Saturday, 4 October 2014

EID DAY


Hari ini umat Islam di seluruh dunia berbondong-bondong untuk melaksanakan dua rakaat shalat sunah, yaitu shalat Ied. Meskipun di Indonesia ada perbedaan karena ada yang berkeyakinan untuk shalat Ied di hari minggu. Tapi saya dan keluarga saya lebaran hari ini, meskipun pelaksanaan qurbannya hari Minggu. Bukan apa-apa, karena tukang jagal dan tim-nya datangnya pada hari Minggu, waiting list gitu loh ...... he he he. 

Bagi umat Islam, Idul Adha dan Idul Fitri memiliki nilai historis yang begitu mendalam. Idul Adha atau yang sering kita kenal dengan Idul Qurban, mengingatkan kepada kita bagaimana proses perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Dimana nabi Ibrahim mendapatkan petunjuk dalam mimpinya untuk menyembelih putranya sendiri, yang bernama Ismail, putra yang ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Disinilah nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati yang dicintainya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis, namun karena ketakwaan dan kecintaannya kepada ALLAH, SWT melebihi segalanya, walau pada akhirnya nabi Ismail as digantikan dengan seekor hewan kurban atau yang lebih dikenal dengan kambing. Itu yang sering diceritakan mendiang nenek saya saat saya dan adik-adik saya masih kecil ..... dikorokin kupingnya .... LoL. 

Berbeda dengan Idul Fitri yang menjadi puncak dari kemenangan hanya dapat dirasakan oleh masing-masing individu yang menjalankan perintah sebelumnya yaitu berupa puasa di bulan Ramadan. Idul Adha yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah Haji menjadi momentum sejarah yang mengajak umat islam kepada pola kehidupan sosial dengan membangun kekuatan spiritualitas diri yang tinggi dan bentuk ketulusan dalam menjalankan perintah-perintah ALLAH, SWT. Qurban juga dijadikan kendaraan bagi seseorang menuju ke surga. Saat masih kecil dan belum paham betul, dalam pikiran saya waktu itu, terbang ke langit naik kambing. Bouraq aja kalah tuh .... he he he. Ada pemikiran seperti itu karena nenek saya seorang ahli tafsir, makanya pandai merangkai kata dan memberi penjelasan sesuai dengan kapasitas, yang mana untuk orang dewasa dan untuk anak-anak. 

Banyak cerita-cerita lucu dan sekaligus konyol saat saya masih kecil. Kalau di hari raya Idul Fitri anak-anak pada sibuk nyari duit, di hari raya Qurban pada berbondong-bondong datang ke halaman masjid, untuk melihat dan ngasih makan kambing. Bisa habis 100 halaman kalau semua kekonyolan itu diceritakan .... LoL.

Ibadah qurban adalah salah satu wujud dari rasa syukur, keikhlasan dan puncak ketakwaan. Sebagai tanda kembalinya manusia kepada ALLAH, SWT setelah menghadapi ujian. Qurban disyariatkan bagi manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan memerlukan pengorbanan. Dan untuk mencapai ketakwaan bukan hanya pada hari raya saja tetapi juga dalam keseharian. 

Sebagai umat muslim kita dituntut tidak hanya melaksanakan ritual keagamaan semata atau hanya sekedar melaksanakan perintah ALLAH, SWT. Qurban juga sebagai wujud dari syiar dan memanifestasikan rasa solidaritas kita kepada sesama. Dengan cara membagi-bagikan daging qurban kepada kaum dhuafa di sekitar tempat tinggal kita. Artinya daging kurban tidak hanya dinikmati oleh saudara atau orang terdekat saja, tetapi benar-benar dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan.

Yang terpenting dalam hal ini adalah niat dan keikhlasan. Apapun perwujudan dari qurban, entah itu kambing, sapi ataupun onta, hanya ALLAH, SWT yang tahu kedalaman hati seorang manusia. Ada yang berqurban karena semata-mata hanya menjalankan tradisi sehingga syarat-syarat untuk berqurban diabaikan. Ada juga yang merasa " terpaksa " karena dia ingin agar orang lain tahu kalau mengeluarkan uang untuk berqurban.

Semoga Idul Adha kita kali ini menjadi semangat pengorbanan yang hakiki. Sebagai satu semangat yang melandasi hidup dan kehidupan kita menuju ridha Ilahi. Membuka hati nurani kita untuk menyadari realita akan kebesaran ALLAH, SWT. Dan yang sedang menjalankan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur .... Aamiin. 

EID MUBARAK ..... 


Sunday, 28 September 2014

ONLY A HUMAN

Hari-hari yang melelahkan karena mengurusi segala tetek bengek pernikahan adik sepupu saya dari A sampai Z. Lebih melelahkan lagi saat Departemen Kesehatan melakukan kunjungan ke rumah untuk mensertifikasi usaha kecil saya di bidang kuliner. Kunjungan setiap 3 tahun sekali yang mau tidak mau harus saya terima dengan ramah dan muka yang berseri-seri .... LoL. Sejak bulan April sampai dua minggu yang lalu seperti mengikuti lomba lari marathon, setiap detik kejar-kejaran dengan waktu. Rasanya lega setelah semuanya berlalu. Saya punya banyak waktu lagi untuk menulis dan keluyuran. Finally ......

Eh, malah ngelantur nih. Sebenarnya saya ingin nulis tentang tingkah laku manusia yang disebut dengan jahil bin usil alias iseng. Jahil atau usil menurut saya perilaku orang atau kelompok yang melakukan kegiatan untuk kesenangan pribadinya. 

Sebagai manusia, saya juga suka jahil bin usil. Karena suka bercanda, makanya saya suka iseng gitu loh .... he he he. Yang menjadi korban kejahilan saya sih biasanya anak kecil, teman atau orang-orang yang saya kenal dengan baik. Tapi kejahilan saya tidak keterlaluan lho, tidak sampai menyakiti fisik apalagi perasaan. Intinya, jahil yang nyata, tidak keterlaluan, nabok nyilih tangan atau istilahnya " lempar batu sembunyi tangan ". Kalau yang seperti itu menurut saya bukan cuma jahil, tapi juga pengecut. Amit-amit dah ....LoL.

Jujur, saya sendiri juga sering menjadi korban kejahilan orang lain ( hukum karma kali yaa .... he he he ). Saya sih, nyantai-nyantai aja. Mau dijahilin, diomongin, atau digodain, nggak bakalan ngaruh tuh. Bukan berarti saya tidak tahu, kalau masih dalam batas kewajaran sih biasanya saya cuma diam ataupun senyum-senyum aja. Bahkan ada yang hal-hal yang menurut saya aneh saat ada orang yang tak dikenal tiba-tiba saja mengkritik, mentertawakan, mencaci maki dan menghina. Kalau berhadapan dengan manusia seperti itu biasanya saya lebih suka menghindar. Bukannya takut atau tidak punya perasaan, tapi males aja. Rasanya kok malah seperti merendahkan level kita sama seperti orang itu. Nggak penting banget ......

