Thursday, 11 February 2016

JANJI

 

Ntar aku kasih hadiah, tunggu aja …
Besok aku pasti datang ke rumahmu, jam 2 siang, … 
Nanti malam aku telpon lagi, beneran deh ! Sumpah !
Datang aja kesini, nanti kita jalan-jalan
Besok aku traktir kamu makan-makan sepuasnya …

Banyak sekali contoh di sekitar kita akan hal ini, mereka yang dengan gampang berjanji lalu dengan gampang pula mengingkarinya, sehingga janji tidak lagi mempunyai makna apa-apa. Kalimat demi kalimat mengalir seperti air, lalu menghilang tak berbekas. Teman, saudara, pacar, tua, muda, pejabat, anggota dewan, politikus dan termasuk yang nulis artikel ini nih … he he he. Semua pasti pernah mengingkari janji, entah itu sekali, dua kali dan ada juga yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Yang paling menjengkelkan yang ini nih, kebiasaan ingkar janji.

Dari sudut pandang sosial, apabila seseorang berjanji dan pada implementasinya sering tidak menepati janji, maka hal ini dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan orang lain terhadap diri seseorang. Sehingga dapat dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Bahasa kerennya nih, Pemberi Harapan Palsu alias PHP. Kayak nomor IP Address aja yaa. Dan si tukang PHP ini biasanya enteng banget ngomongnya. Pun ketika dikonfirmasi pasti dia punya sejuta alasan untuk ngelés, sibuk lah, cuaca tidak mendukung, nggak ada duit-lah, inilah, itulah, pokoknya segala macam tampang memelas dan jurus silat lidah keluar semua … LoL. Biasanya nih, janji-janji dilontarkan karena mereka ada maunya alias maksud terselubung. Ada udang dibalik bakwan … He he he.

Yang lebih parah lagi kalau mereka juga menambahkan kata Inshaallah. Ini sering terjadi ketika si tukang PHP ini tidak serius atau hanya sekedar main-main. Sebagai cara untuk pembenaran diri dan mempertahankan argumen. Segala macam sumpah pun tertumpahkan, tidak tanggung-tanggung, kalimat “ Wallahi ” pun ikut terlontar. Di kesempatan ini, mumpung saya masih punya banyak waktu luang, lagi mood menulis dan juga sambil mengingat janji-janji pada keponakan-keponakan saya … he he he. Me-review filosofi Jawa yang sangat terkenal Ajining diri ana ing kedhaling lathi, ajining sarira ana ing busana.

Ajining diri ana ing kedhaling lathi ini diartikan bahwa setiap orang itu dihargai dan dihormati karena lidahnya dalam arti yang lebih luas, bisa menjaga tutur kata, senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan. Tentunya kita tidak bakal mudah percaya dengan omongan orang yang baru kita kenal, apalagi omongan orang yang kita tahu kalau mereka terbiasa bohong alias tukang kibul. Lain ceritanya ketika kita mendengar perkataan orang yang jujur dan setiap tutur katanya baik, maka pastilah kita langsung percaya. Meskipun, sekarang lagi ngetrend kalo orang lebih percaya sama si tukang bohong. Nggak salah sih, karena si tukang bohong dan PHP ini biasanya pandai bermain kata dan memutar balikkan fakta. Lidahnya licin banget, suka minum Oli kali yaa. Pengalaman pribadi nih, sering di PHP-in …

Ada korelasi yang positif antara filosofi Jawa dengan agama. Jika kita tidak bisa berkata baik dan memberi manfaat maka jauh lebih baik bagi kita untuk diam, bukannya malah berbicara yang menghasilkan dosa seperti bergunjing dan mengobral janji. Sesungguhnya yang paling utama bagi kita adalah agar senatiasa mengingat bahwa segala hal dalam diri kita akan dimintai pertanggung jawaban, tak terkecuali lidah, mata, kuping, hati dan yang lainnya. Dan setiap perbuatan itu pasti ada ganjarannya. Lucu aja kalau melihat ada tukang bohong yang sakit hati karena merasa dibohongi. Makanya, ngibul itu jangan dijadikan kebiasaan Cong, bakalan kena batunya dah.

Berbeda dengan Ajining sarira ana ing busana, kalimat ini memiliki perspektif yang berbeda. Dimana untuk filosofi yang kedua ini jauh lebih menonjol pencitraan diri yang bersifat fisik dan duniawi. Ajining sarira ana ing busana diartikan bahwa setiap orang dihargai dan dihormati dari penampilan atau atributnya. Busana disini bisa diartikan secara harfiah maupun turunannya. Secara harfiah diartikan baju atau pakaian dan secara turunan dapat diartikan juga sebagai atribut atau pangkat jabatannya. Itu kan dulu, iya nggak ?

Kalau kita melihat dari perspektif duniawi, sudah sangat jelas-lah. Di belahan dunia manapun orang yang berpakain necis, trendy, elegan dan berkelas langsung pertama kali dilihat orang meskipun sebenarnya dia hanyalah seorang penipu. Selayaknya pejabat yang sangat disegani padahal dia hanyalah seorang tukang obral janji. Jadi cenderung membuat kita tertipu dengan penampilan, tanpa melihat ke isinya yang lebih dalam. Hal ini tentu saja terbalik dengan kenyataan bahwa harga manusia di mata ALLAH, SWT adalah dilihat dari kualitas ketaqwaannya. Harkat dan derajat penerimaan terhadap diri kita yang sebenarnya bukanlah karena atribut, baju ataupun kedudukan kita, melainkan apa yang ada didalam diri kita yaitu, perilaku, jiwa dan hati kita.

Seringkali kita mendengar pepatah janji adalah hutang atau dengan kata lain ketika kita sedang membuat janji dengan seseorang maka sebisa mungkin harus bisa ditepati. Asal bukan janji untuk berbuat maksiat aja yaakk seperti nyuri mangga tetangga … he he he. Karena hutang memang harus dibayar. Jika kita sering mengingkari janji akan membuat kita tidak akan dipercayai orang lain. Tapi bila memang benar-benar tidak bisa menepati janji sebaiknya sesegera mungkin berterus terang dan meminta maaf kepada orang yang sudah janjian dengan kita. Jangan sampai membuat orang lain menunggu karena bisa saja mereka menyempatkan waktu untuk kita, sementara kita mengingkarinya begitu saja tanpa pemberitahuan. Menunggu sampai bertahun-tahun … pilu, Hiks. Memang berat sih, karena tidak semua orang bisa menerima alasan kita. Atau justru malah kita yang dianggap tidak menepati janji dan suka PHP-in orang. Janjimu palsu, gombal mukidi

Mudah-mudahan kita bukan termasuk seseorang yang suka mengobral janji, karena janji yang tidak ditepati adalah sebuah hutang yang harus dipertanggung jawabkan di hari akhir nanti. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Menjaga lisan dan hati kita, jangan sampai kita terjebak dengan gemerlapnya di dunia karena kemeriahan dunia hanyalah semu. Tidak ada manusia yang bisa menjadi super hero, yang bisa melakukan apapun. Tidak perlu memiliki ribuan janji, cukup satu janji tapi berusaha mewujudkannya dengan sempurna. 

Mohon ma’af bila ada yang tersinggung atau tersakiti dengan tulisan saya yang apa adanya ini. Hanya orang yang suka mengemukakan opini dalam bentuk tulisan. Sebagai manusia masih terus memperbaiki kualitas diri. Kalau saya punya janji dengan Anda, tagih aja yaak. Tapi kalau Anda yang berjanji, nggak usah takut, saya bukan debt collector janji kok … LoL. 

Semoga ALLAH melimpahkan hidayah-NYA pada kita semua … Aamiin.



Wednesday, 10 February 2016

PUPUS


Kalau mendengar kata pupus, pasti semua pada berpikir, patah hati atau putus cinta. Nggak salah sih karena mencakup soal itu juga … he he he. Tapi sebenarnya definisi kata pupus itu banyak dan tidak melulu soal cinta. Pupus juga bukan berarti putus asa. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, pupus itu berarti apa yang habis sama sekali, hilang lenyap, punah ( harapan). Memupuskan berarti menghilangkan, menghapuskan atau memusnahkan. Nah, dari arti kata tersebut pupus adalah hilangnya atau musnahnya harapan kita terhadap sesuatu karena ada satu hal. Sesuatu yang sudah sangat sulit untuk diperjuangkan atau jalannya sudah buntu. Biar kita jungkir balik, koprol, hasilnya tetap nihil.

