruhi oleh pola asuh dari orangtua, lingkungan dan sikap masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Perilaku setiap orang pastilah berbeda-beda, tidak ada yang sama. Bahkan dalam satu rumah, satu saudara kandung pun punya perilaku yang berbeda. 

Kita mungkin sering melihat banyak orang dengan atribut keagamaan, pendidikan yang tinggi atau juga berwajah rupawan. Tapi dalam kesehariannya berperilaku tidak menarik, misalnya sombong, mudah marah, suka berkata-kata kasar, suka mengumpat, menyindir, menghina dan suka mencela. Tampilan fisik yang rupawan tidak akan menarik jika tidak disertai dengan perilaku yang baik. Apalagi kalau mereka sering bermuka masam dan tidak pernah tersenyum, sekalinya mau bicara, nadanya menyakitkan hati, centha-centhe, nylekit banget …. Huuaaahhh. Orang jadi takut kalau bertemu dengan manusia seperti itu. 

Tentu, setiap orang pasti ingin mendapatkan kesan atau image yang baik karena itu adalah fitrah sebagai manusia. Ada dua sudut pandang mengenai diri manusia. Yang pertama adalah sudut pandang dari diri kita sendiri dan sudut pandang dari orang lain. Bagaimana orang lain memandang kita atau siapakah kita menurut pandangan orang lain. Masing-masing mempunyai penilaian tersendiri. Ada yang menganggap dirinya super baik dan ada juga yang menganggap bahwa dirinya paling benar. Tetapi kok tidak ada ya, yang menganggap bahwa dirinya sendiri itu aneh, sombong, angkuh, galak, bermulut tajam, suka mencela, kejam, sadis, ratu tega atau raja tega. Yang ada adalah orang lain yang memandang mereka seperti itu.

Bertingkah berlebihan bukan hanya berlaku bagi orang yang ceriwis, suka ketawa ngakak, suka bergosip tapi juga dalam sikap yang lain. Orang yang berperilaku aneh itu biasanya pendiam, introvert, narsis, tidak suka dikritik, tidak mudah percaya, suka meremehkan, selalu menjaga jarak dengan orang lain karena merasa dirinya yang paling hebat dan paling pintar. Umumnya mereka juga diam-diam gila pujian, tidak suka memperhatikan orang lain tapi selalu menuntut orang lain agar memperhatikan, mengerti dan memahami mereka. Dan biasanya nih, mereka juga seorang pendendam. Nah lo, yang terakhir ini nih, yang paling serem. 

Pepatah mengatakan “ Dengan siapa kamu berteman, seperti itulah adanya dirimu “. Dalam hal ini ketika seseorang bergaul dengan teman–temannya, maka dia pun akan melihat bagaimana perilaku teman–temannya itu. Langsung bisa terlihat kalau orang itu berperilaku wajar, buruk, baik atau berperilaku aneh apabila berkelompok. Seseorang bisa saja merubah atau bahkan berubah perilakunya karena faktor tersebut. Bisa jadi dia menemukan kecocokan dengan pertemanannya itu atau sebaliknya, merasa tidak ada kecocokan dengan mereka. Kalau bersama habitatnya mereka terbuka luar dalam, nerocos kiri kanan tapi kalau bukan dengan habitatnya, mereka menjadi orang yang irit bicara dan menjaga jarak. Sesama lebay dilarang saling mendahului … LoL.

Orang dengan perilaku yang wajar pasti jalan pikirannya sehat. Mampu berpikir dengan jelas, bisa menerima kritikan, tidak mudah su’udzon atau berprasangka jelek, mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidup, menikmati hubungan baik dengan teman-teman, rekan kerja, keluarga dan merasa nyaman secara spiritual serta membawa kebahagiaan bagi orang lain. Sehat mind, body and soul. Itu tidak berlaku bagi manusia dengan perilaku aneh, mereka susah sekali berinteraksi dengan orang lain. Perilaku mereka yang aneh pastinya akan susah diterima oleh kebanyakan orang. Kesan pertama sepertinya baik, karena mereka memberi label dirinya sendiri kalau mereka adalah orang yang super baik. Tapi lama kelamaan menjadi terlihat aneh dan berlebihan. Kalau mereka sudah mempercayai orang, biar itu maling atau rampok pun mereka percaya. Tapi sebaliknya, kalau sudah membenci orang, meskipun orang itu baiknya melebihi dermawan, mereka akan membenci sampai seakar-akarnya dan sedalam-dalamnya. Kata pak Ustadz, orang dengan perilaku seperti itu ibaratnya mata dan telinganya dikencingi setan. Wiiihh … ekstrem banget yaa ... Na’udzubillahi min dzalik.