Memang sih, sebagai manusia saya juga punya batasan. Punya kesabaran dan ketidak sabaran. Kalau dulu semasa masih kuliah, saya biasanya balik membalas kejahilan orang. Bukannya pendendam, tapi sekedar berbagi rasa aja, emang enak diusilin ...... he he he. Seiring dengan semakin berkurangnya umur saya alias semakin tua, saya biasanya membiarkan orang-orang yang bertingkah itu. Kalau menurut pandangan orang, kejahilan mereka sangat keterlaluan, biar Allah saja yang membalas. Disadari atau tidak, semua perbuatan, entah baik atau buruk, pasti akan berbalik kembali pada diri kita masing-masing. Ibaratnya, alam-lah yang akan berbicara.

Semoga kita semua tidak termasuk manusia yang keterlaluan karena pada dasarnya manusia dalam kehidupannya tidak bisa hidup dengan seenaknya sendiri, dalam kehidupan orang lain juga terdapat berbagai aturan, dimana aturan-aturan tersebut sesuai dengan norma-norma dan kaidah yang berlaku.

Ngono yo ngono
ning mbok yo ojo koyo ngono .... 


Saturday, 27 September 2014

THE WEDDING


I finally found someone
Someone to share my life
I finally found the one
to be with every night
'Cause whatever I do,
It's just got to be you
My life has just begun ....

Pernikahan adalah sebuah peristiwa yang sangat penting dan berarti dalam hidup seseorang, terutama kaum wanita. Sebagai babak baru dalam perjalanan hidup. Kesakralan sebuah pernikahan terlihat dari prosesi adat yang dilangsungkan sesaat, sebelum dan ketika pernikahan digelar. Meski kehidupan modern sering menganggap prosesi adat tidak praktis dan rumit, namun untuk sebuah pernikahan banyak orang tetap memandang penting menggelarnya sebagai bagian dari pelestarian tradisi sekaligus memaknai kesakralan pernikahan tersebut.

Beberapa minggu yang lalu keluarga besar saya punya hajatan mantu. Menikahkan adik saya atau lebih tepatnya adik sepupu, yang sudah saya anggap seperti adik kandung saya. Dan ketiga sepupu bersaudara ( anak-anak Bulik saya ) juga memanggil orangtua saya, papa dan mama. Karena sejak kecil mereka sudah menjadi anak-anak yatim, dan kebetulan bapak saya juga ikut mengasuh mereka. Karena mereka tinggal di Jakarta dan pernikahan dilangsungkan di Solo, jadi secara otomatis orangtua saya juga ikut-ikutan mantu. Dan saya " didhapuk " menjadi wedding organizer. Meskipun saya sendiri belum menikah ... hiks, tapi sudah terbiasa dengan yang namanya pernikahan. Karena seringnya menghadiri prosesi pernikahan dan ikut menyiapkan acara mulai dari pra upacara pernikahan hingga resepsinya, tapi kalau dulu sih seringnya hanya disuruh nganterin undangan atau dapat bagian bikin snack aja, soalnya masih dianggap anak bawang ..... he he he. Saya pun akhirnya kerap memperhatikan dan membandingkan urutan-urutan upacara pernikahan adat Jawa. Selain mendokumentasikan dalam ingatan momen-momen sakral pernikahan keluarga ( sepupu - sepupu yang tertua ) yang terdahulu.

Karena pernikahan adat Jawa yang lengkap tergolong sangat rumit dan melelahkan, tapi membahagiakan bagi sepasang pengantin .... LoL. Saya memberanikan diri untuk memangkas beberapa ritual agar pernikahan menjadi lebih sederhana tanpa mengurangi kesakralannya. Tidak seperti upacara pernikahan keluarga saya yang lainnya. Tapi karena para kepala suku alias pakde-pakde saya semuanya datang maka ada beberapa tradisi ( pakem ) pernikahan yang dilakukan dengan alasan pelestarian budaya yang sudah turun-temurun, seperti Midodareni, Seserahan dan Atur pambagyo. Setelah itu baru dilaksanakan upacara Akad Nikah dan Walimatul Ursy. Kalau mengikuti tradisi secara full, sampai seminggu juga nggak bakalan selesai dan sekaligus ngabisin duit. 

Rasanya plong saat acara berlangsung cukup sukses, meskipun sempat menaikkan tensi. Maklum, namanya juga menghadapi banyak orang, capek lahir batin. Semua berkumpul untuk menyambung tali silaturrahmi, nostalgia bagi yang sudah tua-tua ( asal jangan kelewatan aja yaa ... LoL ). Bantuan terhebat dari para koneksi, tim catering, fotografer, MC dan para penyanyi. Karena kebanyakan para tamu mengira kalau pesta itu menghabiskan dana 100 juta, padahal super irit banget tuh. Kasih tahu nggak yaa ...... he he he. Kalau dibilang puas, rasanya belum sih, soalnya sepupu saya yang lain minta pesta yang lebih spesial lagi. 

Terlepas dari semua itu, menikah juga bukan masalah pestanya saja, tapi yang lebih penting adalah akad dari pernikahan tersebut. Jangan sampai mengatur pesta sedemikian rupa, tapi rukun-rukunnya ditinggalkan. Moment yang terjadi sekali seumur hidup, Inshaallah. Karena sebuah keinginan untuk menikah dengan niat beribadah kepada Allah SWT dan menjalankan sunnah-Nya, merupakan berkah terindah dari Allah SWT. Semoga yang sudah berniat menikah segera terkabul dan terlaksana, termasuk saya juga loh ..... Aamiin Yaa Rabbal Alamin. 

Wednesday, 2 July 2014

INDONESIA AKAN MEMILIH

 


Satu minggu lagi Indonesia akan punya hajat besar yaitu pemilihan presiden. Lagi-lagi warga Indonesia berkesempatan turun tangan menentukan masa depan negara dan tentunya nasib masing-masing. Hasil pemilu Indonesia juga turut menentukan posisi negeri di kancah internasional. Mungkin bagi saya ( sekarang ) pemilu berarti sebuah kesempatan. Mumpung ada calon yang sesuai dengan kriteria saya. Kesempatan besar untuk mengubah suatu bangsa untuk bergerak lebih baik atau malah semakin terpuruk kalau kita salah pilih. Dan pemilu kali ini hanya hanya ada dua calon sekaligus juga bertepatan di bulan Ramadan.

Saya jadi teringat, di tahun 1998, saat puluhan ribu mahasiswa di seluruh Indonesia turun ke jalan ( termasuk saya ) sebagai bentuk partisipasi aktif dalam berpolitik. Tujuan kami saat itu adalah mencetuskan dan mendorong dimulainya era reformasi. Suksesi kepemimpinan, agar bukan itu-itu saja pemimpinnya. Dan reformasi ternyata bukan harga yang murah, karena pada bulan Mei di tahun itu juga terjadi kerusuhan. Entah siapa yang memulainya, yang jelas bukan dari kami, para mahasiswa. Bahkan di tempat saya, kerusuhan dan kerusakannya lebih parah dari Jakarta. Solo menjadi seperti kota mati. Dan perlu beberapa tahun untuk pulih kembali. 