Kata pupus sendiri berasal dari Bahasa Jawa, memiliki pengertian, definisi, maksud atau makna menyerah kepada nasib alias mengikhlaskan. Agak sedikit berbeda dengan Kamus Bahasa Indonesia, pupus juga berarti daun muda yang sedang tumbuh atau pucuk daun. Dan kata pupus dalam bahasa Jawa ini hanya gunakan dalam arti positif atau tidak berkonotasi negatif. Jadi ada perbedaan besar antara pupus harapan dan putus asa, meskipun sepintas kata-kata itu bermakna sama, pupus harapan idem ditto dengan pupus asa atau sama dengan putus asa. Kalau menurut saya nih, putus asa itu sudah hilang harapan, apapun yang dilakukan sia-sia aja dan tidak ada gunanya. Biasanya orang kalau sudah putus asa, mereka tidak mau lagi berusaha atau berjuang karena ibarat dido’akan pun juga sudah tidak mempan. Dalam arti kata singkatnya, putus asa juga berarti hilangnya batas kesabaran alias menyerah kalah.

Lain halnya dengan kata pupus. Dalam filosofi Jawa, memupus berarti mengikhlaskan sesuatu yang hilang tanpa kehilangan kesabaran dan harapan. Kehilangan disini bisa berarti harta, benda, keluarga yang meninggal, merasakan sakit atau menghadapi sesuatu yang tidak berkesudahan. Yo wis lah, dipupus wae. Intinya, memupus tanpa rasa dendam dan tetap ber-khusnudzon pada Sang Pencipta dengan apa yang menimpa kita. Merelakan kenyataan dan mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Menurut pak Ustadz nih, tetap sabar dan tawakal.

Sebenarnya ketika kita memupus apa yang telah kita alami dan kita rasakan, kita telah di berikan ilmu untuk meraih sesuatu itu kembali alias ada gantinya. Meskipun, jujur nih, memupus itu sakit juga lho … LoL. Wajarlah karena melibatkan perasaan, from the deep of the heart … hiks. Apalagi bila seseorang itu sudah terlalu banyak mengalami ujian dalam hidupnya, sudah badannya sakit, hatinya disakiti pula. Kalau Allah, SWT yang menguji, mungkin kita akan memperbanyak do’a dan semakin tekun beribadah. Tapi kalau manusia yang menguji, pasti nya tidak bakalan ada yang mau, mendingan ngacir dahh, kayak anak sekolah aja pakai ujian … He he he. 

Hayo ngaku … pasti nih semuanya pada pernah menguji atau istilah gaulnya nge-test. Apalagi anak remaja jaman sekarang nih, kekanak-kanakan tapi gayanya sok bijak. Kalau sedang mencari karyawan mah sudah sewajarnya atuh, memang perlu dites ini itu. Yang agak aneh kalau orang tersebut sedang mencari teman, partner kerja, pacar, suami atau istri. Dan yang biasanya diuji itu kesabaran, kesetiaan, kejujuran dan ketulusan. Bener nggak nih ? Layak nggak ? Pantas nggak ? Hmm, kalau masih dalam batas kewajaran, mungkin bisa diterima ya. Tapi kalau sudah sangat keterlaluan, ini nih yang jadi masalah. Ibaratnya, hari ini menginjak kerikil tajam, besok menginjak kulit durian dan besoknya lagi menginjak paku berkarat ... mana tahaaaan. Manusia dengan kesabaran extra tinggi pun sudah pasti berpikir balik dan memupus. Ya, sudahlah, mungkin memang benar kita tidak layak, tidak pantas dan ada manusia lain yang lebih pantas buat mereka. Jadi ya, ikhlaskan aja.

Jujur, sebagai manusia kita tidak punya hak untuk menguji seseorang, apalagi dalam hal reputasinya. Tidak perlu melakukan ini itu, mesti begini atau begitu. Dengan sendirinya alam-lah yang akan menguji sejauh mana kebenarannya. Kalau kita pada akhirnya tahu kalau orang itu benar-benar tidak baik, kan tinggal dipupus aja, iya nggak ? Anggap saja semua kejadian yang menimpa kita adalah peringatan dari ALLAH, SWT.

Memang sih, memupus perasaan itu tidak semudah apa yang dikatakan para motivator … he he he. Kalau mereka sendiri tidak mengalaminya, pasti mereka tidak bisa merasakan bagaimana rasanya. Bicara mah gampang, yang menjalani tuh yang susah. Tapi banyak hikmah yang kita petik di dunia yang ramai dan penuh warna ini. Yang baik-baik tetap diingat dan yang jelek-jelek, dipupus aja yaa. Karena yang namanya pupus itu lama kelamaan akan menjadi daun, berkembang, menguning, layu dan kemudian rontok. Tapi pupus akan terus tumbuh, sama seperti harapan kita selama kita masih bernapas.

A note to remember, just for my self. Mohon ma’af bila ada kata-kata dan tulisan yang kurang berkenan. Hanya manusia biasa yang masih terus belajar di universitas kehidupan. Diambil yang baik-baik aja menurut panjenengan … Sumonggo.


Friday, 5 February 2016

SOLO, THE SPIRIT OF JAVA

 

Kali ini saya akan menulis sedikit tentang Solo karena saya lahir di Solo dan leluhur saya asli dari sini. Memang sih masa kecil dan masa remaja saya tinggal di beberapa kota di Jawa, ngikutin orangtua on duties. Nikmat dan karunia ALLAH, SWT yang selalu saya syukuri karena bisa mengenal budaya, bahasa, adat dan makanannya. Makanya saya familiar banget dengan kota Jogja, Blora, Semarang, Pemalang, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Tidak bakalan kesasar deh kalau pergi kesana, blusak-blusuk dan semua sudut sudah saya jelajahi. Yang setiap kota itu ada cerita dan kenangan tersendiri, kenangan konyol masa kecil maksudnya … he he he.

Meskipun Solo ada di dalam buku panduan kota yang harus dikunjungi oleh wisatawan, tidak sedikit yang “ gagal paham “ tentang Solo. Karena kota kecil, banyak yang mengira kalau Solo itu kuno, tidak punya fasilitas canggih dan tidak ada Mall. Soalnya, ada yang nulis kayak gitu tuh. Mungkin tidak pernah googling dan nonton TV kali yaa … he he he. Mentang-mentang ada pelarangan mendirikan Mall, dikiranya Solo tidak punya Mall. Cerdas dikit dong, yang bikin aturan siapa, yang melanggar juga siapa. Ada yang bilang ini itu, ngeluh ini itu, mahal banget dan lain-lain. Biasanya sih yang kayak gitu bermasalahnya sama si Abang-abang becak. Ada juga yang bilang, di Solo apa-apa mahal. Itu berarti anda adalah backpackers kikir yang gagal sebagai turis lokal … LoL. Karena biaya hidup di Solo itu paling murah bila dibandingkan dengan Jakarta ataupun kota besar lainnya. Di Solo bawa uang Rp.5000 bisa mendapatkan sepiring nasi dengan lauk plus teh manis hangat. Cuma nasib yang kurang beruntung aja kali yaa, kesasar di tempat mahal. Malu bertanya, ya jangan bertanya ... eh, sesat dijalan.

Solo adalah wilayah otonomi dengan status kotamadya di bawah provinsi Jawa Tengah. Dengan letak geografis diantara tiga gunung, Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Ditambah Sungai Bengawan Solo yang mengalir di tepi kota membuat Solo menjadi menjadi pusat perdagangan dengan tanah yang subur. Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri dan Sragen termasuk wilayah eks Karesidenan Surakarta ( Residentie Soerakarta ). Jumlah penduduk kota Solo perbandingannya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Ada sisa 4 bagi yang ingin mendua … he he he. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/ km₂ ( angka kepadatan penduduk Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km₂ ). Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia. 

Surakarta Hadiningrat, kendati aslinya bernama Sala ( memakai huruf a ) namun dalam perkembangannya berubah dan lebih akrab disebut Solo ( pakai huruf o ). Ini terjadi terjadi karena kesalahan orang Belanda dalam menyebut nama kota ini karena memang lidah mereka tidak seluwes lidah orang Indonesia. Kata mbah Putri saya, ilaté ora iso bengkong alias lidahnya tidak bisa bengkok … LoL. Sejak saat itu tidak hanya orang asing saja, akan tetapi masyarakat Indonesia pun menyebut dengan Solo. Penyebutan ini terasa lebih mudah dilafalkan, dicerna dan memiliki makna yang khas dibanding nama resminya. 