Saya sendiri sering banget bertemu dengan manusia berperilaku aneh seperti itu. Sebenarnya sih sangat sepele masalahnya, hanya soal pesan alias sms. Saat kita mengirim sms atau email, meskipun tidak segera, pastilah ingin mendapat balasan dan bukan hanya di-read aja, apalagi kalau isi pesan itu penting. Manusia dengan perilaku aneh pasti akan ngelés kalau kita mengkonfirmasi mengapa dia tidak membalas. Dengan alasan sibuk-lah, tidak ada waktu, tidak tahu kalau ada pesan masuk, sms kita tidak terkirim, hp sedang dimatikan, inilah, itulah, seribu satu alasan selalu digunakan. Sekali, dua kali atau tiga kali kita mungkin bisa memaklumi, tapi kalau selalu seperti itu ? Orang yang masih punya otak waras dan punya perasaan pasti mengira kalau memang ada yang tidak beres dengan perilaku mereka. Apalagi bila kita tahu kalau mereka itu pengidap Autis, ituu manusia yang tidak bisa lepas dari handphone … LoL. Saat orang lain sibuk menyimak ceramah, mereka malah asyik sendiri dengan gadget-nya. Jadi, alasan mereka yang sibuk 360 jam itu terlihat mengada-ada dan berlebihan. Bagaimana tidak, handphone tidak pernah lepas dari tangan dan penglihatan kok bilangnya tidak tahu atau sibuk, dibaca tapi kok dibilang tidak terkirim, aneh kan ? Yang lebih lucu lagi kalau orang lain melakukan hal yang sama terhadap dirinya, mereka ngamuk-ngamuk tidak karuan. 

Secara pribadi, saya sih bisa memaklumi manusia dengan perilaku seperti itu. Di belahan dunia manapun tidak bakalan ada orang yang mempunyai sifat yang sama, meskipun perasaan saya agak gimana lah ... Baper dikit. Dipupus aja, mungkin bagi mereka kita bukan orang penting, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan tidak selevel dengan mereka. Jadi mereka juga tidak perlu membalas atau mempedulikan pesan kita. Kalau soal diremehkan orang, saya sih sudah biasa. Sadar diri gitu loh, saya mah apa atuh … hiks. Hal-hal yang tidak bisa saya terima adalah kalau saya diberi amanah oleh orang lain untuk menyampaikan pesan itu, otomatis si pemberi amanah akan mengira kalau saya tidak menyampaikan pesannya. Jadinya kanan kiri, depan belakang, maju kena, mundur kena … Hadeehhh. 

Jujur, mungkin tidak sedikit orang yang menganggap saya manusia aneh, ngaku nih … he he he. Ada juga yang mengatakan kalau saya banyak tingkah, berlebihan, dramatis atau apalah. Yaah tidak apa-apa, saya terima dengan ikhlas kok, penilaian dan penghakiman mereka. Saya menyadari pasti ada yang merasa tersakiti, entah itu lewat kata-kata, tulisan atau perbuatan, sengaja atau tidak sengaja, terlihat atau tidak terlihat ( mohon ma’af lahir batin … ), meskipun saya mengemukakannya dengan jujur. Saya juga tahu kalau tidak semua orang itu bisa menerima kejujuran saya. Kalau saya memilih diam, bukan berarti sudah tidak peduli atau tidak mau bicara. Saya hanya tidak mau salah-salah ngomong lagi. Begini salah, begitu salah, karena pada akhirnya saya juga yang bakalan tersakiti. Atau mungkin saja saya benar-benar punya perilaku aneh, tapi nggak sakit jiwa lho yaa … LoL. Sebagai manusia, kita semua jauh dari kata kesempurnaan, banyak melakukan kebodohan dan sering khilaf. Kritikan dari orang lain saya anggap sebagai sarana untuk koreksi diri untuk perbaikan ke depannya.