Sejak reformasi tahun 1998 hingga saat ini, proses demokrasi di Indonesia sudah berjalan baik dan telah mengalami proses pendewasaan demokrasi. Tapi lama kelamaan kok jadi salah arah, melenceng dari tujuan yang semula. Sebenarnya pemilu adalah momentum demokrasi yang teramat penting sebagai bentuk kejujuran. Sebuah investasi untuk ke depan, sebagai modal memperbaiki kondisi bangsa dan negara. 

Tapi yang ada malah sebaliknya, korupsi dan kolusi semakin merajalela. Orang-orang yang dulunya berteriak perangi KKN, kolusi, korupsi dan nepotisme di jaman Orde Baru, malah menjadi manusia yang lebih rakus. Demo-demo yang nggak penting semakin marak. Banyak yang mengartikan reformasi sebagai kebebasan. Dikit-dikit unjuk rasa dan sering terjadi kerusuhan. Orang juga semakin mudah terprovokasi, tersulut amarahnya, sehingga main bakar dan main bacok pun dianggap sebagai proses demokrasi. 

Dan tahun 2004 adalah the real election bagi rakyat Indonesia karena sebelumnya presiden masih dipilih oleh anggota DPR / MPR RI. Jujur, saat itu saya masih ikut memilih karena masih bergabung dengan teman-teman di salah satu partai baru tapi setelah itu, saya out alias pensiun dari hiruk pikuk kampanye, say goodbye dan mengistirahatkan bendera partai yang lebarnya dua meter ( mungkin juga lebih .... LoL) didalam lemari. Pun dengan pilkada, setelah tahun 2005, saya dan keluarga besar juga tidak berpartisipasi. Dulu teman-teman saya kaget waktu tidak datang ke TPS, argumen saya waktu itu, mau milih, mau nggak, mau keluar dari partai, hak asasi dong .... he he he. Tapi sewaktu pileg kemarin mereka juga kaget karena saya dan keluarga saya nongol di TPS, karena hampir sepuluh tahun raib dari peredaran. Lama-lama saya berpikir juga, menjadi golput ternyata malah menjerumuskan ke dalam keterpurukan. Jangan ikut-ikutan yaa ..... nyesel deh ..... 

Apapun arti pemilu bagi Anda, saya tidak bisa mengaturnya. Semua berpulang pada diri Anda masing-masing. Tapi yang harus kita sadari saat ini adalah pemilu merupakan saat dimana kita sebagai rakyat bergerak melakukan perubahan. Meskipun semestinya ada hal yang perlu ditambahkan dalam Undang-Undang atau juga dihapus, apabila seseorang yang ingin mencalonkan diri sebaiknya mundur dan meletakkan jabatan sebelumnya, bukan hanya cuti. Kata-kata cuti sebaiknya dihapus saja. Kayaknya kok keenakan banget ya, kalau jabatan yang diinginkannya tidak kesampaian, dia masih bisa balik lagi ke jabatan lamanya. Ibaratnya, ninggalin istri pertama demi memburu istri kedua, begitu nggak dapet, balik lagi ke istri pertama. Gurih amaaat. Jadi OOT nih .... out of topic ..... he he he. 

Bayangkan kalau calon pemimpin melakukan hal itu, maka kita tidak akan mendapatkan pemimpin yang benar-benar fresh jalan pikirannya. Terkontaminasi dengan kepentingan ini-itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau dukungan itu juga merupakan koalisi untuk membentuk pemerintahan kedepannya. Jadi, tidak ada kamusnya kalau ada dukungan tapi tanpa syarat. Nonsense gitu loh .... 

Yang jelas, kita takkan pernah merasakan perubahan, apabila kita tak melakukan perubahan itu sendiri. Dan pemilu adalah moment penting untuk mengubah negeri ini. Pastikan nama yang akan anda coblos nanti benar-benar anda kenali dan benar-benar dapat menyuarakan aspirasi anda selama lima tahun mendatang. Jangan memilih presiden hanya karena cuma tahu nama dan nomor urutnya saja atau terpesona dengan pencitraan yang telah dibuat. Lihat track record-nya. Anda harus tahu benar bagaimana calon pemimpin itu, kalau perlu tahu telusuri riwayat hidupnya. Ini penting, agar jika dia benar-benar terpilih nanti, anda sebagai pemberi amanah tidak mengalami kekecewaan. 

Memang, tidak ada manusia yang sempurna, semua orang punya kelebihan, kekurangan dan juga dosa. Kalau mencari kekurangan, tidak bakal ada habisnya. Bercerminlah pada diri Anda sendiri, sudah hebatkah Anda ? Sudah sempurnakah ? Yang jelas, Anda harus bisa membedakan mana yang cocok menjadi Leader bagi negara kita. Mana yang lebih dibutuhkan oleh negara kita ?Kalau jadi Manager mah banyak yang bisa tuh. Tidak mudah lho, menjadi seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin itu harus tegas dan punya kewibawaan, nggak cuma cengengas - cengenges aja. Jangan sampai kita gelo setelah memilih, nyesel selama lima tahun. Setelah pemilu dan keadaan semakin terpuruk baru sadar, oh ... ternyata begini. Itu bukan kesalahan dia, tapi kesalahan Anda sendiri dalam menentukan pilihan. Grusa-grusu, sekedar pokoke .... pokoke ..... terbuai dengan janji-janji palsu dan pencitraan. Pilihlah yang terbaik diantara yang terburuk. Kalau salah pilih kan yang rugi kita juga.

KPU juga harus bisa belajar dari pengalaman di pemilu-pemilu sebelumnya karena berdasarkan potret buram masih banyak oknum KPU yang terlibat dalam kecurangan penyelenggaraan pemilu dan berpihak kepada salah satu calon. Masih banyak yang menaruh curiga terhadap kinerja KPU dan juga diduga masih ada “ mafia politik ” yang bermain di belakangnya, sehingga mencederai demokrasi yang bebas, rahasia, jujur, dan adil. Bagaimana pemilu bisa jujur kalau KPU-nya sendiri bobrok. Sebaiknya jangan membuat kebohongan publik, kelihatan tuh, mana yang jujur dan mana yang tidak. Mana yang memihak ke salah satu capres dan mana yang tidak. Kalau ketahuan, pada pintar ngeles kayak bajaj ..... LoL.

Hal-hal yang perlu diwaspadai juga adalah bahaya laten komunis. Sebaiknya kita tidak menutup mata dan pura-pura bego. Solo di jaman dulu adalah basis PKI, sampai sekarang masih banyak anak turunnya dan bangga dengan ideologi yang mereka anut. Tetangga nenek saya pun dengan bangga memajang foto dirinya saat menjadi tentara PKI. Isu-isu dan black campaign yang terjadi saat ini, sama seperti kejadian di tahun 1965 ( menurut saksi sejarah yang masih hidup ). Jadi, hati-hati ..... 