Nama Surakarta Hadiningrat menjadi seperti kalah pamor dibanding Solo karena sikap sang pemberi nama, Sri Susuhunan Paku Buwono II. Surakarta Hadiningrat dianggap mencerminkan watak kekuasaan, kapitalis-kolonial, sementara Solo mencerminkan semangat kerakyatan ( mengakar sebagaimana asal namanya dari pohon Sala ) dan memberi keteduhan, ngayomi pada rakyat. Bagi orang Solo, persoalan nama tersebut bukanlah suatu masalah yang berarti. Persoalan itu hanya muncul dikalangan intelektual akademis saja. Biarin aja dah, mereka pada berdebat sendiri. Faktanya, di dunia usaha nama Solo lebih menjual dan lebih disukai. Selain itu, Solo juga memiliki beberapa julukan diantaranya Kota Batik, Kota Perdagangan, Kota Budaya, Kota Kuliner dan kota yang tak pernah tidur, The city never sleep alias Texas-nya Indonesia. 

Penduduk Surakarta biasa disebut Wong Solo dan istilah Putri Solo adalah sebutan khas bagi para gadis. Sejak dulu terkenal lemah lembut perangainya, bertutur kata halus dan menjunjung tinggi tata krama. Karena pengaruh dari Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan, penduduk Solo rata-rata ramah dan bersikap layaknya priyayi, Tapi, jangan salah sangka, bertutur kata halus bukan berarti tidak galak dan tidak bisa teriak lho yaa … LoL. Karena itulah, tidak sedikit yang mengaku berasal dari Solo, padahal tidak. Maksudnya biar dikira keturunan bangsawan gitu loh. Biasanya nih, dari tutur kata dan perbuatannya sudah bisa ditebak, mana yang benar-benar priyayi dan mana yang abal-abal. Dengan adanya pengaruh dari dua kerajaan itu Kota Solo budaya Jawa-nya masih kental dan terjaga. Meskipun, sayangnya nih, sekarang sudah mulai tergerus kemajuan jaman. 

Selain dihuni oleh Suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Solo. Perkampungan Arab menempati tiga wilayah yaitu Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu. Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah di wilayah itu. Karena semakin padat, banyak juga keturunan Arab dan Tionghoa yang menempati perkampungan lain. Selain Arab dan Tionghoa, ada juga keturunan India-Pakistan, juga warga asing dari Eropa. Tidak heran kalau di Solo banyak keturunan campuran Arab-Jawa, Cina-Jawa, Eropa-Jawa. Bahasa yang digunakan pun ada tiga, bahasa ibu ( asal ), bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Yang terakhir ini nih, yang sering bikin wisatawan lokal pada bengong karena bahasa Jawa mereka medok dan halus banget.

Kebanyakan warga Solo adalah pelaku bisnis di bidang kuliner, batik, barang antik, tehnologi informasi dan furnitur. Pusat bisnis kota Solo terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini. Khusus pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi ditutup bagi kendaraan bermotor karena digunakan sebagai ajang Solo Car Free Day dan juga ajang kuliner. Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik ada di Laweyan dan Kauman. Pasar Klewer menjadi salah satu pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia. Pusat batik lainnya ada di Beteng Trade Center ( BTC ) dan Pusat Grosir Solo ( PGS ). Bagi yang suka nge-Mall, dan hobi nonton di XXI, ada beberapa Mall modern seperti Solo Square, Solo Grand Mall ( SGM ), Solo Paragon dan Singosaren Plasa. Kalau ingin yang agak jauh ke pinggir kota, ada Hartono Mall dan The Park Mall. Dan satu lagi swalayan, yang menurut saya nih, harganya paling murah se-Indonesia, Luwes group ( Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur ). 

Kalau soal kuliner, makanan 24 jam tersaji nonstop. Mulai dari makanan tradisional, western, fast food, sea food, Chinese food, middle-east food, semua ada. Tidak seperti di Jogja yang rata-rata taste-nya manis atau daerah Jawa Timur yang rata-rata asin, di Solo makanannya berada ditengah-tengah, tidak manis, tidak asin dan juga tidak pedas. Asal tahu aja, makanan di Solo itu mengenal pakem alias jam saji. Makanan yang keluar di siang atau pagi hari, tidak bakalan Anda temui di malam hari. Makanan yang biasa ditemui di pagi hari biasanya nasi liwet, soto kuali, bubur lemu, pecel ndeso, cabuk rambak, ketan bubuk juruh, lenjongan. Yang tersaji di tengah hari biasanya bakmi thoprak, selat solo, timlo, bakso, sup matahari, thenkleng, sate buntel, tongseng, sate kambing dan es puter tradisional. Kalau malam hari ada soto kuali dan nasi liwet juga, gudeg ceker, bakmi jawa, wedang dongo, wedang asle, wedang ronde, wedang kacang dan yang paling beken nih, HIK alias hidangan istimewa kampung. Kalau di daerah lain, HIK biasanya disebut angkringan. Dijaman Ibu saya, dulu HIK itu dipikul dan penjualnya keliling kampung, tapi sekarang tidak. Kebanyakan HIK sudah menetap di suatu tempat. Dan di Solo, disetiap sudut ada warung HIK. Tinggal pilih aja, mau yang dipinggir jalan atau HIK yang sudah bersolek seperti resto. Umumnya menyajikan berbagai makanan kampung seperti nasi kucing, nasi oseng, aneka sate tusuk, wedang jahe gepuk, wedang uwuh, teh oplosan, wedang susu jahe, kopi tubruk. Yang jelas jumlah makanan yang tersaji biasanya lebih dari 20 jenis.

Bagi yang doyan ngemil, banyak toko-toko kue yang menyajikan snack khas Solo dan tentunya tidak bakalan ditemui di daerah lain seperti roti kecik, roti pongge, serabi notosuman, intip goreng, pia balong, serundeng, brem dan ampyang. Umumnya took-toko kue di Solo adalah pemain lama alias sudah ada sejak jaman Kolonial Belanda dan masih tetap exist sampai sekarang. Sebut saja toko roti Orion yang terkenal dengan kue Mandarijn-nya, Roti Ganeps dengan roti kecik-nya, Primadona dengan kue bangket-nya, Merani dengan roti semir-nya. 

Mengenai transportasi dan penginapan di Solo, ada Internatioanal Airport, Stasiun Kereta Api dan Terminal Bis. Angkot, Batik Solo Trans ( BST ) dan Taksi juga banyak yang beroperasi. Untuk taksi, lebih cepat datang kalau kita tahu nomor panggilannya. Bukan karena armadanya sedikit, tapi banyak yang menggunakannya alias full booking. Hotel mulai dari bintang lima sampai homestay dengan tarif yang murah pada bertaburan, soal harganya, saya tidak tahu pasti karena saya bukan petugas pariwisata … he he he. Bisa di klik di internet dengan mudah dan tinggal pesan aja.

Begitulah sekelumit kisah tentang Solo. Masih banyak yang belum saya tulis, terutama tentang tradisi. Lain kali aja ya, capek nih tangannya … he he he. Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi Mas, Mbak dan Adik-adik yang hobi travelling dan doyan makan. Bagi yang belum pernah datang ke Solo, monggo katuran pinarak … 




Thursday, 4 February 2016

FREAK & OVERACT


John, kau bagai gelombang
Kudiam kau datang
Kukejar kau hilang

John, kejamnya hatimu
Kudiam kau benci
Kusapa kau benci

Engkau seganas gelombang bila kuabaikan dirimu
Engkau menyakitkan hati bila kuharapkan dirimu

Penggalan lirik lagu jadul yang dinyanyikan Arie Koesmiran ini pasti tidak familiar ditelinga anak-anak jaman sekarang. Kalau di jaman ABG … Angkatan Babe Gue, ngetop banget tuh. Perilaku aneh bagi orang yang sedang dimabuk cinta. Gimana nggak aneh, katanya suka kok mengingkari, cinta tapi kok malah menghindar. Bahasa gaul-nya lebay … lebay … lebay, maunya opo seh … he he he. Tapi bisa dimaklumi juga karena biasanya orang yang sedang kasmaran tuh sering bertingkah aneh alias konyol, termasuk saya …. LoL.