Tidak bermaksud untuk menyinggung atau menghakimi orang lain. Self reminder untuk diri saya sendiri seandainya saya lupa. Semoga ALLAH, SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua …. Aamiin. 
Sedoyo kalepatan nyuwun agenging pangapunten. 



Aku tidak sebaik yang kau katakan
Dan tidak seburuk yang kau kira

~ KAHLIL GIBRAN ~

Thursday, 21 January 2016

ACCEPTANCE



Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. 
Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya. 

Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi. 
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. 

Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari ( meski sambil menangis ) di tengah kabut. 

Dan itu sungguh tarian indah, tarian penerimaan. 

~ DARWIS TERE LIYE ~ 



Selama masih ada detak nafas kehidupan, setiap orang pasti dan akan menghadapi yang namanya musibah. Apapun itu bentuknya, besar ataupun kecil. Rasa sakit, kekecewaan, kehilangan, kegagalan, ditinggalkan atau jodoh yang tak kunjung datang …. Hiks. Dan keragaman bentuk musibah itulah yang akan membentuk kepribadian seseorang, terkait dengan bagaimana sikap orang itu dalam menerima setiap musibah yang menimpanya. 

Konon katanya nih, seseorang yang tengah menghadapi rintangan yang berat, terkadang hati kecilnya membisikkan agar berhenti, menyerah alias berputus asa. Dorongan hati kecil itu selanjutnya akan menjadi keinginan jiwa. Dan jika keinginan menyerah itu ditahan, ditekan dan tidak diikuti, maka tindakan ini merupakan bentuk dari hakikat penerimaan yang mendorongnya agar tetap melanjutkan usahanya walaupun harus menghadapi berbagai rintangan yang berat. Dia akan terus berproses untuk menjadi apa dan siapa pun yang dicita-citakannya dalam suka dan duka. Dengan berbagai cara ia akan terus mencari dalam bentuk kreativitas untuk selalu berbuat sesuatu, kapan dan di mana pun ia berada. 

Penerimaan disini dalam arti menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Menerima bukan berarti pasrah begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Di kala sedang terhimpit kesulitan, kita bisa belajar bagaimana agar kita ”sekarang” bisa berbenah agar di masa mendatang bisa terhindar dari kesulitan dan bagaimana kita akan menghadapi setiap kesulitan jika hal itu terjadi lagi. Atau, bagaimana kita bersikap dengan sikap yang terbaik ketika musibah menjadi sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. 

Ada yang menanggapi sikap penerimaan kita secara negatif dan ada pula yang menanggapinya secara positif. Saya sendiri juga mengalaminya kok. Biasanya tanggapan negatif berasal dari orang-orang yang tidak mengenal kita secara langsung. Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik. Hidup ini penuh dengan keindahan dan pengharapan. Sudahlah, apapun opini mereka saya terima aja, sabar dan tawakal gitu loh. Istilah kerennya, whatever … terserahlah orang mau bilang apa … he he he. 

Ada banyak hal yang saya alami, diantaranya rasa sakit. Kalau rasa sakit yang lain tidak perlu saya ceritakan yaa, biar ALLAH, SWT aja yang tahu … LoL. Bagi sesama penderita Hipertiroid parah, pasti tahu rasa menyiksanya tuh seperti apa ? Apalagi kalau sedang kambuh, jangan tanya dah. Mulai dari tremor, kepanasan, kepala pusing seperti mabuk kapal laut, diare, mual, tulang-tulang sendi seperti ditarik-tarik, mata tidak tahan sinar, belum lagi hoak hoek karena napas menjadi berat. Duduk nggak kuat, jalan juga sempoyongan dan satu-satunya hiburan cuma tidur, itupun juga tidak nyenyak. Pokoknya nggak ada pilihannya sama sekali. 

Satu-satunya jalan yang saya lakukan adalah menerima, mungkin itu yang terbaik daripada mengeluh kesana-kemari. Bukan karena sok tegar atau apa gitu, sebagai salah satu bentuk kalau saya tidak menyerah begitu saja. Sebagai manusia biasa, jujur, saya juga banyak cengengnya, sering nangis kalau sendirian. Apalagi saat merasakan sakit yang luar biasa, orang lain malah menganggap saya ngeles dan hanya cari-cari alasan untuk menghindar atau ingin mendapatkan belas kasihan. Wah, nggak banget lah yaa. Padahal, saya kalau bilang sakit berarti sudah nggak kuat lagi tuh, Profesor yang merawat saya aja keder kalau saya sakit … LoL. 