Semua langkah yang anda ambil akan sangat bergantung persepsi terhadap arti pemilu bagi anda sendiri. Jika, anda cuma menganggapnya sebagai ritual lima tahunan yang nggak penting. Nggak ngaruh, toh kita juga nyari duit dan nyari makan sendiri. Mungkin anda juga nggak akan terlalu peduli siapa calon presiden yang anda coblos nantinya. Atau bahkan anda lebih memilih tidur di rumah daripada melakukan sedikit usaha dalam mengubah negeri kita. Soalnya bulan puasa ya, tidur kan dapet pahala ..... he he he.

Hari ini adalah masa depan bagi masa lalu. Dan masa depan kita, suatu saat akan menjadi masa lalu. Masa depan Anda akan suram, jika anda tidak fokus memperbaiki masa sekarang. Masa lalu, sekarang dan masa depan adalah serangkaian waktu yang memiliki jutaan pelajaran yang bisa dipetik. Semoga pemilu minggu depan sukses tanpa ada tindakan anarkis apabila calon presiden yang didukungnya kalah. Cukup sekali saja kerusuhan dan tidak perlu terulang lagi. 

Semoga pilihan saya menang
Semoga .....
Aamiin .... 

Monday, 30 June 2014

RAMADAN STORY


Bagi seorang muslim bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa dan bulan penuh berkah. Demikian banyaknya keutamaan dan peluang untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan Ramadhan ini hingga bulan Ramadan sering dikiaskan dengan perumpamaan " Tamu Agung " yang istimewa. Perumpamaan dan keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain. Namun, mengandung suatu pengertian yang lebih nyata pada aspek penting adanya peluang bagi pendidikan manusia secara lahir dan batin untuk meningkatkan kualitas rohani maupun jasmani sepanjang hidupnya.

Bulan Ramadan dapat disebut sebagai syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan. Penekanan pada kata pendidikan ini menjadi penting karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah SWT. Pendidikan itu meliputi aktivitas yang sebenarnya bersifat umum seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Agar kita bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Jadi, pendidikan itu berhubungan langsung dengan penataan kembali kehidupan kita di segala bidang. 

Selain bermakna bagi kehidupan pribadi. Ramadan juga sangat bermakna bagi kehidupan sosial. Secara fisik orang yang berpuasa mengalami sendiri, susahnya menahan lapar dan dahaga di siang hari. Kondisi ini, akan meluluhkan hati kita untuk mau respon dengan lingkungan sosial, khususnya menyangkut partisipasi kita terhadap kaum miskin. Hal ini menunjukkan, bahwa puasa Ramadan memiliki aspek yang sangat dominan dalam menciptakan rasa ukhuwah atau solidaritas sosial. Ramadan merupakan kesempatan bagi seseorang untuk mendidik hati nurani agar menjadi manusia yang berhati lembut, memiliki rasa persaudaraan yang tinggi dan bersedia mengutamakan kepentingan orang lain demi kebersamaan dan kemaslahatan.

Pastilah banyak cerita-cerita menarik selama menjalankan ibadah puasa, termasuk juga dengan tradisi yang berbeda- beda di setiap tempat. Saya sendiri pernah mengalami perbedaan tradisi itu, karena bapak saya sering berpindah-pindah tugas. Ada daerah yang kental dengan nuansa Muhammadiyah dan ada juga yang kental dengan nuansa Nahdatul Ulama. Makanya, saya hapal, mana bacaan yang sering di lafaz-kan oleh Muhammadiyah dan mana yang sering dilafaz-kan oleh NU. Menyenangkan tapi juga agak membingungkan, karena saya belum menginjak dewasa pada saat itu. Masih belum paham A, I, U, E, O .... LoL. Kalau sekarang sih sudah lain lagi ceritanya. Tapi tidak selama sebulan penuh saya menjalani bulan Ramadan di tempat yang saya tinggali karena sudah menjadi tradisi juga, kalau setiap masa liburan, saya dan adik-adik saya , juga sepupu saya dikirim kerumah nenek untuk belajar agama. Diberi pelajaran tambahan tentang ilmu agama, puasa, zakat, shalat, dan lain-lain. Tapi yang paling utama nih, dibenerin bacaan qur'annya. Dengan nama lain, dikorekin kupingnya ..... he he he.

Dan padusan adalah tradisi yang ada di Solo dan sekitarnya. Dulu saya sering ikut-ikutan anak yang lebih gede, sepupu dan tante saya. Karena umur kami memang nggak beda jauh, hanya terpaut lima tahunan. Sehari menjelang datangnya bulan Ramadan semua orang beramai-ramai datang ke tempat pemandian seperti kolam renang, mata air, sungai dan tempat wisata air untuk mandi disana. Kalau nggak, kita padusan di sumur beramai-ramai. 

Makna dari padusan sendiri, bagi orang Jawa adalah menyucikan diri sebelum datangnya bulan Ramadan. Tapi biasanya sih, yang datang kesana orang yang tidak benar-benar menjalankan puasa, buka tutup kendang alias puasa di hari pertama dan hari terakhir. Harap maklum, seperti di belahan dunia lainnya, ada muslim yang ta'at dan ada juga yang abangan alias beragama Islam hanya di KTP aja.

Saya sendiri memulai puasa full time sehari penuh dan sebulan penuh tanpa bolong saat umur saya menginjak lima tahun. Jadi, yang namanya puasa tuh bagi saya sudah biasa. Meskipun berat sih sebenarnya. Soalnya kita juga nggak menahan haus dan lapar. Kalau disuruh milih neh, antara puasa sunnah dan shalat sunnah, saya lebih milih yang terakhir .... he he he. Terlepas dari semua itu, nggak pernah ada tuh cerita kalau puasa Ramadan bikin orang masuk rumah sakit. Tapi puasa Ramadan dimasa kecil tentunya berbeda ya, pasti ada bolong-bolongnya,ada nakal-nakalnya anak kecil, kalau mau mengakui lho .... LoL. Berbagi cerita dan pengalaman masa kecil itu memang menyenangkan, dengan berbagai kekonyolan yang menggelikan.

Kalau teman-teman saya yang lain memulai puasanya dengan puasa  " dugber " habis bedug langsung beber alias berbuka pada saat adzan Dhuhur dan seterusnya, tapi hal itu tidak berlaku bagi saya. Sehabis Dzuhur, saya makan sampai kenyang, dan setelah itu, saya puasa lagi sampai bedug Maghrib. Seingat saya, saya mulai diajarkan puasa sambung seperti itu saat berumur 3 tahun. Tapi, namanya juga anak-anak, saya juga suka bolong-bolong puasanya. Tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang lainnya. Hari-hari melaksanakan puasa juga tidak mudah, karena bagi seorang anak bermain itu sangat menghabiskan energi. Dan biasanya sih, bersama gerombolan teman-teman, mencari berbagai macam cara mulai dari pura-pura wudhu tapi sambil minum air, manjat pohon belimbing sambil makan buahnya juga ..... he he he. Beda dengan anak-anak jaman sekarang, karena orang tua selalu memberi uang, mereka bebas makan dan jajan dimana saja. Dan tidak merasa malu kalau kepergok orang yang mengenalnya.