Tapi kali ini, topik yang saya tulis bukan kisah saling kejar antara dua insan yang sedang dilanda cinta lho yaa, melainkan tingkah laku manusia yang saya anggap aneh dan berlebihan. Mungkin bukan saya aja, tapi juga bagi Anda semua. Seringkali kita menjumpai orang di sekitar kita entah itu teman, saudara, tetangga, pacar dan lain-lain, tiba-tiba bersikap aneh di depan kita. Kita mungkin merasakan situasi aneh tersebut tapi tidak mengerti kenapa ? Tiba-tiba marah, menghindar dan mendiamkan kita berabad-abad tanpa sebab. Sikap mereka terlihat berlebihan dan dramatis banget. Sekarang begini, besoknya begitu, besoknya lagi begono. Orang yang tuna wicara aja kepengen bisa ngomong, yang bisa ngomong malah membisu. Kalau ada sebabnya, misalnya pernah tersakiti atau tersinggung, mungkin orang lain menganggapnya wajar. Tapi kalau tidak, itu perilaku aneh atau ada gangguan kepribadian ?

Apa yang terlintas dalam pikiran anda jika mendengar kata “ gangguan kepribadian ” ? Mungkin sebagian dari anda menganggap bahwa gangguan kepribadian sama dengan gangguan jiwa alias gila. Nggak sama kok, tapi kalau sakit jiwa sih, kayaknya iya. Oops, just kidding … he he he. Gangguan kepribadian itu perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain dengan kaku. Kekakuan itu-lah yang menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri, mempersulit orang lain yang ingin berinteraksi dengan mereka. Terlalu berlebihan dalam bertindak dan mengambil sikap, terutama dalam mengatasi masalah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Yang namanya makhluk hidup, pasti saling membutuhkan satu sama lainnya. Simbiosis mutualisme antara manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai makhluk sosial, manusia harus ada keseimbangan antara Hablumminallah dan Hablumminannas. Sifat dan perilaku seseorang biasanya dipengaruhi oleh pola asuh dari orangtua, lingkungan dan sikap masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Perilaku setiap orang pastilah berbeda-beda, tidak ada yang sama. Bahkan dalam satu rumah, satu saudara kandung pun punya perilaku yang berbeda. 

Kita mungkin sering melihat banyak orang dengan atribut keagamaan, pendidikan yang tinggi atau juga berwajah rupawan. Tapi dalam kesehariannya berperilaku tidak menarik, misalnya sombong, mudah marah, suka berkata-kata kasar, suka mengumpat, menyindir, menghina dan suka mencela. Tampilan fisik yang rupawan tidak akan menarik jika tidak disertai dengan perilaku yang baik. Apalagi kalau mereka sering bermuka masam dan tidak pernah tersenyum, sekalinya mau bicara, nadanya menyakitkan hati, centha-centhe, nylekit banget …. Huuaaahhh. Orang jadi takut kalau bertemu dengan manusia seperti itu. 

Tentu, setiap orang pasti ingin mendapatkan kesan atau image yang baik karena itu adalah fitrah sebagai manusia. Ada dua sudut pandang mengenai diri manusia. Yang pertama adalah sudut pandang dari diri kita sendiri dan sudut pandang dari orang lain. Bagaimana orang lain memandang kita atau siapakah kita menurut pandangan orang lain. Masing-masing mempunyai penilaian tersendiri. Ada yang menganggap dirinya super baik dan ada juga yang menganggap bahwa dirinya paling benar. Tetapi kok tidak ada ya, yang menganggap bahwa dirinya sendiri itu aneh, sombong, angkuh, galak, bermulut tajam, suka mencela, kejam, sadis, ratu tega atau raja tega. Yang ada adalah orang lain yang memandang mereka seperti itu.

Bertingkah berlebihan bukan hanya berlaku bagi orang yang ceriwis, suka ketawa ngakak, suka bergosip tapi juga dalam sikap yang lain. Orang yang berperilaku aneh itu biasanya pendiam, introvert, narsis, tidak suka dikritik, tidak mudah percaya, suka meremehkan, selalu menjaga jarak dengan orang lain karena merasa dirinya yang paling hebat dan paling pintar. Umumnya mereka juga diam-diam gila pujian, tidak suka memperhatikan orang lain tapi selalu menuntut orang lain agar memperhatikan, mengerti dan memahami mereka. Dan biasanya nih, mereka juga seorang pendendam. Nah lo, yang terakhir ini nih, yang paling serem. 

Pepatah mengatakan “ Dengan siapa kamu berteman, seperti itulah adanya dirimu “. Dalam hal ini ketika seseorang bergaul dengan teman–temannya, maka dia pun akan melihat bagaimana perilaku teman–temannya itu. Langsung bisa terlihat kalau orang itu berperilaku wajar, buruk, baik atau berperilaku aneh apabila berkelompok. Seseorang bisa saja merubah atau bahkan berubah perilakunya karena faktor tersebut. Bisa jadi dia menemukan kecocokan dengan pertemanannya itu atau sebaliknya, merasa tidak ada kecocokan dengan mereka. Kalau bersama habitatnya mereka terbuka luar dalam, nerocos kiri kanan tapi kalau bukan dengan habitatnya, mereka menjadi orang yang irit bicara dan menjaga jarak. Sesama lebay dilarang saling mendahului … LoL.

Orang dengan perilaku yang wajar pasti jalan pikirannya sehat. Mampu berpikir dengan jelas, bisa menerima kritikan, tidak mudah su’udzon atau berprasangka jelek, mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidup, menikmati hubungan baik dengan teman-teman, rekan kerja, keluarga dan merasa nyaman secara spiritual serta membawa kebahagiaan bagi orang lain. Sehat mind, body and soul. Itu tidak berlaku bagi manusia dengan perilaku aneh, mereka susah sekali berinteraksi dengan orang lain. Perilaku mereka yang aneh pastinya akan susah diterima oleh kebanyakan orang. Kesan pertama sepertinya baik, karena mereka memberi label dirinya sendiri kalau mereka adalah orang yang super baik. Tapi lama kelamaan menjadi terlihat aneh dan berlebihan. Kalau mereka sudah mempercayai orang, biar itu maling atau rampok pun mereka percaya. Tapi sebaliknya, kalau sudah membenci orang, meskipun orang itu baiknya melebihi dermawan, mereka akan membenci sampai seakar-akarnya dan sedalam-dalamnya. Kata pak Ustadz, orang dengan perilaku seperti itu ibaratnya mata dan telinganya dikencingi setan. Wiiihh … ekstrem banget yaa ... Na’udzubillahi min dzalik.

Saya sendiri sering banget bertemu dengan manusia berperilaku aneh seperti itu. Sebenarnya sih sangat sepele masalahnya, hanya soal pesan alias sms. Saat kita mengirim sms atau email, meskipun tidak segera, pastilah ingin mendapat balasan dan bukan hanya di-read aja, apalagi kalau isi pesan itu penting. Manusia dengan perilaku aneh pasti akan ngelés kalau kita mengkonfirmasi mengapa dia tidak membalas. Dengan alasan sibuk-lah, tidak ada waktu, tidak tahu kalau ada pesan masuk, sms kita tidak terkirim, hp sedang dimatikan, inilah, itulah, seribu satu alasan selalu digunakan. Sekali, dua kali atau tiga kali kita mungkin bisa memaklumi, tapi kalau selalu seperti itu ? Orang yang masih punya otak waras dan punya perasaan pasti mengira kalau memang ada yang tidak beres dengan perilaku mereka. Apalagi bila kita tahu kalau mereka itu pengidap Autis, ituu manusia yang tidak bisa lepas dari handphone … LoL. Saat orang lain sibuk menyimak ceramah, mereka malah asyik sendiri dengan gadget-nya. Jadi, alasan mereka yang sibuk 360 jam itu terlihat mengada-ada dan berlebihan. Bagaimana tidak, handphone tidak pernah lepas dari tangan dan penglihatan kok bilangnya tidak tahu atau sibuk, dibaca tapi kok dibilang tidak terkirim, aneh kan ? Yang lebih lucu lagi kalau orang lain melakukan hal yang sama terhadap dirinya, mereka ngamuk-ngamuk tidak karuan. 