Kita berhasil karena berikhtiar. Orang sakit pergi berobat, nelayan menebarkan jalanya, petani menanamkan benih, penulis mengisi pena-nya dengan tinta. Ini adalah prinsip sederhana tentang ikhtiar. Tak sebuah kata bisa tertulis dari pena yang kosong. Orang yang sakit tidak akan sembuh kalau tidak minum obat. Ikan tidak akan didapat kalau nelayan tidak menebarkan jala dan menunggunya. 

Bersyukur pada akhirnya akan menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin berkata bahwa kita tidak realistis. Namun, bersyukur adalah sikap menerima kenyataan. Kalau sedang sakit, kehilangan sesuatu atau tertimpa musibah lainnya, terima aja dan jangan pernah menyangkalnya. Tak ada yang meringankan hidup selain sikap menerima. Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kita menerima. Semakin sering kita mengingkari, semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri sendiri. Banyak orang terpaku pada penderitaan dan kegagalan lalu mengingkarinya. Padahal salah satu jalan untuk mengurangi rasa sakit adalah menerima kenyataan. 

Tulisan ini saya dedikasikan teman-teman dan saudara yang senasib seperjuangan, terutama untuk diri saya sendiri yang sering cengeng, mellow, agar tidak tergoda setan yang terkutuk … he he he. Tulisan pertama saya di tahun 2016, yang saya tulis dengan susah payah, sempat over pede karena kemarin saya tahan online lebih dari 1 jam. Dan sekarang 45 menit, punggung pegel linu, pusing, sudah mulai hoak-hoek lagi. Mungkin besok mesti berikhtiar lagi ke ahli Endokrinologi. 

Akhirul kalam, mohon maaf bila ada kesalahan tulis dan kekhilafan kata-kata. Semoga yang sedang kesakitan segera diberi kesembuhan oleh ALLAH, SWT dan kita semua selalu dilimpahi Rahmat, Taufik dan Hidayah-NYA … Aamiin Yaa Rabbal Alamin. 




Tuesday, 13 October 2015

The Meaning of Life



Mungkin, banyak orang yang sering berpikir dan bertanya, apa sih arti kehidupan ini? Kenapa sih kita harus hidup di dunia ini ? Untuk apa kita berdo’a ? Jika dicermati sedemikian rupa atas pertanyaan-pertanyaan itu, maka akan banyak sekali jawaban. Satu dengan lainnya bisa saja bertentangan, tidak sama atau bisa saja mirip. Jawaban tentu bergantung pada ilmu dan akhlak orang yang menjawabnya. Juga terletak pada nilai kemaslahatan dan manfaatnya. Jika kita menjalani dan memahami hidup dengan benar, dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Bagi sebagian orang kehidupan adalah uang dan kesenangan. Jadi setiap detik dalam kehidupannya digunakan untuk mencari uang dan bersenang-senang. Jika tidak ada uang, ia seperti kehilangan hidupnya. Ada pula yang menjawab bahwa kehidupan adalah kedudukan atau pangkat dan jabatan. Mereka yang menganggap bahwa dunia adalah titik akhir, sehingga terus mencari kesenangan dunia. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita hidup hanya sekedar mencari makan, hidup sekedar untuk hidup, bekerja sekedar untuk bekerja, hanya mencari materi duniawi, uang yang banyak, kendaraan mewah, rumah bak istana dengan jumlah yang banyak dan pendamping yang rupawan ? Apakah hidup ini cukup dengan hanya memiliki nama dan pengakuan dari orang lain ? 

Wajar jika manusia suka kepada dunia, orang biasa, alim ataupun ulama, apalagi manusia seperti saya … he he he. Makan, minum, belajar, bekerja, istirahat, olahraga dan sebagainya. Semuanya adalah bagian dari kehidupan kita, sebuah ketentuan yang telah dikehendaki oleh Allah, SWT. Semuanya yang namanya manusia memandang indah wanita, pria, anak-anak, harta benda dan kekayaan yang melimpah. Menurut Buya Hamka nih, jika kita hidup sekedar untuk hidup, babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja, Banyak orang yang secara materi berlimpah, memiliki jabatan tinggi, suami yang ganteng, istri yang cantik, seakan serba serasi dan terlihat seolah-olah hidupnya bahagia, tapi sebenarnya banyak diantara mereka yang hatinya kosong. Hmm … hanya sekedar pencitraan di depan orang lain kali yaa, dunia ini panggung sandiwara … LoL. Pada kenyataannya, suami kemana, istri kemana dan anak juga kemana. Semua harta yang mereka miliki seolah tak mampu membuat mereka bahagia dalam arti yang sesungguhnya. 