Sebagai anak kecil, seingat saya, saya cukup takut saat nenek bilang “ dosa kalau tidak puasa ”. Nanti kalau di surga, saya nggak bakal ketemu lagi sama nenek, kakek, bapak, ibu dan saudara-saudara saya lainnya. Yang pasti, dengan iming-iming baju baru, sandal baru dan juga duit .... yang terakhir ini nih yang paling ditakuti kalau tidak dikasih. Tapi, tentu saja saya juga pernah malas sekali dan nggak mau bangun untuk makan sahur. Biar diiming-imingi ini itu. Karena kecapekan bercanda dan bermain dengan teman-teman makanya mata maunya merem terus karena masih di temploki setan .... he he he. 

Yang paling mengasyikkan dan ditunggu-tunggu di hari-hari puasa itu adalah menunggu saat waktu berbuka alias “ Ngabuburit ”, istilahnya jaman sekarang. Soalnya dijaman dulu tidak ada istilah itu. Mungkin yang paling berkesan cuma di Yogya, biasanya anak laki-laki yang agak dewasa pada nyulut " long bumbung " alias meriam dari bambu. Di Solo, biasanya pada ngumpul di masjid, nyulut " sreng dor " atau mercon cabe rawit sambil menunggu " Dul " alias bedug ditabuh. Kalau di daerah Blora dan pesisir bagian utara, biasa - biasa aja tuh, karena penanda berbuka menggunakan sirine. Mungkin yang berbeda hanya jenis makanannya. Atau mungkin juga karena penduduknya tidak begitu padat dan juga tidak seramai di daerah Yogya atau Solo, maka kesannya cuma begitu-begitu aja.

Tentunya yang berkesan bukan hanya puasanya saja, tapi juga pada saat tarawih dan shalat Subuh. Yang namanya anak-anak, kalau berkumpul pasti pada bermain, nggak itu di masjid atau dimana saja. Budaya menyulut petasan dan kembang api mungkin menjadi cerita abadi bagi anak-anak. Termasuk juga dengan saling menjahili antar sesama teman . Dulu, kalau imam sudah berdiri dan memulai shalat, saya dan teman-teman tidak langsung ikutan berdiri, tapi masih duduk nyantai. Setelah makmum lainnya bilang Aamiin, barulah kita cepat-cepat berdiri. Belum lagi, ada yang suka usil dengan membuat gerakan-gerakan lucu pada saat shalat. Yang tidak pernah ketinggalan setelah shalat tarawih selesai, semua pada berebut Jaburan, tengil banget ya ..... he he he. Tapi hal itu hanya berlaku saat saya berumur 5 sampai 6 tahun. Setelah naik kelas dua SD, kayaknya udah mulai anteng deh. Dan saat menginjak ABG ( pertengahan SMP ), lain lagi ceritanya. Sudah mulai mengenal cimon alias cinta monyet. Biasanya cewek rajin shalat tarawih karena ada cowok cakep di masjid. Dan sebaliknya, cowok rajin tarawih karena ada cewek gebetannya.  Jadinya salah niat tuh, mana bisa dapet pahala .... LoL.

Ya, Ramadan, telah kembali dan selalu akan kembali selama kita masih hidup. Dari tahun ke tahun pasti ada cerita yang berbeda. Bulan yang akan selalu dirindukan. Dan selama kita masih diberi kesempatan, Allah SWT selalu memberi ampunan bagi semua manusia. Meluruskan niat beribadah dengan berserah diri pada-Nya dengan jujur guna meraih ketakwaan yang sesungguhnya. 

Semoga menjadi Ramadan yang terindah bagi saya, keluarga saya, Anda semua dan tentunya, juga untuk seseorang di sana, yang selalu ada di hati dan pikiran saya, my Honey, Ramadan Kareem, Yaa Habibi ...... Dalam kesempatan ini, saya sekaligus mohon maaf lahir dan batin kalau ada kesalahan dalam perbuatan, penulisan atau kesalahan dalam kata-kata. Marhaban Yaa Ramadan .....


Sunday, 8 June 2014

JODOH DAN PERNIKAHAN

Jika aku bukan jalanmu ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu …..

Allah telah menciptakan cinta diantara manusia dan menciptakan pasangan atasnya. Namun, selama hidupnya bukankah ada manusia yang pernah mengalami berkali-kali jatuh cinta ? Memang tidak semua orang merasakannya namun hampir 99,9 % pastilah pernah jatuh cinta lebih dari satu kali. Jika jodoh adalah pasangan yang kita nikahi bagaimana dengan pasangan yang menikah lebih dari sekali, entah itu dengan poligami, cerai atau salah satu pasangan meninggal kemudian menikah lagi atau orang yang selama hidupnya tidak menikah, dimanakah jodohnya ? Lalu bagaimana dengan manusia yang sering mempermainkan lembaga pernikahan ? Manusia yang hobinya kawin-cerai, kawin-cerai. Seperti barang mainan yang bisa dibeli dan sesudah itu dibuang. Inikah definisi jodoh ? Semakin saya berpikir mencoba memecahkan permasalahan tentang konsep jodoh, semakin saya dibuat bingung, bahasa kerennya galau …… Lol.

Apakah jodoh itu takdir atau pilihan? Apakah ukuran jarak ini rahasia Tuhan juga? Lalu dimana jodoh saya?

Tidak ada yang tahu jawabannya, namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh SWNS.com memberi sedikit gambaran jarak pemisah itu. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 2.000 wanita dan pria dewasa, ditemukan bahwa rata-rata jarak seseorang dan jodohnya adalah 64 km. Gambaran yang kurang jitu. Tapi ada benarnya juga, lho. Teman kuliah saya bertemu suaminya ( warga Swedia ) lewat internet, yang pasti jarak jutaan mil jadi nggak sampai 64 km, bahkan 1 meter pun juga nggak ada ..… he he he. Kalau sudah jodoh, tidak akan ke mana. Namanya jodoh mungkin akan selalu dipertemukan dengan cara apapun. Saudara jauh saya bertemu dengan pria Oman saat menjalani pelatihan di Jakarta, melalui pertemuan yang singkat ( hanya dua minggu) dan langsung menikah. Padahal, semua juga tahu kalau dia sudah punya pacar. Ini takdir ? pilihan ? nekat ? atau ada faktor yang lain ?