Secara pribadi, saya sih bisa memaklumi manusia dengan perilaku seperti itu. Di belahan dunia manapun tidak bakalan ada orang yang mempunyai sifat yang sama, meskipun perasaan saya agak gimana lah ... Baper dikit. Dipupus aja, mungkin bagi mereka kita bukan orang penting, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan tidak selevel dengan mereka. Jadi mereka juga tidak perlu membalas atau mempedulikan pesan kita. Kalau soal diremehkan orang, saya sih sudah biasa. Sadar diri gitu loh, saya mah apa atuh … hiks. Hal-hal yang tidak bisa saya terima adalah kalau saya diberi amanah oleh orang lain untuk menyampaikan pesan itu, otomatis si pemberi amanah akan mengira kalau saya tidak menyampaikan pesannya. Jadinya kanan kiri, depan belakang, maju kena, mundur kena … Hadeehhh. 

Jujur, mungkin tidak sedikit orang yang menganggap saya manusia aneh, ngaku nih … he he he. Ada juga yang mengatakan kalau saya banyak tingkah, berlebihan, dramatis atau apalah. Yaah tidak apa-apa, saya terima dengan ikhlas kok, penilaian dan penghakiman mereka. Saya menyadari pasti ada yang merasa tersakiti, entah itu lewat kata-kata, tulisan atau perbuatan, sengaja atau tidak sengaja, terlihat atau tidak terlihat ( mohon ma’af lahir batin … ), meskipun saya mengemukakannya dengan jujur. Saya juga tahu kalau tidak semua orang itu bisa menerima kejujuran saya. Kalau saya memilih diam, bukan berarti sudah tidak peduli atau tidak mau bicara. Saya hanya tidak mau salah-salah ngomong lagi. Begini salah, begitu salah, karena pada akhirnya saya juga yang bakalan tersakiti. Atau mungkin saja saya benar-benar punya perilaku aneh, tapi nggak sakit jiwa lho yaa … LoL. Sebagai manusia, kita semua jauh dari kata kesempurnaan, banyak melakukan kebodohan dan sering khilaf. Kritikan dari orang lain saya anggap sebagai sarana untuk koreksi diri untuk perbaikan ke depannya.

Tidak bermaksud untuk menyinggung atau menghakimi orang lain. Self reminder untuk diri saya sendiri seandainya saya lupa. Semoga ALLAH, SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua …. Aamiin. 
Sedoyo kalepatan nyuwun agenging pangapunten. 



Aku tidak sebaik yang kau katakan
Dan tidak seburuk yang kau kira

~ KAHLIL GIBRAN ~

Thursday, 21 January 2016

ACCEPTANCE



Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. 
Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya. 

Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi. 
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. 

Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari ( meski sambil menangis ) di tengah kabut. 

Dan itu sungguh tarian indah, tarian penerimaan. 

~ DARWIS TERE LIYE ~ 



Selama masih ada detak nafas kehidupan, setiap orang pasti dan akan menghadapi yang namanya musibah. Apapun itu bentuknya, besar ataupun kecil. Rasa sakit, kekecewaan, kehilangan, kegagalan, ditinggalkan atau jodoh yang tak kunjung datang …. Hiks. Dan keragaman bentuk musibah itulah yang akan membentuk kepribadian seseorang, terkait dengan bagaimana sikap orang itu dalam menerima setiap musibah yang menimpanya. 

Konon katanya nih, seseorang yang tengah menghadapi rintangan yang berat, terkadang hati kecilnya membisikkan agar berhenti, menyerah alias berputus asa. Dorongan hati kecil itu selanjutnya akan menjadi keinginan jiwa. Dan jika keinginan menyerah itu ditahan, ditekan dan tidak diikuti, maka tindakan ini merupakan bentuk dari hakikat penerimaan yang mendorongnya agar tetap melanjutkan usahanya walaupun harus menghadapi berbagai rintangan yang berat. Dia akan terus berproses untuk menjadi apa dan siapa pun yang dicita-citakannya dalam suka dan duka. Dengan berbagai cara ia akan terus mencari dalam bentuk kreativitas untuk selalu berbuat sesuatu, kapan dan di mana pun ia berada. 

Penerimaan disini dalam arti menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Menerima bukan berarti pasrah begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Di kala sedang terhimpit kesulitan, kita bisa belajar bagaimana agar kita ”sekarang” bisa berbenah agar di masa mendatang bisa terhindar dari kesulitan dan bagaimana kita akan menghadapi setiap kesulitan jika hal itu terjadi lagi. Atau, bagaimana kita bersikap dengan sikap yang terbaik ketika musibah menjadi sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. 

Ada yang menanggapi sikap penerimaan kita secara negatif dan ada pula yang menanggapinya secara positif. Saya sendiri juga mengalaminya kok. Biasanya tanggapan negatif berasal dari orang-orang yang tidak mengenal kita secara langsung. Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik. Hidup ini penuh dengan keindahan dan pengharapan. Sudahlah, apapun opini mereka saya terima aja, sabar dan tawakal gitu loh. Istilah kerennya, whatever … terserahlah orang mau bilang apa … he he he. 

Ada banyak hal yang saya alami, diantaranya rasa sakit. Kalau rasa sakit yang lain tidak perlu saya ceritakan yaa, biar ALLAH, SWT aja yang tahu … LoL. Bagi sesama penderita Hipertiroid parah, pasti tahu rasa menyiksanya tuh seperti apa ? Apalagi kalau sedang kambuh, jangan tanya dah. Mulai dari tremor, kepanasan, kepala pusing seperti mabuk kapal laut, diare, mual, tulang-tulang sendi seperti ditarik-tarik, mata tidak tahan sinar, belum lagi hoak hoek karena napas menjadi berat. Duduk nggak kuat, jalan juga sempoyongan dan satu-satunya hiburan cuma tidur, itupun juga tidak nyenyak. Pokoknya nggak ada pilihannya sama sekali. 

Satu-satunya jalan yang saya lakukan adalah menerima, mungkin itu yang terbaik daripada mengeluh kesana-kemari. Bukan karena sok tegar atau apa gitu, sebagai salah satu bentuk kalau saya tidak menyerah begitu saja. Sebagai manusia biasa, jujur, saya juga banyak cengengnya, sering nangis kalau sendirian. Apalagi saat merasakan sakit yang luar biasa, orang lain malah menganggap saya ngeles dan hanya cari-cari alasan untuk menghindar atau ingin mendapatkan belas kasihan. Wah, nggak banget lah yaa. Padahal, saya kalau bilang sakit berarti sudah nggak kuat lagi tuh, Profesor yang merawat saya aja keder kalau saya sakit … LoL. 

Kita berhasil karena berikhtiar. Orang sakit pergi berobat, nelayan menebarkan jalanya, petani menanamkan benih, penulis mengisi pena-nya dengan tinta. Ini adalah prinsip sederhana tentang ikhtiar. Tak sebuah kata bisa tertulis dari pena yang kosong. Orang yang sakit tidak akan sembuh kalau tidak minum obat. Ikan tidak akan didapat kalau nelayan tidak menebarkan jala dan menunggunya. 

Bersyukur pada akhirnya akan menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin berkata bahwa kita tidak realistis. Namun, bersyukur adalah sikap menerima kenyataan. Kalau sedang sakit, kehilangan sesuatu atau tertimpa musibah lainnya, terima aja dan jangan pernah menyangkalnya. Tak ada yang meringankan hidup selain sikap menerima. Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kita menerima. Semakin sering kita mengingkari, semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri sendiri. Banyak orang terpaku pada penderitaan dan kegagalan lalu mengingkarinya. Padahal salah satu jalan untuk mengurangi rasa sakit adalah menerima kenyataan. 

Tulisan ini saya dedikasikan teman-teman dan saudara yang senasib seperjuangan, terutama untuk diri saya sendiri yang sering cengeng, mellow, agar tidak tergoda setan yang terkutuk … he he he. Tulisan pertama saya di tahun 2016, yang saya tulis dengan susah payah, sempat over pede karena kemarin saya tahan online lebih dari 1 jam. Dan sekarang 45 menit, punggung pegel linu, pusing, sudah mulai hoak-hoek lagi. Mungkin besok mesti berikhtiar lagi ke ahli Endokrinologi. 