Arti kehidupan bagi penghuni kolong jembatan tentunya juga berbeda. Kayaknya mereka happy-happy aja tuh dengan cara hidup mereka. Bagi mereka arti kehidupan adalah ada tempat untuk berlindung dan makan ala kadarnya. Iyalah, gimana nggak happy, mereka tidak perlu membayar tagihan listrik, telepon, air minum dan pajak ini itu. Hanya satu yang bikin mereka nggak happy, petugas Satpol PP … LoL. Teman saya ada yang lebih aneh lagi, hidup baginya adalah kesempurnaan. Jadi, apa-apa dia maunya yang perfect dalam segala hal, terutama soal pendamping hidup. Sampai saat ini teman wanitanya selalu berganti-ganti terus sampai tak terhitung. Dia bosan lalu tinggalkan, bosan tinggalkan, begitu terus seolah tidak ada yang pantas semua. Dikatakan playboy atau penjahat wanita, dia tidak terima, lucu ya. Tapi kalau melihat yang seperti itu malah miris jadinya, kesannya jadi melecehkan seorang wanita. Apalagi usianya juga sudah berumur ( lebih tuaan dikit dari saya … he he he ), seharusnya dia sudah settle down dengan seseorang, jadi saya hanya bisa mendo’akan, semoga umurnya cukup dalam pencariannya itu. Tobat nasuha, Bro … LoL.

Saya sendiri kalau ditanya tentang arti kehidupan pasti akan saya jawab, Life is a journey. Kalau ada yang ngeyel, where’s the map ? Peta-nya sudah ada kok, tinggal menunggu petunjuknya aja … he he he. Karena sudah sering mendapatkan “ perhatian “ dari ALLAH, dengan berbagai peristiwa, saya lebih suka menjalani hidup apa adanya, tidak ngoyo ataupun iri dengan kehidupan orang lain. Setiap manusia kan sudah ada suratannya masing-masing. Tapi kalau ada orang yang iri, dengki atau jengkel dengan kehidupan saya ataupun merasa terganggu dengan eksistensi saya, silahkan aja, itu masalah Anda. Apapun pandangan Anda terhadap kehidupan saya, monggo kerso panjenengan … LoL. Semua yang terjadi pada kehidupan saya adalah takdir yang sudah ditentukan dan tidak mungkin saya bisa mengelak. Yang penting, saya terus belajar, banyak-banyak bersyukur, berusaha berbuat yang terbaik dan tahu ke mana arah tujuan saya. Kalau kita melakukan hal-hal yang baik, tentunya lingkungan di sekitar kita akan terkena dampak baiknya juga. 

Kecenderungan sifat manusia adalah tidak pernah puas, takabur dan riya’. Baru diberi sedikit kenikmatan aja sudah sombongnya minta ampun, sudah merasa diatas angin. Padahal sesuatu yang berhubungan dengan duniawi dalam sekejap bisa musnah bila ALLAH berkehendak, tanpa banyak bicara dan tanpa peringatan. Pun dengan kesehatan, mungkin sekarang kita dalam kondisi sehat segar bugar, namun tak tahu kapan akan jatuh sakit. Bisa saja saat ini berlimpah harta benda, tapi besok, siapa tahu harta itu bisa musnah. Tidak ada yang tahu seberapa lama hidup kita dan tidak ada yang pernah tahu, bagaimana nasib kita ke depannya.