Jika jodoh itu takdir maka sebesar apapun saat ini kita mencintai seseorang dan memiliki hubungan serius dengan pasangan, kalau memang dia tidak pernah ditakdirkan sebagai jodoh kita maka pada akhirnya perpisahan yang kita jumpai. Sebaliknya, sebesar apapun kita membenci seseorang dan menghindarinya namun kalau dia adalah jodoh kita maka suatu saat kita akan disatukan juga dalam ikatan suci pernikahan. Hanya persoalan waktu aja. Tetapi bukan berarti kalau sudah jodoh, ke depannya tak akan ada masalah dalam hubungan lho. Sekarang ini, sebagian besar orang terlalu percaya dan menaruh harapan tinggi akan 'si jodoh'. Beranggapan kalau sudah jodoh maka semua perjalanan asmara akan lempeng-lempeng saja, tak ada masalah dan berjalan mulus. Trus, enak-enakan gitu, nggak mau usaha. Bangga kalau ada cewek atau cowok yang ngejar-ngejar. Padahal semua itu hanya mitos. Perlu usaha dari kedua belah pihak, nggak cuma sepihak aja.

Perbincangan soal jodoh itu seringkali tiba-tiba mencuat menjadi salah satu topik seru antara saya dan sepupu saya yang masih sama-sama single. Dan kami masing-masing memiliki opini yang berbeda, sepupu saya yang pendalaman agamanya lebih baik dari pada saya ( tapi sering galau karena cinta …. He he he ) berpendapat bahwa jodoh itu adalah pilihan. Dia memang tidak menolak perjodohan atau istilahnya ta’aruf, tapi dia milih, dengan siapa dia dijodohkan. Kalau dia tidak ada rasa atau si cowok tidak sesuai dengan daftar kriterianya, langsung coret.

Ade, kan temennya banyak, pernah suka sama cowok kan ? Pertanyaan yang muncul tiba-tiba. Aneh bin ajaib justru karena pertanyaan sederhana itu saya jadi berpikir, selama ini saya hanya menerima dan bukan memulai. Karena sifat menerima itulah, mungkin saya lebih mudah dipaksa daripada sepupu saya. Itu sebabnya, saya tidak pernah curhat sama dia tentang perasaan, soalnya dia akan balik ngomelin saya, kan Ade udah nerima, ya terima aja jelek-jeleknya …. Hadeehhh. Bukan sok kecakepan, ke pede-an atau apa gitu. Tapi jujur, pada dasarnya saya memang bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta. Saya mudah bergaul dan berinteraksi dengan orang lain alias tidak rasis, bisa menerima kekurangan orang lain sebagai sesuatu yang wajar. Prosentase teman-teman pria saya juga lebih banyak daripada sepupu saya. Dia berteman dengan sedikit pria tapi sering jatuh cinta kalau bertemu cowok tipe-nya. Mungkin karena sepupu saya orang yang kalem tapi ekspresif dan saya termasuk tipe manusia “ kalau tidak ditabok duluan, nggak bakalan balas nabok “. Kalau tidak ditanya duluan, nggak bakalan ngomong ( terutama dengan orang yang baru kenal ). Betah ngobrol sekaligus juga betah diam. Tapi bagi saya pribadi, ada perbedaan besar antara suka dengan cinta. Kita bisa saja suka saat ada cowok yang mungkin tipe dambaan kita yang kita temui saat kita jalan-jalan, di Mall atau dimana saja ( siapa sih yang nggak suka liat cowok cakep ….. he he he ). Tapi itu bukan cinta. Perlu perasaan yang lebih dalam kalau menyangkut soal cinta. Kalau jadi temen, ya temen aja gitu loh .... 

Tidak dipungkiri kalau di era millenium saat ini banyak orang dengan mudahnya bergonta-ganti pasangan, suka dugem, dan free sex. Kehidupan bebas yang menurut saya malah menyulitkan diri mereka sendiri. Orang juga cenderung ( terutama kaum pria ) dengan mudah mengatakan, I like you, I love you, I miss you, I need you, semudah mengucapkan kata Halo, Selamat pagi, pada setiap orang yang baru ditemuinya. Dan sepertinya, pria di jaman sekarang ini lebih suka cewek yang gemerlap, yang mau di ajak have fun sesaat. Pacaran gaya Brazil, Lu suka, Gue mau, abis gitu-gitu besok kalau ketemu pura-pura nggak tahu. Setelah itu saya terus berpikir tentang konsep jodoh dan apa yang telah saya jalani selama ini. Ngenes ? pastilah. Seperti lagu-nya Maia, telah habis air mata dan segenap kata-kata yang telah kucurahkan …. Haruskah aku berlari sampai ke ujung dunia untuk mencarinya ….

“ Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Termasuk “ kebetulan-kebetulan yang menakjubkan. ”

( Tere Liye, novel “kau, aku & sepucuk angpau merah )

Darwis memang ahli nohok perasaan ….. he he he. Kebetulan yang menakjubkan. Pengen banget dapet kesempatan kayak gitu, seperti teman kuliah saya, yang sampai sekarang awet dengan suami Swedia-nya. Lucu banget waktu ngedengerin orang lain ( terutama teman-teman dan saudara saya ) mengenang masa lalunya sebelum ia memiliki pasangan. Mereka bercerita tentang kriteria pasangan yang diinginkannya saat menikah nanti. Yang aneh, rata-rata dari mereka pada akhirnya menikah dengan orang yang sama sekali tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan, bahkan bertolak belakang. Ada juga yang menikah dengan musuh bebuyutannya saat masih kuliah ….. ahhhaaayyy.

Tidak dapat dipungkiri, kita memiliki gambar di alam bawah sadar kita tentang pasangan idaman. Pengalaman hidup, latar belakang keluarga, ilmu yang diserap, tetangga yang diamati, gosip yang didengar, semuanya membentuk gambar tentang bagaimana seharusnya pasangan itu. Maka, hampir dapat dipastikan setiap individu di dunia ini memiliki persepsi yang berbeda-beda. Seperti sepupu saya, dia suka banget sama pembalap ( PEMuda berBAdan geLAP ……. He he he ) dan bersuku Jawa. Nggak bakalan mau kalau nggak sama Mas Jawa. Kalau saya sih, asalkan berkulit bersih dan tidak pendek. Soalnya dari saya masih bau kencur dan sampai bau tanah saat ini yang ngedeketin saya cowok yang kayak gitu semua ……..  Lol

Pertanyaannya, apakah gambaran pasangan ideal yang kita pilih itu benar-benar sesuatu yang terbaik buat kita? 

Ketika seseorang mengatakan jatuh cinta pada seseorang yang lain, jangan-jangan yang jatuh cinta adalah matanya karena melihat sesuatu yang menarik mata di diri seseorang tersebut. Atau jangan-jangan yang jatuh cinta adalah telinganya karena mendengar buaian kata dari seseorang tersebut. Bisa jadi pula yang jatuh cinta adalah logikanya karena semua hal logis yang dibangun tentang pasangan ideal ada di seseorang tersebut. Atau, mungkin yang jatuh cinta adalah perasaannya ? 

Sejatinya, bicara jodoh adalah bicara hati. Hati disini bukan sekedar Heart, tetapi Qolb. Kita sering mendengar ungkapan, “ listen to your heart and follow your small inner voice ”, karena dari hatilah muncul suara terjernih dan termurni tentang segala yang terbaik buat kita. Kok bisa begitu ya ? karena melalui hatilah Tuhan berbicara dengan kita.