Akhirul kalam, mohon maaf bila ada kesalahan tulis dan kekhilafan kata-kata. Semoga yang sedang kesakitan segera diberi kesembuhan oleh ALLAH, SWT dan kita semua selalu dilimpahi Rahmat, Taufik dan Hidayah-NYA … Aamiin Yaa Rabbal Alamin. 




Tuesday, 13 October 2015

The Meaning of Life



Mungkin, banyak orang yang sering berpikir dan bertanya, apa sih arti kehidupan ini? Kenapa sih kita harus hidup di dunia ini ? Untuk apa kita berdo’a ? Jika dicermati sedemikian rupa atas pertanyaan-pertanyaan itu, maka akan banyak sekali jawaban. Satu dengan lainnya bisa saja bertentangan, tidak sama atau bisa saja mirip. Jawaban tentu bergantung pada ilmu dan akhlak orang yang menjawabnya. Juga terletak pada nilai kemaslahatan dan manfaatnya. Jika kita menjalani dan memahami hidup dengan benar, dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. 

Bagi sebagian orang kehidupan adalah uang dan kesenangan. Jadi setiap detik dalam kehidupannya digunakan untuk mencari uang dan bersenang-senang. Jika tidak ada uang, ia seperti kehilangan hidupnya. Ada pula yang menjawab bahwa kehidupan adalah kedudukan atau pangkat dan jabatan. Mereka yang menganggap bahwa dunia adalah titik akhir, sehingga terus mencari kesenangan dunia. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita hidup hanya sekedar mencari makan, hidup sekedar untuk hidup, bekerja sekedar untuk bekerja, hanya mencari materi duniawi, uang yang banyak, kendaraan mewah, rumah bak istana dengan jumlah yang banyak dan pendamping yang rupawan ? Apakah hidup ini cukup dengan hanya memiliki nama dan pengakuan dari orang lain ? 

Wajar jika manusia suka kepada dunia, orang biasa, alim ataupun ulama, apalagi manusia seperti saya … he he he. Makan, minum, belajar, bekerja, istirahat, olahraga dan sebagainya. Semuanya adalah bagian dari kehidupan kita, sebuah ketentuan yang telah dikehendaki oleh Allah, SWT. Semuanya yang namanya manusia memandang indah wanita, pria, anak-anak, harta benda dan kekayaan yang melimpah. Menurut Buya Hamka nih, jika kita hidup sekedar untuk hidup, babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja, Banyak orang yang secara materi berlimpah, memiliki jabatan tinggi, suami yang ganteng, istri yang cantik, seakan serba serasi dan terlihat seolah-olah hidupnya bahagia, tapi sebenarnya banyak diantara mereka yang hatinya kosong. Hmm … hanya sekedar pencitraan di depan orang lain kali yaa, dunia ini panggung sandiwara … LoL. Pada kenyataannya, suami kemana, istri kemana dan anak juga kemana. Semua harta yang mereka miliki seolah tak mampu membuat mereka bahagia dalam arti yang sesungguhnya. 

Arti kehidupan bagi penghuni kolong jembatan tentunya juga berbeda. Kayaknya mereka happy-happy aja tuh dengan cara hidup mereka. Bagi mereka arti kehidupan adalah ada tempat untuk berlindung dan makan ala kadarnya. Iyalah, gimana nggak happy, mereka tidak perlu membayar tagihan listrik, telepon, air minum dan pajak ini itu. Hanya satu yang bikin mereka nggak happy, petugas Satpol PP … LoL. Teman saya ada yang lebih aneh lagi, hidup baginya adalah kesempurnaan. Jadi, apa-apa dia maunya yang perfect dalam segala hal, terutama soal pendamping hidup. Sampai saat ini teman wanitanya selalu berganti-ganti terus sampai tak terhitung. Dia bosan lalu tinggalkan, bosan tinggalkan, begitu terus seolah tidak ada yang pantas semua. Dikatakan playboy atau penjahat wanita, dia tidak terima, lucu ya. Tapi kalau melihat yang seperti itu malah miris jadinya, kesannya jadi melecehkan seorang wanita. Apalagi usianya juga sudah berumur ( lebih tuaan dikit dari saya … he he he ), seharusnya dia sudah settle down dengan seseorang, jadi saya hanya bisa mendo’akan, semoga umurnya cukup dalam pencariannya itu. Tobat nasuha, Bro … LoL.

Saya sendiri kalau ditanya tentang arti kehidupan pasti akan saya jawab, Life is a journey. Kalau ada yang ngeyel, where’s the map ? Peta-nya sudah ada kok, tinggal menunggu petunjuknya aja … he he he. Karena sudah sering mendapatkan “ perhatian “ dari ALLAH, dengan berbagai peristiwa, saya lebih suka menjalani hidup apa adanya, tidak ngoyo ataupun iri dengan kehidupan orang lain. Setiap manusia kan sudah ada suratannya masing-masing. Tapi kalau ada orang yang iri, dengki atau jengkel dengan kehidupan saya ataupun merasa terganggu dengan eksistensi saya, silahkan aja, itu masalah Anda. Apapun pandangan Anda terhadap kehidupan saya, monggo kerso panjenengan … LoL. Semua yang terjadi pada kehidupan saya adalah takdir yang sudah ditentukan dan tidak mungkin saya bisa mengelak. Yang penting, saya terus belajar, banyak-banyak bersyukur, berusaha berbuat yang terbaik dan tahu ke mana arah tujuan saya. Kalau kita melakukan hal-hal yang baik, tentunya lingkungan di sekitar kita akan terkena dampak baiknya juga. 

Kecenderungan sifat manusia adalah tidak pernah puas, takabur dan riya’. Baru diberi sedikit kenikmatan aja sudah sombongnya minta ampun, sudah merasa diatas angin. Padahal sesuatu yang berhubungan dengan duniawi dalam sekejap bisa musnah bila ALLAH berkehendak, tanpa banyak bicara dan tanpa peringatan. Pun dengan kesehatan, mungkin sekarang kita dalam kondisi sehat segar bugar, namun tak tahu kapan akan jatuh sakit. Bisa saja saat ini berlimpah harta benda, tapi besok, siapa tahu harta itu bisa musnah. Tidak ada yang tahu seberapa lama hidup kita dan tidak ada yang pernah tahu, bagaimana nasib kita ke depannya.

Orang yang sudah tahu tujuan dia hidup dan untuk apa dia hidup, maka dia tidak akan pernah berfikir bahwa dia akan hidup selama-lamanya di dunia. Dia juga tidak mungkin berfikir untuk bisa hidup hanya dengan tangannya sendiri tanpa ada peran " tangan Tuhan " dan juga manusia yang lainnya sebagai makhluk sosial. Sekuat apapun kita, tetap akan membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita. Memangnya kalau kita sakit parah, kita bisa menyetir sendiri, berobat ke rumah sakit ? Menggali kuburan kita sendiri saat sudah mati ? Kalau bisa malah gawat tuh, yang melayat pada ngacir semua … LoL. Kebanyakan orang juga seringkali lupa dan tidak mau mengoreksi diri sendiri. Lebih banyak melihat kesalahan orang lain tanpa bercermin terlebih dahulu. Merasa dirinya paling hebat, paling baik dan paling bijak. Seandainya terjadi sesuatu, mereka selalu mengeluh dan merasa menjadi orang yang terdzalimi. Padahal semua yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, entah di masa lalu ataupun sekarang. 

Kalau saya melihat dan mengamati orang-orang yang saya temui, banyak sekali dari mereka yang terpuruk itu pada awalnya punya perasaan ujub, suka riya dan merasa jumawa dengan keberadaan dirinya. Bahkan pada saat terpuruk pun mereka tidak pernah mengoreksi diri, berkoar-koar pada semua orang kalau dia sudah didzalimi, disakiti dan dikhianati. Padahal kalau mau hitung-hitungan, justru mereka-lah dulunya yang sering mendzalimi orang. Baik dengan kata-kata dan perbuatan, disengaja ataupun tidak. Termasuk juga dalam hal mencari rezeki. Jarak antara yang halal dan yang haram hanya seutas benang, jika benang ditarik, sreeet … yang haram tiba-tiba dijadikan halal, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka. Banyak sekali yang berucap syukur karena merasa mendapatkan limpahan nikmat …. Alhamdulillah Yaa Allah, saya mendapatkan banyak rejeki hari ini. Padahal nikmat yang dia dapatkan itu hasil dari perbuatan mereka yang tidak terpuji, bukan hasil dari kerja keras karena berikhtiar, misalnya melakukan sesuatu yang diharamkan, merampas, mengambil hak milik orang lain, menipu, melacurkan diri ( ma’af beribu ma’af ) …. Naudzubillahi min dzalik. Tapi bagi mereka yang “ merasa “ baru mendapatkan musibah, limpahan nikmat itu dianggap sebagai barokah. Jujur, hal-hal seperti itu terlihat aneh dan terkadang membuat saya ingin tertawa, mungkin bagi Anda juga kali yaa. Sepertinya kok ada yang error gitu loh … he he he. 