Orang yang sudah tahu tujuan dia hidup dan untuk apa dia hidup, maka dia tidak akan pernah berfikir bahwa dia akan hidup selama-lamanya di dunia. Dia juga tidak mungkin berfikir untuk bisa hidup hanya dengan tangannya sendiri tanpa ada peran " tangan Tuhan " dan juga manusia yang lainnya sebagai makhluk sosial. Sekuat apapun kita, tetap akan membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita. Memangnya kalau kita sakit parah, kita bisa menyetir sendiri, berobat ke rumah sakit ? Menggali kuburan kita sendiri saat sudah mati ? Kalau bisa malah gawat tuh, yang melayat pada ngacir semua … LoL. Kebanyakan orang juga seringkali lupa dan tidak mau mengoreksi diri sendiri. Lebih banyak melihat kesalahan orang lain tanpa bercermin terlebih dahulu. Merasa dirinya paling hebat, paling baik dan paling bijak. Seandainya terjadi sesuatu, mereka selalu mengeluh dan merasa menjadi orang yang terdzalimi. Padahal semua yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, entah di masa lalu ataupun sekarang. 

Kalau saya melihat dan mengamati orang-orang yang saya temui, banyak sekali dari mereka yang terpuruk itu pada awalnya punya perasaan ujub, suka riya dan merasa jumawa dengan keberadaan dirinya. Bahkan pada saat terpuruk pun mereka tidak pernah mengoreksi diri, berkoar-koar pada semua orang kalau dia sudah didzalimi, disakiti dan dikhianati. Padahal kalau mau hitung-hitungan, justru mereka-lah dulunya yang sering mendzalimi orang. Baik dengan kata-kata dan perbuatan, disengaja ataupun tidak. Termasuk juga dalam hal mencari rezeki. Jarak antara yang halal dan yang haram hanya seutas benang, jika benang ditarik, sreeet … yang haram tiba-tiba dijadikan halal, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka. Banyak sekali yang berucap syukur karena merasa mendapatkan limpahan nikmat …. Alhamdulillah Yaa Allah, saya mendapatkan banyak rejeki hari ini. Padahal nikmat yang dia dapatkan itu hasil dari perbuatan mereka yang tidak terpuji, bukan hasil dari kerja keras karena berikhtiar, misalnya melakukan sesuatu yang diharamkan, merampas, mengambil hak milik orang lain, menipu, melacurkan diri ( ma’af beribu ma’af ) …. Naudzubillahi min dzalik. Tapi bagi mereka yang “ merasa “ baru mendapatkan musibah, limpahan nikmat itu dianggap sebagai barokah. Jujur, hal-hal seperti itu terlihat aneh dan terkadang membuat saya ingin tertawa, mungkin bagi Anda juga kali yaa. Sepertinya kok ada yang error gitu loh … he he he. 

Kalau kita mau berpikir lebih jauh lagi, terkadang limpahan nikmat yang bertubi-tubi itu mungkin saja ujian dari Allah, SWT yang sesungguhnya. Atau mungkin sebagai bentuk ketidak pedulin-Nya lagi pada kita, dikasih cobaan tapi malah semakin sombong dan kemaruk harta. Istilah jawanya, urip di ujo bondho terus-terusan. Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu berhati-hati dalam bertutur dan bertindak, apalagi kalau hal itu melibatkan orang lain. Lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum tahu persis apakah hal tersebut baik, buruk, terpuji, tercela, halal atau haram. 

Sebagai manusia yang beragama tentunya kita mempunyai sandaran hidup akan keyakinan kita terhadap Tuhan. Agar tegar dalam menghadapi setiap gejolak kehidupan. Kita bisa menemukan arti kehidupan sesungguhnya lewat agama yang kita anut. Dengan begitu kita akan sadar sejauh mana kita mengartikan kehidupan ini. Dan pada akhirnya tinggal kita sendiri yang menyimpulkan apa arti kehidupan ini ? untuk apa ? dan akan dibawa kemana arah kehidupan kita ? Mungkin setiap manusia boleh saja berbeda dalam mengartikan kehidupan, tetapi jangan pernah terjerumus kedalam arus kehidupan yang akan menyesatkan diri kita sendiri. Wallaahu a’lam bissawab.

Hanya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 1437 HIJRIYAH, semoga ALLAH, SWT melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya pada pada kita semua … Aamiin Yaa Rabbal Alamin. 


This is the beginning of a new day and new years 
What I do today is important
When tomorrow comes, this day will be gone forever
And I just want to be a better person 

Goodbye yesterday
Hello today
Welcome tomorrow …


~ SOLO, 1 MUHARRAM 1437 HIJRIYAH ~