Seperti cerita saat Adam bertemu dengan Hawa. Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam ( berarti Adam mau enaknya sendiri dong, nggak fair neh ….. Lol ). Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya. 

Terus, bagaimana dengan kita yang jumlah penduduk bumi sudah sekian milyar banyaknya ? Bagaimana kita bisa tahu bahwa dialah tulang rusuk kita (bagi laki-laki) atau dialah pemilik tulang rusuk ini (bagi perempuan) ? 

Memang tidak salah jika cinta harus memilih, namun bukan berarti mencari yang super duper perfect, cukup dengan mengenal bagaimana  personality dan ibadah-nya? Bukan acuan utama dengan profesi yang sedang ia geluti, atau berapa jumlah nominal kekayaan yang dimilikinya ? Cukup dia bertanggung jawab dengan apa yang sudah “ diamanahkan “ oleh ALLAH, SWT, yaitu menjaga soul mate-nya dan memegang teguh komitmen yang telah dibuatnya.

Mungkin, jika salah pilih presiden, kalau selama 5 tahun kedepan keadaan semakin terpuruk, kita akan menyesal. Tapi kalau salah memilih jodoh, seumur hidup akan meninggalkan luka abadi yang tidak ada obatnya. Semua urusan manusia di dunia bisa direncanakan berdasarkan manajemen dan perhitungan yang matang. Tapi jodoh tidak seperti itu. Jodoh bukanlah matematika atau neraca rugi laba. Meskipun kelihatannya sudah di depan mata, kalau Allah tidak menggariskan berjodoh, ada saja cara untuk menggagalkannya. Sebaliknya, betapapun tidak masuk akalnya, kalau sudah berjodoh, segala cara akan menjadi mungkin. Jodoh itu bagaikan barang hilang yang belum ditemukan, kalau dicari terus malah tidak ketemu dan saat kita tidak mencari, malah datang dengan sendirinya.

Memang, Allah sepertinya suka bercanda, ya. Kadang kita sudah berusaha mengelilingi bumi untuk mencari jodoh kita, eh nggak tahunya ternyata ketemu di dekat rumah, tetangga sendiri. Kadang juga ada yang saling benci di awal, ternyata ending-nya saling jatuh cinta dan menikah. Kakak sepupu saya juga punya story yang nggak kalah uniknya, pacaran sampai 11 tahun, setelah itu baru menikah. Kalau cerita yang kayak gini nih, nggak bakalan mau dah, ogah banget ngejalaninnya …… ntar ane keburu mampus lagi …. He he he.   

Keresahan itu akan terus datang menghantui, apa lagi jika umur sudah mencapai angka kepala tiga ( termasuk saya …. Hiks ) dan akan berlanjut ke level empat atau lima …. Ih, jangan sampai deh.  Belum dapat jodoh bukan berarti ada yang salah dengan diri kita. Saya juga seringkali bingung, apa sih penyebabnya ? seberapa banyak dosa yang saya lakukan ? Sebesar apa kekhilafan saya ? Apalagi kalau kita sudah berusaha dengan maksimal, menguras energi dan pikiran. Kuping mulai panas ketika ada yang bertanya,” kapan nikah ?”. Pertanyaan klasik dan itu-itu aja. Teror suruhan untuk cepat-cepat menikah. Memangnya nikah itu lomba lari ? Yang finish lebih dulu yang menang, yang terakhir, kalah. Akibatnya, sering kita merasa capek dengan urusan jodoh ini. Tired mind, body and soul ….

Bersyukurlah bagi yang sudah mendapatkan pasangan dan mendapatkan orang yang benar-benar baik karena betapa banyak orang yang menginginkannya namun tak kunjung datang. Banyak orang yang sebenarnya beruntung, mendapatkan seseorang yang baik tapi malah menyia-nyiakan dan mempermainkannya. Menganggap kalau feeling is just a feeling, yang dengan mudahnya bisa berubah-rubah. Bersyukurlah dengan nikmat berpasangan, karena Allah memberikannya sebagai penawar atas kerasnya kehidupan. Suami menjadi simbol kekuatan dan perlindungan bagi istri. Sang istri pun harus menjadi Garwo, sigaraning nyowo, penyejuk hati suaminya, menjadi teman dalam suka dan duka. 

Kata jodoh biasanya menjadi menakutkan bagi kaum wanita. Karena kaum lelaki seringkali terlalu njlimet dan sulit. Perempuan sering dituntut untuk sempurna dan tidak boleh salah. Padahal banyak laki-laki yang tidak sempurna dan berpikir hanya kaum mereka yang boleh melakukan seribu kesalahan. Kalau kita mau belajar dari pengalaman orang lain ( kata temen saya nih ). Pada dasarnya jodoh sederhana kalau kita tidak terlalu membuat ketakutan-ketakutan sendiri. Karena memang jodoh itu sebenarnya mudah dan sangat sederhana. Pinang aku dengan Bismillah …….. nggak sulit kan ... Lol.

Dan tentu saja semoga saya dan Anda semua yang masih sendirian segera mendapatkan jodoh yang kita inginkan , membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah …….. Aamiin.  Dan semoga saja kita tidak lagi membuang waktu dengan hubungan tanpa status yang memang bikin ngenes. Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman saya, saudara  dan saya sendiri ( sedih nih ….. hiks ), single man and single woman yang sedang memasuki salah satu tahap penting dalam kehidupan manusia, kehidupan mencari pasangan jiwa alias kehidupan galau ………. He he he. Semoga bermanfaat. 


Thursday, 5 June 2014

PERILAKU MANUSIA HEMAT DAN MANUSIA PELIT


Setiap orang terlahir dengan kepribadiannya masing-masing. Sifat dan perilaku manusia yang satu dengan manusia yang lain tidaklah sama. Ada yang berperilaku baik dan ada juga yang berperangai buruk. Sifat bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Kadang manusia itu mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, ada orang yang tadinya baik berubah menjadi jahat. Percaya atau tidak, semakin lama dia tinggal di suatu tempat atau berhubungan dengan orang lain, semakin besar pengaruh yang masuk ke diri seseorang itu dan bisa membawa perubahan dalam dirinya.Tapi ada juga sifat atau perilaku dari seseorang yang memang tidak bisa dirubah, apalagi kalau ada keturunan dan bawaan lahir …. He he he. 

Ketika bergaul dengan manusia, berarti kita tidak sedang bergaul dengan logika, namun dengan makhluk yang memiliki emosi, makhluk yang tetap bertahan dengan prasangka, kebanggaan dan kesombongan. Tapi semua itu tergantung dengan cara kita menyesuaikan diri. Dari penyesuaian itulah yang bisa membuat sesuatu yang paling dalam dari diri kita berubah sedikit demi sedikit. Tapi kita harus bisa memilih dan memilah perubahan mana yang baik dan mana yang tidak baik buat kita.