Kalau kita mau berpikir lebih jauh lagi, terkadang limpahan nikmat yang bertubi-tubi itu mungkin saja ujian dari Allah, SWT yang sesungguhnya. Atau mungkin sebagai bentuk ketidak pedulin-Nya lagi pada kita, dikasih cobaan tapi malah semakin sombong dan kemaruk harta. Istilah jawanya, urip di ujo bondho terus-terusan. Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu berhati-hati dalam bertutur dan bertindak, apalagi kalau hal itu melibatkan orang lain. Lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum tahu persis apakah hal tersebut baik, buruk, terpuji, tercela, halal atau haram. 

Sebagai manusia yang beragama tentunya kita mempunyai sandaran hidup akan keyakinan kita terhadap Tuhan. Agar tegar dalam menghadapi setiap gejolak kehidupan. Kita bisa menemukan arti kehidupan sesungguhnya lewat agama yang kita anut. Dengan begitu kita akan sadar sejauh mana kita mengartikan kehidupan ini. Dan pada akhirnya tinggal kita sendiri yang menyimpulkan apa arti kehidupan ini ? untuk apa ? dan akan dibawa kemana arah kehidupan kita ? Mungkin setiap manusia boleh saja berbeda dalam mengartikan kehidupan, tetapi jangan pernah terjerumus kedalam arus kehidupan yang akan menyesatkan diri kita sendiri. Wallaahu a’lam bissawab.

Hanya ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 1437 HIJRIYAH, semoga ALLAH, SWT melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya pada pada kita semua … Aamiin Yaa Rabbal Alamin. 


This is the beginning of a new day and new years 
What I do today is important
When tomorrow comes, this day will be gone forever
And I just want to be a better person 

Goodbye yesterday
Hello today
Welcome tomorrow …


~ SOLO, 1 MUHARRAM 1437 HIJRIYAH ~





Monday, 21 September 2015

HATERS


Suka mencari-cari kesalahan, komentarnya pedas, mengkritik dengan bahasa frontal, selalu berpikiran negatif, suka pamer, merasa dirinya paling benar, hebat, paling cantik, paling ganteng, suka kepo, pandai berkelit, kreatif dalam membuat isu, tidak pernah kehabisan akal untuk menjatuhkan orang lain, suka menertawakan orang, sangat memperhatikan kekurangan orang lain dalam hal apa pun dan orang lain selalu salah di matanya. Anda familiar dengan orang-orang yang memiliki karakteristik seperti itu ? Atau ada beberapa orang di sekitar Anda punya sifat seperti itu, entah itu teman atau saudara. Apa yang ada di benak Anda ketika melihat manusia seperti itu ? Manusia iri ? Dengki ? Orang iseng ? Atau kebun binatang berjalan ? Hmm … tidak lain dan tidak bukan, itulah yang dinamakan Having Aggression Towards Everyone Reaching Success alias Haters. 

Buat yang belum ngeh, haters itu bisa diartikan dengan " Pembenci " atau orang yang selalu tidak suka dengan segala perbuatan kita. Kalau di alam nyata, orang-orang seperti itu dikenal sebagai manusia yang punya sifat hasad alias suka iri dan dengki. Dengan orang yang sudah dikenal ataupun yang tidak dikenal. Dan orang yang punya sifat hasad ini biasanya juga suka menghasut. Haters di dunia maya lebih parah daripada manusia hasad. Lho, kok bisa sih ? Kalau kita dibenci karena sifat atau tingkah laku kita yang kurang pantas, itu mah wajar yaa. Tapi kalau kita sudah introspeksi diri dan merasa baik-baik saja, kan aneh juga, betul nggak ? Meskipun memang benar sebaik-baiknya kita menjadi manusia, tetap saja ada orang yang tidak suka, bahkan membenci kita. Maklum-lah namanya juga manusia, asalkan masih dalam batas kewajaran, mungkin orang lain masih bisa mentolerir. Bagi manusia normal, memang tingkah mereka memang super aneh dan melewati batas. Tapi bagi para haters sendiri, mereka menganggapnya wajar-wajar aja. Era demokrasi gitu loh, semua orang berhak mengeluarkan pendapat. Benar-benar membuat orang tepok jidat dan gedheg-gedheg … LoL. 

Internet saat ini memang penuh dengan hal-hal aneh dan ganjil, yang semakin ekstrem bermunculan selama beberapa tahun terakhir ini. Seiring dengan semakin berkembangnya tehnologi, banyaknya generasi muda yang meluangkan waktunya dengan internet dan semakin sedikit meluangkan waktu berinteraksi dengan orang di dunia nyata. Mulai dari kantor, sekolah, pasar, pinggir jalan dan angkutan umum, rata-rata pada memegang gadget semua. Dan tempat yang paling sering dibuka adalah situs-situs media sosial yang populer, seperti Facebook dan Twitter. Komentar-komentar bermunculan seperti terjadi perang kata-kata, debat kusir yang tak berkesudahan.

Cara manusia biar dikatakan gaul untuk cari perhatian dan eksis memang tidak pernah habis. Ironisnya, dari waktu ke waktu caranya juga semakin aneh. Mulai dari yang paling klasik yaitu pamer, tentunya pamer yang lebih halus dan kelihatan rendah hati, dengan sedikit menyitir ayat-ayat dari kitab suci … he he he. Tidak salah kok, berdakwah di media sosial dan mengajak orang kearah yang lebih baik. Malah sangat bagus tuh, Amar ma’ruf nahi munkar. Yang membuat kelihatan aneh adalah kalau mereka memang taat dalam beribadah, paham banget tentang agama, kenapa juga harus pakai menyindir orang per orang, menghakimi dan kesannya jadi nyinyir banget. Kalau pamer barang dagangan sih wajar aja, namanya juga orang jualan. Lha ini, pamer, nyindir dan nyinyir, seolah mereka sendiri yang berada di jalan yang benar, yang lain salah semua. Ini menurut analisa sotoy ane lho yaa … LoL.

Yang agak modern memakai cara dengan memposting status galau, agar diperhatikan. Tujuannya hanya satu, ingin ditanya. Yuups, pengen banget ditanya terutama tentang kehidupannya dan jawabannya bisa ditebak, pamer. Padahal kehidupannya jauh dari kenyataan yang sebenarnya alias not real. Tujuannya hanya untuk pencitraan, butuh pengakuan dari orang lain agar dianggap eksis, hebat, bijaksana, super dan sempurna. Sifat ini sebenarnya sudah kelihatan dari beberapa orang yang saya temukan di media sosial, tidak satu kata hati dan perbuatan. Perbedaan yang terlalu jauh antara realita dan dunia maya. Kalau manusia normal pastilah mereka meng-up date status dengan cara-cara yang normal juga. Entah itu dikomentari atau tidak, dikasih jempol atau tidak, mereka stay calm aja. Untuk takaran yang lebih ekstrim lagi, yang mabuk pamer dan yang gila hormat, biasanya antara pertanyaan atau jawabannya juga nggak nyambung, OOT alias out of topic. Kalau tidak ada yang kasih komen atau jempol, mereka jadi uring-uringan nggak jelas. Malah jadi kelihatan kualitas mereka yang sebenarnya, ngakunya sih sarjana, tapi gaya bicaranya kayak preman pasar ... Oops …. he he he. 

Secara logika nih, mana ada haters yang cantik semlohay atau ganteng, kaya, pinter, baik hati, sopan, bijaksana dan ahli agama. Yang ada manusia-manusia dengan kualitas itu malah banyak haters-nya tuh. Kebanyakan para haters tuh kehidupan yang sebenarnya jauuuh banget dari apa yang mereka pertontonkan di media sosial. Lebih banyak kekurangannya, entah itu dari segi materi, fisik dan caranya bersosialisasi. Bisa jadi, eksistensinya di dunia nyata dianggap sebelah mata alias diremehkan. Mulai dari teman, tetangga, suami, istri dan bahkan saudaranya sendiri. Prestasi yang dihasilkannya pun biasanya yang kategori biasa-biasa aja, jauh dari kata luar biasa. Dan hal seperti itu sudah membuat mereka melambung alias over confident, menganggap kalau dirinya-lah yang terhebat. Hasilnya, makhluk yang sebenarnya patut dikasihani ini merasa perlu menyerang semua orang yang hidupnya adem ayem, tentrem, damai, bahagia dan melakukan hal-hal yang positif.

Karena itulah haters rajin banget men-stalking akun-akun kita, men-cek siapa saja yang mention kita, mengamati display picture BB kita, dibandingkan dengan kawan-kawan biasa yang kita miliki. Dan bisa jadi pula, para haters kita lah orang-orang pertama yang tahu berita tentang diri kita, sangat update. Dan kalau ditanya kenapa, jawabannya pasti seperti ini, " Ya suka-suka gue dong mau benci, mau suka apa nggak ke orang, itu urusan gue !". Dari pernyataan itu sudah jelas banget betapa konyolnya dia. Dia bilang benci, tapi nggak mau bilang kenapa bencinya. Yuups ... tidak mau bilang alasannya karena dia malu atas kekonyolan sendiri, ketahuan kepo. Tapi kalau dipikir-pikir, mana ada Haters yang malu yaa. Rata-rata para Haters itu bermental badak, tahan cuaca kayak Aquaproof … LoL. Mereka mengalihkan pembicaraan, tujuannya untuk mencari celah keburukan dan menyerang kita, tapi tetap saja perilaku tersebut menunjukkan betapa mereka itu benar-benar miskin hati dan miskin perasaan. Kasihan deh lu … LoL.

Para Haters sebenarnya adalah orang-orang yang bersedih karena kehidupan mereka tidak seperti yang mereka harapkan, pembohong kelas teri yang berpura-pura sok aksi dan mereka percaya kalau bisa menghancurkan kesuksesan orang lain, barulah mereka akan merasa puas. Puas bisa menghina, mencaci maki dan menertawakan orang lain. Seseorang pengecut dan pecundang karena ia hanya bisa mencari keburukan dari orang lain. Kenapa tidak bercermin dan melihat dirinya sendiri. Tidak perlu bicara tentang kejelekan atau keburukan orang lain, apalagi di media sosial. Tidak perlu berlebihan juga dalam update status atau komentar. Percuma dan tidak berguna. Nobody's perfect, isn't it? 

Tuhan itu maha adil, setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. tapi jangan membuat kekurangan diri sendiri dengan menjadi seorang Haters yang hanya bisa nyinyir dengan kelebihan orang lain atau mengejek kekurangan orang lain. Mungkin sekarang masih bisa kepo, ketawa-ketiwi, mencaci dan menghina orang lain, besok-besok siapa yang tahu ? Allah, SWT adalah sutradara dan arsitek kehidupan manusia yang luar biasa, scene-scene kehidupan rancangan-Nya tidak seperti sinetron yang mudah ditebak. Skenario kehidupan rancangan Allah jelas menarik dan super hebat, selalu ada maksud-maksud tersembunyi yang tak pernah terbayangkan, entah itu kesenangan duniawi, banyak uang ataupun saat tertimpa musibah. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini dan biasanya baru disadari setelah melewatinya. 

Saya sendiri juga sudah terlalu sering kok berhadapan dengan pasukan Haters, pasukan nasi bungkus dan siapapun itu entah apa nama bekennya, manusia kepo, nerd, troll, funboy … saking banyaknya sampai mumet, tapi saya cuek bebek ajaahh … LoL. Apapun itu, kata-kata haters tidak perlu dimasukkan hati. Jengkel sih memang iya tapi kalau sampai terpancing emosi, yang rugi kan kita sendiri. Kita jadi ikut menjadi penghuni kebun binatang. Pikir lebih dalam lagi, mana ada kebun binatang yang bersihnya kayak Masjid ? Itu berarti Anda turun level, dari tempat yang nyaman ke tempat dimana hukum rimba berlaku dan segala macam kotoran ada. Dan kalau Anda sudah sukses nyungsep ke kebun binatang, bakal ribet saat balik lagi ke masjid, perlu membersihkan diri, mandi dan luluran sampai bersih ... he he he. Itulah tujuan utama mereka, memancing Anda untuk turun level menjadi seperti mereka. Penghuni kebun binatang ! Amit-amit dah, na’udzubillah min dzalik … 

Nikmati apa yang udah Anda dapatkan, jangan menjadi pendusta nikmat. Biarkan para haters jalan di tempat, karena mereka selalu sibuk sendiri untuk “ mengurusi “ urusan orang lain, mereka kan bisanya hanya begitu-begitu ajjaahh. Justru karena mereka jeli dalam mencari-cari kekurangan kita yang mereka sampaikan kepada kita baik dengan cara menyindir ataupun frontal, kita bakal jadi lebih sadar, bagian mana dari diri kita yang harus dibenahi. Menyakitkan memang tapi anggap saja semua kritik pedas mereka adalah kritik yang membangun. Kita hanya perlu jengkel, nangis atau teriak-teriak dengan cara yang berkelas, tapi cukup sekali aja yaa. Bukankah setiap perbuatan, entah itu baik atau buruk selalu ada balasannya, betul nggak ? Biarlah Yang Maha Kuasa aja yang membalas perbuatan mereka. So, let it go … let it go …

Intinya, bila kita dibenci oleh sebab yang tidak berdasar karena setelah introspeksi kita menyadari sedang dalam upaya perbaikan diri, bukan sedang melakukan keburukan atau maksiat, maka keberadaan haters merupakan anugerah Allah agar dosa-dosa kita sedikit berkurang, anggap saja begitu … he he he. Nikmati kehidupan yang hanya sekali ini dengan menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam segala keadaan. Sebab syukur itu memancing anugerah dan rejeki yang lebih besar dari Allah, sedangkan keluhan memancing hambatan yang lebih besar lagi dan juga jauh dari Allah. Bersyukur saat mendapatkan kesenangan mah siapapun juga bisa, iya nggak ? Kalau kita bersyukur saat ada orang lain yang menghina dan menertawakan kita, selalu bisa stay cool dalam menghadapi segala pancingan haters, berarti Anda memang punya mental juara. Cool, calm, confident … LoL. 

Manusia yang normal biasanya sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Produktif dalam kehidupan sehari-harinya, menghabiskan waktu secara berarti bersama teman-teman dan keluarga mereka. Memberi komentar, kritik, pendapat dengan santai dan lapang dada. Berbagi kebahagiaan di media sosial dengan wajar, tidak berlebihan dan tanpa ada unsur riya’. Mereka boleh jadi memberi sesuatu yang bermanfaat dalam informasi, berkomentar dan menanyakan pertanyaan yang cerdas. Mereka juga tidak " butuh " pengakuan ataupun pujian dari dunia maya. Meskipun jujur nih, semua orang pasti ada keinginan untuk dipuji dan diakui, tapi mereka lebih suka mendapatkannya dari orang-orang disekitarnya. Tidak perlu berkoar-koar agar seluruh dunia tahu, tindakan nyata-lah yang akan membuktikannya.

Jika Anda menemukan banyak sekali manusia seperti yang saya ulas diawal tadi di Internet, segera bercermin dan tersenyum karena Anda tergolong manusia normal, so am I, saya juga … LoL. Jika sekarang ada yang marah karena artikel ini, maka bisa jadi Anda adalah salah satu haters. Biasanya nih, haters tidak mau mengakui dirinya sebagai haters, malahan suka menunjuk orang lain sebagai haters. Satu jari menunjuk orang lain, tiga jari yang lainnya menunjuk pada dirinya sendiri. Itulah, Haters. By the way, dekat rumah saya ada keluarga yang bangga dikenal sebagai Hater. Bahkan sampai sekarang, sudah almarhum pun tetap menjadi Hater, istrinya juga dipanggil Bu Hater, lha wong namanya memang M. Hater, cuma nggak ada tambahan huruf S-nya … he he he.

Last but not least, Ajining sarira ana ing busana, ajining diri ana ing kedhaling lathi. Hormatilah dan hargailah orang lain agar Anda juga dihormati.  Haters gonna be hate ....