Mungkin kita sering melihat entah di TV atau melihatnya langsung dari lingkungan disekitar kita. Dan kita mungkin terheran-heran bila melihat ada orang yang pelit, bakhil dan kikirnya minta ampun. Dan otomatis, kita akan berusaha untuk menjauhi orang dengan sifat seperti itu. Dulu, saat saya masih kuliah, ada pepatah yang di plesetkan yang sering terlontar diantara teman-teman saya. Rajin pangkal pandai, hemat dibenci teman … Lol. 

Berlaku hemat seringkali dikesankan hidup menderita dan sengsara, dan orangnya lazim di juluki si pelit bin bakhil. Sebaliknya, bersikap boros di anggap memiliki hidup yang bahagia dan menyenangkan, hingga orangnya disebut royal. Kebanyakan orang sering terjebak dengan kata hemat padahal pelit atau pelit bertopeng hemat. 

Perlu diingat, memakai uang itu artinya memakai otak dan juga emosi lho. Hemat adalah berhati-hati dalam membelanjakan uang alias tidak boros. Hemat berarti ekonomis, itu betul. Intinya sederhana atau mewah tidak terletak pada mahalnya harga suatu barang, namun pada siapa pemiliknya dan apa kebutuhannya. Sederhana tidak berarti harus mengenakan pakaian yang lusuh dan compang-camping, memakai HP yang sudah sering nge-drop ( gue banget neh .... he he he ) atau mengendarai mobil yang sering mogok. Sepanjang kita mempunyai dana maka tidak terlarang untuk membeli sesuatu yang memang kita perlukan. 

Mengenai orang hemat bisa jadi dari luar mirip dengan manusia pelit karena sikapnya " money doesn't coming out of the blue " alias duit tidak jatuh begitu saja, mak teplok plok dari langit. Si hemat secara penuh kesadaran mengukur pengeluarannya terhadap peningkatan kualitas hidup dan kebahagiaan. Si hemat tidak akan menghabiskan uang untuk gengsi-gengsian atau ikut-ikutan tapi dia tidak ragu untuk mengeluarkan uang yang membuat dia bahagia atau meningkatkan kualitas hidup. Dalam hal ini biasanya menyangkut orang-orang tercinta, teman-teman sejati yang berarti baginya, untuk beramal, zakat dan juga untuk hobinya.

Saya pribadi sering bertemu dengan orang yang benar-benar pelit, bakhil dan kikir-nya minta ampun. Sampai-sampai, bapak dan ibu saya jengkel kalau saya pergi dengan orang itu, jangan sampai punya urusan sama orang-orang itu. Pun kalau mereka bertanya atau minta tolong, ora usah digagas ( ekstrem banget …. he he he ). Maklum-lah, seperti kebanyakan sifat manusia pelit pada umumnya, mereka suka memanfaatkan demi keuntungan mereka pribadi. Kelihatannya mereka memberi sesuatu, tapi kalau ngeruk, bisa sampai seribu kali lipat pemberiannya. Saya juga tidak habis pikir, apa sih yang sebenarnya di dalam pikiran si Pelit tentang uang ? Tapi dugaan saya, si Pelit menabung uang semata-mata hanya untuk ditabung tanpa tujuan lebih jauh, ketakutan akan kekurangan yang berlebihan alias paranoid. Mereka menggengam uang dan harta bedanya erat-erat karena percaya itu semua bisa memberi dia “ keamanan “.

Perilaku ini terjadi karena nafsu negatif seperti ingin berkuasa, mementingkan diri sendiri, ingin lebih mendominasi sehingga menutup akal dan hatinya. Orang yang bakhil itu sangat individual dan menilai kehidupan hanya dari sisi materi. Biasanya mereka juga suka pamer, menonjol-nonjolkan diri dan sifat hasad-nya tinggi. Kalau beramal sedikit, pasti ditunjuk-tunjukkan biar orang lain tahu. Hmmm …. padahal, kalau tangan kanan memberi, sebaiknya tangan kiri tidak perlu tahu. Kata nenek saya lho .... he he he.

Dalam kata pelit terkandung makna stagnant alias mandeg, tak ada progress, ibarat sebuah pohon ia tak dapat memberi manfaat apapun bagi orang yang ada disekitarnya. Kalau menurut saya sih manusia bakhil, pelit dan kikir, malahan jauh dari kata ekonomis. Dan biasanya mereka lebih sering tertipu. Maksudnya ngirit tapi malah ngorot-orot ….. Lol.

Sebenarnya ada lagi yang lebih buruk dari bakhil, orang Solo sering menyebutnya Pokil . Apa sih Pokil itu ? Pokil adalah pelit, medhit, cethil, ngguthil, bakhil, selalu penuh perhitungan, kalau ngasih satu biji dia mesti ngeruk balik 1000 biji, curang dan licik. Orang pokil biasanya otaknya bebal, sombong, sok pinter sendiri dan sok kaya karena yang di dalam pikiran orang pokil itu dia bukan pelit, tapi hemat, padahal antara pelit dan hemat jelas beda banget.

Saya sendiri juga sering membandingkan harga barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebagai pengusaha kuliner, nggak mau dong kalau sampai rugi ….. he he he. Saya juga demen banget dengan barang-barang diskonan, makanan yang murah, buku-buku lama, layanan kesehatan yang terjangkau dan transportasi yang irit. Itu bukan berarti saya tidak punya barang-barang mahal. Saya membeli barang, tentunya menyesuaikan situasi, kondisi dan kebutuhan. Perempuan dimanapun pasti suka berhemat, apalagi kalau mereka adalah ibu-ibu. Yang lebih penting lagi, saya tahu “ business is business “ tapi saya juga tahu pasti, kapan saya harus berlaku profesional dan kapan saya harus beramal. Innamal a’malu bin niyat.

Tapi kalau orang pokil lain lagi, mereka maunya barang bagus dengan harga yang jauh dibawah standart. Mereka akan mengembalikan lagi barang tersebut kalau dirasa kurang memuaskan mereka ( tentunya sambil ngomel-ngomel karena merasa tertipu .... rasain lu ! Lol ). Juga dengan pelayanan kesehatan, maunya tarif puskesmas tapi minta layanan kelas VVIP dan harus manjur. Pun kalau diminta untuk beramal, mereka pasti beralasan mesti pakai prosedur inilah-itulah dan kalaupun mereka mau menyumbang, biasanya bukan berasal dari hatinya, tapi karena sifat riya' biar orang lain mengira kalau dia dermawan ..... Amit-amit dah, Na’udzubillah min dzalik. 

Buya Hamka dalam bukunya LEMBAGA BUDI menyatakan, Jangan serupakan diantara yang Hemat dan yang Bakhil, karena orang yang hemat memperhitungkan perbelanjaannya, uang masuk dan uang keluar dengan tujuan apabila perlu dapat membelanjakan harta itu menurut sepatutnya. Tetapi orang yang bakhil mengumpulkan harta dengan tujuan semata-mata menumpuk. Orang yang hemat mengatur hartanya, orang yang bakhil diatur oleh hartanya….. summa na’udzubillah. 

Semoga bermanfaat bagi kita semua terutama buat diri saya sendiri agar terhindar dari sifat yang tidak terpuji itu ……. Aamiin.